Cintaku Adalah Kamu

Cintaku Adalah Kamu
Episode 95 -Menemui Tyas


Setelah menyelesaikan urusannya dengan orang timur tengah itu, Kaesang akhirnya mengemudikan mobilnya kearah jalan pulang. Sambil menyetir, ia pun berpikir, bagaimana jika ia menceritakan semuanya pada Tyas? toh, itu hanya Zefa kan, mengapa seorang Kaesang bisa takut padanya? Lagipun, Aron pasti sudah menyelesaikan pekerjaannya.


Namun, di tengah perjalanan tak sengaja ia melihat sesosok tak asing di depan sebuah minimarket yang di laluinya. Sesosok gadis yang berhasil mencuri hatinya untuk pertama kali, dan sesosok gadis yang meninggalkannya pergi tanpa kabar sampai hari ini.


Vierra ...


Dia gadis itu. Dia berdiri di depan minimarket sambil menenteng sekantong belanjaannya. Pakaian kasual, celana jeans putih, dan rambut coklat panjang terurai sebahu mengingatkan Kaesang pada kenangan saat bersama gadis itu sebelum akhirnya dia memilih pergi. Huufft, helaan nafas panjang keluar begitu saja dari rongga penciumannya.


Rasa-rasanya mengapa ia bisa berada di titik ini? Mengapa ia bisa mengenal Tyas, suka padanya, dan akhirnya masuk jebakan Zefa.


Huufft, akhirnya helaan nafas panjang keluar lagi dari rongga penciumannya.


"Kurasa aku memang harus menemui Tyas. Dia harus tau semuanya, walau aku tak tau seperti apa reaksinya nanti, tapi setidaknya aku sudah menceritakan semuanya." ucap Kaesang sendiri.


......................


Langkah kedua muda mudi itu seketika berhenti di depan sebuah ruang rawat. Mereka berhenti sejenak, saling pandang satu sama lain, sebelum akhirnya masuk dan menjumpai sang mama, papa, dan juga nenek mereka di atas ranjang dan tengah tak sadarkan diri.


"Ma, pa? Gimana keadaan nenek?" tanya Reynald sesaat ia dan Vierra sampai di dalam ruangan.


Melihat kedatangan kedua anaknya, membuat senyum di wajah kedua orang tua itu merekah seketika. Mereka sama sama berdiri lalu menghampiri kedua anaknya itu. Mereka memeluk keduanya, lalu menghujani mereka dengan ciuman.


"Reynald, Vierra, nenek kalian udah baik-baik saja kok, ini habis makan dan sekarang lagi tidur." jelas sang mama.


"Yaudah, kalian duduk-duduk dulu, istirahat. Kalian kan habis perjalanan jauh, dari London kan? pasti pegel banget duduk berjam jam di pesawat. Hm, ngomong-ngomong kalian udah makan belom?" tanya sang papa kemudian.


Vierra pun tersenyum lalu menjawab, "Kita udah makan kok pa."


Kedua anak itu pun berjalan kearah sebuah sofa hijau di samping kanan ranjang, dan mulai mendudukkan bokongnya di sana.


"Oh, beneran Rey?" tanya sang papa sembari menyusul mereka duduk di samping Reynald.


"Bener pa, sebelum otw ke sini kita udah sempet mampir resto buat makan, dan tadi, Vierra sempet mampir minimarket juga sih buat beli camilan sama roti. Tuh aku taruh di atas nakas kalo papa sama mama mau." jawab Reynald sembari menunjuk bungkusan yang tadi di belinya dengan Vierra di minimarket menggunakan dagu.


Dan setelah mendengar itu, sang mama pun berjalan kearah nakas, dan membuka bungkusan itu. Sesaat di buka, ada beberapa macam roti, Snack dan juga beberapa minuman yang menginterupsi indera penglihatannya.


"Kalian beli banyak gini, apa nggak capek?" tanya sang mama seraya memalingkan mukanya kearah kedua anaknya.


"Halah, segitu doang sih nggak masalah ma, lagian itu Vierra yang minta, dan beli. Reynald mah, cuma nunggu di depan doang." balas Reynald.


......................


Suasana hening tercipta di tempat itu sejak beberapa menit yang lalu. Kaesang yang sebelum itu telah mengajak Tyas tuk bertemu tak kunjung juga mengutarakan apa yang menjadi tujuannya. Ia sibuk dengan pikirannya sembari melirik kearah Tyas sesekali. Sementara Tyas, dia sudah tau apa yang akan Kaesang bicarakan padanya.


Dia hanya duduk santai dan menunggu Kaesang untuk memberitahukan semuanya sendiri padanya.


"Kamu mau ngomong apa, Kae?" akhirnya Tyas lah yang membuka pembicaraan itu.


Kaesang yang sejak awal sudah mempersiapkan semuanya, akhirnya ia pun mengambil nafas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan lalu mulai menceritakan semuanya tanpa terkecuali. Mimik wajahnya memancarkan rona kekhawatiran, dan juga kegugupan yang menyatu menjadi satu.


Lelaki itu terlampau takut dengan respon Tyas nantinya. Namun, saat cerita di mulai sampai berakhir, Kaesang cukup dibuat heran dengan respon yang Tyas berikan. Gadis itu tak menunjukkan rasa keterkejutan atau pun reaksi lainnya. Tyas hanya diam, dengan wajah datarnya sambil menyimak segala ucapan Kaesang.


Kaesang merasa jika Tyas sudah terlampau kaget sampai tak bisa berkata-kata, tapi setelahnya Tyas justru tersenyum begitu lebar. Senyum yang berhasil membuat Kaesang bingung, dan sontak memunculkan ribuan pertanyaan di kepalanya itu. Pertanyaan yang sama sekali tak bisa dijawab olehnya.


"Aku sudah tau kok. Sebenarnya aku hanya ingin mendengarnya darimu sendiri sih, tapi Kae, kenapa kamu diem aja? atau mungkin, kamu diancam sesuatu ya sama Zefa?" tanya Tyas kemudian.


Mata Kaesang pun membola, ia terlampau kaget sampai tak bisa berkata-kata.


jika Tyas memang sudah tau, dia tau dari mana? mulut siapa yang memberitahukan semua itu padanya?


"Aku memang diancam." balas Kaesang lirih.


"Hah, diancam apa?" tanya Tyas lagi.


......................


Di balkon kamarnya, seorang lelaki tengah berdiri menghadap kearah hamparan pepohonan luas di kebun belakang rumahnya. Ia menatap tanpa ekspresi kearah kebun luas itu.


"Aku berjanji akan merebutmu lagi Yas, aku nggak peduli walau kamu sudah memiliki kekasih atau belum. Tapi aku berjanji akan merebut apa yang dulu menjadi milikku." batin Tama seraya menatap tajam kedepan.


"Karena selamanya kamu adalah milikku." lanjutnya.


Bersambung ...


Note!


"Dengan segala kerendahan hati, author minta maaf sebesar besarnya. Karena author masih anak sekolah, dan sibuk dengan tugas dan ujian jadi author akan jarang update. Mohon maaf, dan terima kasih untuk dukungannya sejauh ini."