Cintaku Adalah Kamu

Cintaku Adalah Kamu
Episode 100 -Rani


"Eh, lihat deh, itu bukannya Bu Tyas ya? kok dia bisa nggak tahu malu gitu ya?" bisik seorang anak kepada temannya.


Sesaat selesai dari ruang kepala sekolah, Tyas akhirnya berjalan ke arah ruang guru. Di perjalanan lorong-lorong sangat sepi, mengingat bel masuk memang akan segera berbunyi. Namun, masih ada beberapa anak yang memang masih duduk-duduk di luar, dari antara mereka tak sedikit yang mempergunjingkan Tyas saat dirinya lewat di depan mereka. Mereka memang berbisik-bisik namun suara mereka sedikit keras sampai dapat terdengar dengan jelas di telinga Tyas.


Banyak sudah hinaan dan cemoohan yang mereka bisikan tentangnya. Tatapan anak-anak itu juga tajam, dan langsung melenggang pergi di saat Tyas lewat di depan mereka.


Huufft ...


Dalam hal ini dia hanya bisa bersabar, toh, ini sudah menjadi konsekuensi yang harus diterimanya karena jadian dengan muridnya sendiri. Terlebih Kaesang adalah idola semua orang. Sudah pasti ujiannya ke depannya tidak akan mudah.


......................


Sesampainya di kelas, Kaesang berjalan ke arah bangkungnya dan duduk seperti biasa. Dia dapat melihat tatapan tak suka yang dilontarkan beberapa anak-anak di sana yang ditujukan untuknya. Namun, karena dia sudah terbiasa sendirian, dia pun tak terlalu mempermasalahkan hal itu. Selama anak-anak atau siapapun tak mengusik ketenangannya ataupun Tyas, dia tak akan berbuat apapun.


Huufft ...


Helaan nafas kasar pun ia lakukan sebelum seorang guru masuk ke kelas dan pelajaran pun dimulai. Ngomong-ngomong sekarang adalah mata pelajaran matematika, pelajaran membosankan namun sangat disukai Kaesang.


......................


"Eh, kalian percaya nggak sih kalau Bu Tyas sama Kaesang jadian?" seorang anak tiba-tiba bertanya pada salah seorang temannya di saat tanpa sengaja Zeya lewat di samping mereka.


"Percaya aja sih, orang ada buktinya, dan tadi kan Kaesang juga sempat ngancem kita kalau kita sampai berbuat sesuatu sama Bu Tyas atau tetap mempermasalahkan hal itu kita bakal di DO." balas anak lainnya.


Sementara Zeya yang sempat mendengar itu sontak terkejut dan menghentikan langkahnya. Dia tetap diam di tempatnya seraya mendengarkan obrolan anak-anak tersebut.


Dari yang Zeya dengar, Kaesang memang jadian dengan guru bernama Tyas itu. Dan dari yang diucapkan anak-anak tadi, dia sempat mendengar bahwa Bu Tyaslah yang menggoda Kaesang sampai Kaesang mau jadian dengannya. Semua anak-anak sontak menyalahkan Bu Tyas, dan berkata yang tidak tidak tentangnya.


Dan yang jadi pertanyaan Zeya sekarang, memang benar Kaesang jadian dengan Bu Tyas? kok dirinya bisa tidak tahu?


Lalu karena anak-anak yang berbicara tadi sudah pada pergi, Zeya pun turut pergi. Dia berjalan ke arah kelasnya dengan langkah bingung dan bertanya-tanya. Apakah baru saja terjadi sebuah hal besar namun dirinya tidak tahu?


......................


Kemarin hari ...


Sebuah tangisan terus menggema di sepanjang jalan sepi dan gelap itu. Di bawah cahaya remang-remang duduklah seorang gadis kecil yang kisaran berumur 8 tahun, berambut lurus sebahu dengan mengenakan gaun putih bermotif bunga tanpa mengenakan sepatu. Gadis itu terus menangis sepanjang malam tanpa mempedulikan tatapan aneh orang-orang yang lewat di depannya. Dia tak henti-hentinya menangis dan meratapi nasibnya yang tinggal sebatang kara. Ayahnya sudah meninggal 2 tahun yang lalu karena serangan jantung, adiknya juga meninggal karena ketabrak motor saat sedang bermain. Sementara ibunya, dia mengatakan akan merantau ke kota dan bekerja di sana. Namun, sampai detik ini pun sang ibu tak ada kabar sama sekali. Bahkan, sampai adiknya meninggal pun dan rumah mereka disita karena hutang-hutang sang ayah yang tak dapat terbayarkan ibunya itu sama sekali tidak tahu.


