Cintaku Adalah Kamu

Cintaku Adalah Kamu
Episode 109 -Surat dari Zaky


Huufft ...


"Sebenarnya, kamu itu suka atau cuma simpati doang sih Kae, sama aku? berkali kali aku mencoba meyakinkan diriku sendiri, kalau apa yang kulakukan selama ini benar, dan perasaanku juga tidak salah. Aku selalu menganggap jika kamu juga mencintaiku, walau kenyataannya tidak. Kae, sebenarnya aku lelah melakukan semua ini. Aku lelah dan ingin pergi dari perasaan cinta tak berbalas ini. Namun, semakin aku berusaha melepasnya, rasa ini akan semakin erat menjeratku. Membuatku tersiksa hingga aku tak ada pilihan lain, selain berusaha mendapatkan cintamu. Mengapa, takdir menciptakan perasaan seperti ini padaku? Aku lelah, aku juga ingin bahagia." batin Zefa yang saat itu tengah duduk termenung seraya menatap lurus kedepan. Tatapannya mengarah pada ranjang sang ibu yang saat itu masih terlelap.


......................


Sesampainya Tyas di rumahnya ...


Tyas memang sengaja meminta Kaesang untuk menurunkannya di depan toko kelontong tak jauh dari rumahnya. Selain karena dia ingin membeli beberapa kebutuhannya, dia rencananya ingin membuatkan makanan enak untuk Kaesang. Sembari memikirkan makanan apa yang hendak dibuatnya untuk Kaesang, Tyas pun berbasa basi sebentar dengan Bu Mina, ibu pemilik toko. Beliau selalu berhasil menanyakan sesuatu pada Tyas dan membuatnya tak bisa untuk tidak tertawa.


.........


Setelah selesai membeli apa yang memang ingin dibelinya. Tyas pun berjalan pulang seraya menenteng dua kantong belanjaannya. Dia berjalan dengan perasaan senang sambil tak henti hentinya tersenyum. Namun, sesampainya ia di jalan depan rumahnya, dia terkejut sesaat melihat seorang lelaki matang yang sudah lama tak dilihatnya ada berdiri di depan rumahnya. Lelaki itu sibuk memainkan hp nya sampai tak menyadari kedatangan Tyas.


Ekhem ...


Lelaki itu pun tersentak lalu menoleh kearah Tyas seraya tersenyum manis.


"Bu Tyas .. Bu Tyas habis belanja ya?" tanya lelaki itu.


"Iya pak, tadi habis pulang ngajar sekalian mampir warung buat beli kubutuhan. Ehm, pak Zaky sendiri, ada apa ya kemari? ada yang mau dibicarakan dengan saya?"


ZAKY, iya Zaky. Guru di tempat Tyas bekerja sekaligus orang yang begitu baik, dan selalu berusaha membantu Tyas. sudah sejak lama Tyas dekat dengan Zaky, namun baru kali inilah Tyas kembali berjumpa dengan lelaki itu. dia sudah sejak lama izin karena ada urusan pribadi yang entah apa itu.


Zaky terlihat ragu-ragu namun setelahnya ...


"Saya cuma mau memberikan ini untuk Bu Tyas."


Sebuah kado disodorkan Zaky pada Tyas yang hanya terbengong seraya menatap kearah sebuah kotak bersampul Teddy bear coklat yang Zaky sodorkan.


"Buat?" tanya Tyas bingung namun tetap menerima kado tersebut.


Zaky pun tersenyum.


"Saya pamit ya Bu, permisi."


Setelahnya Zaky benar-benar pamit. Dia beranjak menaiki motornya kembali lalu melaju pergi meninggalkan Tyas yang masih terpaku di tempatnya.


......................


"Jadi, dia beneran ibunya Rani?" ucap Kaesang seraya menelpon seseorang dengan muka tegangnya.


^^^"....."^^^


"Lo, nggak bohongin gue kan? Masa iya dia ibunya Rani?" Kaesang terlihat geram seraya mengepalkan sebelah tangannya diatas kasur.


^^^"...."^^^


"Oke, thanks bro."


"Sekarang gue harus kasih tau Tyas dan minta dia buat bawa Rani besok ke tempat yang dikasih tau Exel tadi." ucap Kaesang sendiri seraya mengetik sesuatu di layar handphonenya.


......................


Sesampainya di dalam rumah Tyas pun segera duduk di sofa depan lalu membuka kotak pemberian dari pak Zaky tadi. Wajahnya terlihat bingung namun tangannya tetap mencoba membuka kotak tersebut.


