
Sebuah mobil Ferrari hitam tengah melaju dengan kecepatan tinggi diatas jalanan yang nampak ramai oleh kendaraan, seorang pria 40 tahunan yang mengendarai mobil itu nampak begitu panik, serta seperti mencemaskan sesuatu. Bagaimana tidak, putra semata wayangnya, yang sangat ia sayangi, yaitu Kaesang, tengah kritis di rumah sakit, sehabis menyelamatkan seorang perempuan dari tabrak lari. Ia begitu takut putranya kenapa napa, itu sebabnya mengapa ia semakin ngebut dalam mengendarai kendaraannya, agar dirinya bisa segera sampai di RS tempat putranya itu dirawat, dan mengetahui kondisi terkini putranya itu.
Selang beberapa saat kemudian...
Selepas menepuh waktu beberapa menit, sampailah pria tersebut di pelataran RS.Medika Mandiri. Ia pun segera memarkirkan kendaraannya tersebut di parkiran rumah sakit, selepas itu bergegaslah ia masuk kedalam rumah sakit tersebut. Selepas tiba di dalam, pria itu pun segera menuju ke meja resepsionis, dan bertanya pada salah satu suster di sana.
"Permisi, sus." Ucap pria tersebut sembari menatap cemas suster cantik di depannya
"Iya pak, ada yang bisa di bantu?" Tanya ramah suster tersebut.
"Ehm, sus, pasien atas nama Kaesang di rawat di ruang mana ya?" Tanya lagi pria tersebut.
"Maaf, ini dengan siapanya pasien?" Tanya balik suster tersebut.
"Saya papanya." Jawab pria tersebut.
"Oh baik pak, sebentar saya cek terlebih dahulu." Ucap suster tersebut sembari membuka sebuah map hijau di meja depannya.
"Pasien atas nama Kaesang di rawat di ruang ICU. Dari sini bapak lurus saja, ruangannya ada di sebelah kiri." Ucap lagi suster tersebut sembari tersenyum anggun pada pria di depannya.
"Oh baik sus, Terima kasih." Ucap pria tersebut, setelah itu bergegaslah ia menuju ke ruang ICU seperti yang diberitahu oleh suster tadi.
**************************
Di sebuah coffe shop tiga orang gadis remaja tengah berbincang bincang ria, sembari menyeruput kopi moccacino di depannya. Mereka adalah Zefa, Lina, dan zelyn. Dengan berbalutkan pakaian serta dres kekinian, tiga gadis tersebut berhasil menjadi pusat perhatian dari beberapa orang di sana, terutama zefa, ia nampak cantik, dan cocok dengan dress yang tengah dikenakannya. Ia terlihat bahagia dari raut wajahnya, dan tengah membicarakan sosok Kaesang dengan teman temannya.
"Zef, lu sejak kapan sih suka sama Kaesang?" Tanya polos Lina sembari menatap kearah zefa sekilas.
"Napa?" Tanya balik zefa.
"Nanya aja." Jawab singkat Lina.
"Gua sejak pertama kali sekolah di Genius high school juga udah suka sama yang namanya Kaesang, bahkan sampai sekarang, tapi tahu deh Kaesang, dia gitu Mulu sama gue, lama lama gue capek di giniin Mulu." Ucap Zefa sembari menatap kearah teman temannya bergantian.
"Padahal gue udah kasih perhatian lebih ke dia, tapi, ya gitu deh.." Lanjutnya sembari menundukkan kepalanya, dan tersenyum kecut.
"Zef, move on, di dunia ini laki laki ganteng bukan cuma Kaesang doang, please, cukup, jangan buang buang tenaga Lo cuma buat lelaki dingin kayak Kaesang, yang ujung ujungnya Lo bakal di campakkin sama dia. Please, Lo tuh cantik, the school queen, jangan hancurin harga diri Lo cuma buat ngejar lelaki kayak Kaesang. Zef, gua tau Lo tulus suka sama Kaesang, tapi gak sampai gini juga, please, apa mau Lo gua kenalin sama anak temen nyokap gue, dia lumayan ganteng lho, gak kalah deh sama Kaesang, gimana?" Tanya Lina sembari memberi pengertian pada temannya itu, yang tak pernah dilakukannya sebelumnya.
"Ngawur lu ya, zefa masih galau gini malah lu promosiin tuh anak temen nyokap Lo. Jaga perasaan dia napa. Gada akhlak lu ya jadi temen." Timpal zelyn sembari menunjuk kearah Lina kemudian menyeruput secangkir kopi di tangannya.