Anak kecil bernama Rani tersebut terus-terusan menangis di sepanjang jalan sambil membawa baju-bajunya. Dia tak ada uang sama sekali, semua harta bendanya telah dijual untuk membayarkan hutang sang ayah yang sangat banyak itu. Anak kecil berumur 8 tahun itu pun hanya bisa luntang-lantung di jalan, dia bingung harus melakukan apa, saat akan berniat mencari kerja, tak seorangpun mau menerimanya karena dia masih sangat kecil. Namun, juga tak ada seorangpun yang bersimpati padanya atas musibah yang telah menimpanya. Anak itu terus meratapi nasibnya dan menangis. Lalu berbekal sebuah alamat anak kecil itu pun akhirnya memutuskan untuk mendatangi tempat sang ibu bekerja.


Tempatnya sangat jauh, namun anak itu tak menyerah, dia mencari tumpangan sana-sini lalu tetap melanjutkan langkahnya untuk menemui sang ibu.


Sepanjang jalan banyak orang menatap iba kepadanya, namun tak seorangpun mau membantunya. Anak itu kelaparan namun dia tetap bersemangat untuk mencari sang ibu.


"Ibu, dimana Bu, Rani kangen Bu. Rani sendirian." ucap Rani disela-sela tangisnya.


Di saat dia tengah berjalan di kota besar itu sendirian guna mencari alamat sang ibu, tanpa diduga dari arah berlawanan lewatlah segerombolan laki-laki dewasa dan menghentikan langkah Rani begitu saja. Salah satu dari mereka merebut tas Rani dengan mudahnya lalu pergi begitu saja.


Dari situ Rani pun ambruk, dia kembali menangis untuk kesekian kalinya. jika tas itu diambil orang bagaimana dia bisa menemukan sang ibu. selain di dalamnya ada baju-bajunya di sana juga ada foto beserta alamat sang ibu.


Lalu Rani pun kembali bangkit, dan berjalan tak tentu arah. sekarang dia tak tahu harus berjalan ke mana, semua yang ia punya telah diambil orang. dia tak dapat berbuat apapun karena ia masih sangat kecil.


"Aku harus kemana? Ibu, Rani kangen. Ibu dimana?" ucap gadis itu sembari menangis.


Lalu dari kejauhan terlihatlah seorang perempuan yang menurut Rani sangat mirip dengan ibunya. Lalu karena sudah merasa putus asa, Rani pun berlari ke arah perempuan itu dan memeluknya dari depan.


"Bu, ini Rani Bu. Ibu kemana aja Bu, Rani kangen." tangis Rani pun pecah seiring dipeluknya perempuan yang menurutnya sangat mirip ibunya itu.


Namun, perempuan itu sangat terkejut setelah melihat seorang anak berlari sembari menangis dan memeluknya begitu saja.


Perempuan itu adalah Tyas. dia yang saat itu baru pulang dari suatu tempat, dan sedang menunggu taksi di suatu jalan, begitu terkejut saat mengetahui ada seorang anak yang memanggilnya ibu dan langsung memeluknya. apalagi anak itu memeluknya sambil menangis.


Tyas iba saat melihat anak itu, penampilannya sangat kacau ditambah lagi matanya bengkak karena terlalu lama menangis. Akhirnya Tyas pun berjongkok dan menyamakan tingginya dengan anak itu. Dia tersenyum ke arah anak itu dan memegang kedua pundaknya.


"Maaf, Tante bukan ibunya adek. Nama Tante Tyas, kalau nama adek siapa?" tanya Tyas lembut.


Karena Rani mengetahui jika perempuan yang dipeluknya itu bukanlah ibunya, dia pun berniat akan pergi sebelum akhirnya Tyas mencekal lengannya begitu saja.


Rani yang ketakutan akhirnya lagi-lagi hanya bisa menangis, sebelum Tyas meraih tubuh kecil Rani dan memeluknya dengan lembut.


"Cup-cup, anak cantik nggak boleh nangis. Ngomong-ngomong adik belum jawab pertanyaan tante loh, nama adik siapa? dan Kenapa adik bisa berada di sini? sendirian lagi." tanya Tyas seraya melepas pelukannya.


"Aku Rani, dan aku sedang mencari ibu aku." jawab polos Rani.


"Apa ibunya adik mirip sama tante?" tanya Tyas lagi.


Dan Rani hanya bisa menganggukkan kepalanya. karena saat itu hari sudah menjelang sore, Tyas yang tak tega harus meninggalkan anak sekecil Rani di jalan itu sendirian. Takut jika terjadi hal-hal buruk padanya, maka dia pun menawarkan Rani untuk ikut dengannya. Awalnya Rani menolak karena ia merasa Tyas adalah orang asing. Namun, Tyas meyakinkan Rani jika dirinya adalah orang baik. Dia berjanji akan membantu Rani untuk menemukan ibunya. Dan mendengar ucapan Tyas yang terdengar tulus, Rani pun akhirnya mengiyakan dan bersedia ikut dengan Tyas.


"Sekarang bagaimana aku akan membantu Rani mencari ibunya, sedangkan ibunya saja aku tidak tahu?" batin Tyas seraya menggandeng Rani berjalan ke arah sebuah taksi yang telah diberhentikannya.


Bersambung...