Sebuah gantungan kunci Teddy bear serta sebuah bunga mawar kecil seketika menginterupsi penglihatannya. Diraihnya gantungan kunci Teddy bear tersebut lalu tersenyum padanya. Namun, saat pandangannya kembali ia arahkan pada kotak tadi, dia mengernyit sesaat melihat secarik kertas yang dilipat sedemikian rupa sehingga nampak rapi dan diletakkan di sebelah bunga mawar yang disebutkannya di awal. Kertas itu dilipat sedikit kecil sampai membuat Tyas tak menjumpainya. Namun, dia penasaran dan langsung meraih kertas itu.


Secarik kertas berwarna pink dengan tinta pulpen berwarna biru tua.


Sesaat membaca isinya, Tyas tak dapat mengeluarkan kata-katanya. Dia terdiam membisu sambil terus membaca surat itu sampai akhir. Isinya memang tidak banyak, hanya saja isinya penuh dengan emosi serta perasaan seseorang.


Sepanjang kata-kata yang pak Zaky tulis dengan begitu rapinya di kertas itu, ada satu kalimat yang berhasil membuat Tyas terdiam dan sontak membelalakkan matanya lebar.


"Maaf, jika selama ini saya sudah mencintai Bu Tyas tanpa izin, dan terus saja berharap bisa memiliki ibu seutuhnya."


Apa?? Pak Zaky mencintaiku? Kenapa? Apa yang spesial dariku sampai membuat lelaki seperti pak Zaky menyukaiku? begitulah pikir Tyas selama dia membaca surat dari Zaky.


Namun, Tyas kembali terkejut sesaat dia membaca kalimat terakhir di surat yang Zaky tulis.


"**Ini kali terakhir kita bertemu Bu, karena besok saya sudah harus terbang ke Singapura untuk belajar. Saya tidak ingin pergi dengan membawa beban, alhasil saya tulis semua ini dan berharap Bu Tyas membacanya. Terima kasih untuk waktunya, saya senang bisa mengenal Bu Tyas dan mencintai Bu Tyas. Anda tau Bu, selama ini saya menyimpan boneka Teddy ini dan berharap bisa memberikannya suatu saat pada Bu Tyas. Namun, apa daya, saya selalu disibukkan oleh pekerjaan sampai tak dapat memberikannya pada ibu. Bu Tyas, sampai ketemu lain waktu ya, terima kasih dan doain saya, agar saya dapat belajar dengan baik dan segera kembali."


From Zaky**


Hanya satu kata yang terbesit di kepala Tyas saat itu, yaitu dia senang mendengar Zaky menyukainya namun dia juga sedih mendengarnya akan pergi. Selain karena dia adalah pria yang baik dan selalu membantunya, Zaky juga tipe kakak laki-laki yang selama ini Tyas idam-idamkan.


"Belajar yang baik ya pak, saya yakin anda bisa." batin Tyas.


......................


Sesaat mobil Indra telah pergi dan melaju hingga beberapa meter sampai tak terlihat, Lisa pun bermaksud untuk masuk kedalam kontrakannya. Namun, sesaat pintu sudah terbuka dan dia bersiap untuk masuk, tiba-tiba saja lengannya di tahan oleh seseorang dari belakang. Mengetahui itu Lisa pun otomatis berhenti lalu membalikkan badannya.


"Agnes, kamu ngagetin Tante aja deh." ucap Lisa seraya melepaskan cekalan tangan Agnes dari tangannya.


Tatapan Agnes serasa aneh. Wajahnya lebih dingin dari biasanya. Mengapa? Ada apa ini? Apa ada sesuatu yang mengganggunya?


"Kenapa Tante? Kenapa?" tanya Agnes terdengar emosi.


Lisa pun sontak mengernyitkan keningnya.


"Kenapa Tante ingkarin janji Tante sendiri? kenapa Tante bisa suka dan hamil anak pria tua itu, hah?! apa Tante lupa sama apa yang membuat Tante sampai rela jauh-jauh kemari?" tanya gadis itu penuh emosi dan kekecewaan yang menyatu menjadi satu.


Lisa pun terdiam. Dia tak berani menjawab satupun pertanyaan ataupun makian yang Agnes lontarkan padanya.


"Maaf, Nes. Tapi Tante sudah membuat keputusan, kalau Tante akan tetap menikah dengan Indra dan melupakan semua dendam Tante itu." balas Lisa dalam dan serius.


Bersambung ...