"Promosiin gimana, gua kan cuma ngomong doang, ya siapa tahu zefa berminat, kan bisa jadi gantinya Kaesang." Ucap santai Lina sembari tersenyum tipis kearah zelyn.
"Dasar, gak ada akhlak lu ya Lina tukang galon." Timpal zelyn sembari menyematkan kata tukang galon di akhir perkataannya.
"Eh, apa lu bilang." balas nyolot Lina sembari menatap tajam kearah zelyn.
"Udah cukup, gua mau balik aja, males disini." Ucap zefa sembari beranjak dari duduknya, kemudian melangkah pergi keluar dari coffe shop tersebut, disusul kedua temannya di belakangnya.
"Lho zef, tunggu, kok malah pergi sih." Ucap zelyn sembari beranjak dari duduknya kemudian pergi menyusul zefa, dan diikuti Lina yang mengekor di belakangnya.
***********************
"Lho kamu kok bangun lagi, katanya mau istirahat?" Tanya ibu guru itu sesaat setelah ia dapati Kaesang tengah terbangun sembari menatap langit langit kamar.
"Gak bisa tidur." Jawab singkat lelaki itu.
Mendengar suara pintu dibuka dari luar, sontak mata keduanya pun langsung menatap bersamaan kearah pintu tersebut, dan tengah menunggu siapa yang akan memasuki ruangan ini. Sesaat kemudian, nampak seorang pria empat puluh tahunan tengah berdiri terengah engah setelah menutup kembali pintu ruangan itu. Ia menatap kearah mereka sebentar, lalu berjalan cepat kearah mereka, dan langsung mengelus puncak kepala Kaesang lembut.
"Sayang, kamu gak papa, kan?, papa khawatir banget lho sama kamu. Papa langsung syok saat diberitahu kalau kamu kecelakaan. Sayang, sebenarnya kamu kenapa?, kenapa bisa jadi seperti ini?" Tanya papanya dengan nada khawatir serta cemas yang bercampur menjadi satu.
"Bukan urusan papa." Jawab lelaki itu cuek sembari memalingkan wajahnya kearah lain.
Jika dilihat dari raut muka ibu guru itu, terlihat ia tengah terkejut dengan kejadian yang baru dilihatnya ini, ya mungkin ia kaget, kenapa sikap Kaesang bisa seperti ini pada papanya sendiri, dan tentu itu diluar dugaannya.
"Kok jawabnya gitu sih, papa beneran khawatir lho sama kamu, papa bela belain tinggalin kerjaan papa, meeting papa yang sebenarnya itu sangatlah penting, cuma demi kamu Kaesang. Terus ini siapa?" Tanya lagi papanya sembari menatap kearah ibu guru itu sekilas, lalu pandangannya kembali mengarah pada putranya lagi.
"Siapa suruh papa ke sini, kalau papa mau meeting ya meeting aja, gak usah pake jenguk jenguk aku Segala, toh kehadiran papa disini juga gak ada ngaruhnya sama sekali buat aku, mending papa kerja aja deh, gak usah pikirin aku." Jawab dingin lelaki itu sembari menatap kearah papanya yang saat ini tengah terkejut dengan semua perkataan putranya barusan.
"Kae, kamu..." Ucap papanya tak percaya.
"Kae, ada apa sih ini sebenarnya, kenapa kamu ngomong kayak gitu ke papa kamu, gak baik tahu gak, kamu sebagai anak harusnya tuh hormat ke papa kamu, bukannya malah kayak gini, saya benar benar terkejut dengan apa yang baru saja saya lihat hari ini, sungguh diluar dugaan saya." Ucap ibu guru itu sembari menasehati lelaki muda di depannya, akan tetapi bukannya di dengar ia malah ngomong begini,
"Ibu tidak tahu apa apa, jadi tidak usah ikut campur." Balas dingin lelaki itu sembari menatap malas ibu guru itu sekilas lalu memalingkan wajahnya kearah lain.
"Dan anda juga siapa, kenapa pakai ikut campur segala?" Tanya Indra tiba tiba sembari menatap kearah Tyas, ibu guru tersebut.
"Saya Gurunya Kaesang di sekolah." Jawab Tyas sembari menundukkan kepalanya sekilas lalu kembali menatap kearah Indra, papa dari Kaesang tersebut.
"Oh, terus ada urusan apa anda disini?, emangnya sekarang masih jam sekolah, bukannya ngusir, tapi akan lebih baik kalau anda pulang aja sekarang, Kaesang butuh istirahat." Ucap Indra tegas sembari mengusir ibu guru itu, karena kehadiran ibu guru itu sedikit mengganggu untuknya.
"Maaf pak, bukannya saya tidak mau pulang, tapi saya ada kewajiban yang harus saya penuhi di sini, dan itu tidak bisa saya hindari."Jawab Tyas sembari tersenyum tipis kearah Indra kemudian pandangannya langsung mengarah pada Kaesang, yang tentunya membuatnya bingung, kenapa ibu guru itu langsung menatapnya setelah berkata demikian.
"Oh, anda juga bekerja di rumah sakit ini, suster ya, atau dokter?" Tanya Indra dengan nada mengejek.
"Bukan, tapi saya ada kewajiban untuk merawat Kaesang sampai dia benar benar sembuh, saya tidak mau meninggalkannya sebelum saya lihat dia benar benar sudah baikkan." Jawab Tyas kalem sembari tetap menatap kearah Indra. Sontak setelah Tyas berkata demikian, Kaesang pun langsung terkejut seketika, gurunya itu akan merawatnya, mengapa?, apa ia merasa bersalah?
"Kewajiban?, mengapa?, tidak, tidak perlu anda melakukan itu, karena sudah banyak suster suster di sini yang akan merawat putra saya dengan baik, jadi lebih baik ibu pulang saja sekarang, karena tenaga ibu tidak diperlukan disini. Dan saya mengucapkan terima kasih karena telah perduli dengan putra saya." Ucap Indra dengan nada songong serta masih tetap berusaha untuk mengusir Tyas dari ruangan ini.
"Baik, kalau bapak minta saya untuk pergi saya akan pergi, tapi besok saya pasti akan datang kembali, saya janji itu. Kae, Terima kasih ya, ibu permisi, semoga kamu cepat sembuh." Ucap Tyas, karena telah lelah berdebat dengan Indra, Tyas pun memutuskan untuk pergi saja dari sana, akan tetapi ia pasti akan kembali esok hari, itu pasti. Setelah berkata demikian, beranjaklah ia dari sana, dan hendak keluar dari ruangan tersebut, akan tetapi seketika dihentikan oleh Kaesang.
"Tunggu..." Ucap Kaesang akhirnya.
"Iya, kae?" Jawab Tyas sembari berbalik badan, dan menghadap kearah Kaesang, ia lihat ada raut wajah kekesalan yang begitu nampak dari wajah Indra, ia tahu ia telah ikut campur dalam urusan keluarga mereka, tapi itu demi kebaikan Kaesang sendiri, ia tak mau kalau nantinya Kaesang jadi anak yang durhaka pada orang tuanya sendiri.
"Ibu tetap disini, dan papa yang pergi." Jawab Kaesang sembari menatap kearah Tyas datar.
"Maksud kamu, kae?" Tanya Indra kaget dengan ucapan putranya barusan.
"Papa gak denger ya, papa pergi dari sini, aku gak mau lihat papa disini, lebih baik papa kerja aja, gak usah pikirin aku. Dan bu, aku mau ibu ada di sini, temenin aku sampai aku benar benar sembuh, ibu mau, kan?" Tanya Kaesang pada Tyas lembut, kemudian berbalik menatap papanya malas.
"Kok kamu lebih milih Guru ini sih dari pada papa, ada apa sih ini sebenarnya, papa gak ngerti?" Tanya bingung Indra sembari menatap Kaesang, dan Tyas bergantian.
"Udah papa balik aja deh, papa gak bakal ngerti." Timpal Kaesang.
"Ehm pak, tadi Kaesang sudah selamatin saya dari kecelakaan yang akan nimpa saya, dan adanya saya disini untuk membalas Budi pada Kaesang atas apa yang telah dilakukannya itu, yaitu saya akan merawatnya sampai dia benar benar sembuh, baru setelah itu saya merasa benar benar tenang." Ucap Tyas menjelaskan. Dan penjelasannya barusan berhasil membuat Indra terkejut seketika, karena ternyata putranya itu kecelakaan karena ulahnya. Karena menyelamatkannya.
"Tunggu, Jadi anda penyebab putra saya kecelakaan?!" Tanya Indra tak percaya.
Bersambung.