Cintaku Adalah Kamu

Cintaku Adalah Kamu
Episode 30- Hubungan baru


Seorang Wanita berseragam rapi tengah berjalan dengan santainya di area koridor sekolah sembari menenteng tas di lengannya, juga tangannya yang dipenuhi 5 buku tebal. Ya dia adalah, Tyas, salah satu guru di Genius high school, yang mengajar dalam bidang bahasa inggris, dan salah satu guru baru di sana, sifatnya yang baik nan tulus pada siapapun bisa membuat image Tyas di sekolah itu membaik seketika, bahkan hampir beberapa anak di sana bahkan guru laki laki juga terpergok menyukainya, karena wajahnya yang nampak masih baby face.


Sesaat dirinya berjalan di sepanjang koridor sekolah nampak, dan terdengar jelas di telinganya bahwa sebagian besar anak anak yang ada di sepanjang koridor sekolah itu tengah berbisik sembari membicarakan dirinya juga Kaesang. Dan rupanya seisi sekolah ini telah mengetahui semuanya, bahwa tempo hari lalu Kaesang sempat kecelakaan karena habis menyelamatkannya. Karena image Kaesang di sana adalah the Kings, maka sebagian besar anak anak disana, terutama anak perempuan tak menyukai hal itu, mereka mengira kalau Tyas hanya mencari perhatian dari Kaesang saja, atau justru Tyas ingin mencelakainya, karena suatu hal tertentu.


Wanita itupun menutup kedua telinganya, dan tetap melanjutkan langkahnya walaupun perasaan sedih, juga malu kini mulai merasuki pikirannya. Ia tetap berjalan sembari menundukkan kepalanya, hingga sesaat kemudian berhentilah ia tepat di depan seorang lelaki muda, dan saat di tengok, ya tepat sekali dia adalah Kaesang, yang saat ini tengah berdiri tepat di hadapannya sembari menatapnya malas.


"Sini, saya bawain." Ucap Kaesang, sembari merebut buku buku tebal tersebut dari tangan ibu guru itu, tanpa minta persetujuan darinya sama sekali, kemudian mulai melangkahkan kakinya mendahului ibu guru tersebut ke ruang guru.


"Kamu benar benar gak punya sopan santun, ya, main rebut rebut aja buku orang," Balas ibu guru itu sembari berjalan menyusul lelaki itu, lalu mulai mensejajarkan diri di sampingnya.


"Kalau saya minta izin terlebih dahulu, pasti ibu bakalan nolak juga, kan?"


"Ehm, saya cuma tidak mau merepotkan siapapun, dan lagipula itu cuma pekerjaan kecil kok, saya masih bisa lakukan sendiri."


"Sudah saya duga, ayo, Bu." Timpal lelaki itu.


.....................................................................


Hari ini adalah hari kamis, dan jam pertama di kelas Kaesang hari ini adalah bahasa Inggris, dan entah semangatnya ia pada hari ini, sebab Bu Tyas adalah guru bahasa Inggris yang mengajar di kelasnya saat ini. Ia terus menyimak sepanjang pelajaran, padahal sebelum sebelumnya ia begitu malas dalam menyimak materi, dan lebih memilih untuk tidur. Akan tetapi entah kenapa ia begitu semangat pada hari ini, hingga ia ditunjuk berulang kali oleh Tyas untuk menjawab beberapa pertanyaan darinya, dan karena kepandaiannya Kaesang dapat menjawab beberapa soal dari Tyas dengan sangat mudah, karena hal itu rasa penasaran Tyas akan muridnya yang satu ini semakin bertambah, ia penasaran dengan sosok Kaesang yang sebenarnya.


Hari berganti hari, Minggu berganti Minggu, ini adalah tiga Minggu setelah kejadian Kaesang kecelakaan tempo lalu. Tanpa ia sadari ia berulang kali bertemu dengan Tyas di suatu tempat selain di sekolah, bahkan selama pertemuan pertemuan itu tak lagi ada kecanggungan diantara mereka tak seperti beberapa hari lalu, mereka bahkan semakin akrab, dan mulai mengenalkan diri kembali.


Kaesang akhirnya tahu kalau guru yang selama ini dekat dengannya ini adalah Tyas namanya, ia terkagum dengan kecantikan nama dari gurunya ini, hingga ia tak dapat mengalihkan pandangannya dari wajah ibu guru tersebut.


................................................................


Di sebuah ruangan meeting terdapat beberapa gelintir orang yang berpakaian jas rapi yang saat ini tengah duduk sembari menyimak presentasi dari seorang CEO besar. Ya dia adalah Indra, papa dari Kaesang, dan saat ini ia tengah melakukan presentasi di depan para koleganya, ia terlihat sangat begitu hebat dalam mempresentasikannya, bahkan tak banyak dari antara mereka yang terkagum kagum oleh sosoknya, walaupun ia terlihat begitu baik dalam meeting nya hari ini, tetap saja pikiran serta batinnya tengah kacau saat ini, lalu tiba tiba saja terbesit di pikirannya sebuah pertanyaan mengenai putra tunggalnya itu, 'Kenapa, dia semakin jauh dariku?'


............................................................................


...Beberapa hari kemudian......


Kaesang Abi Permana, seorang yang terkenal dingin ini tak lagi begitu dingin setelah dirinya berjumpa dengan Tyas, pertemuannya dengan Tyas berhasil merubah separuh dari dirinya, bahkan seiring berjalannya waktu hubungannya dengan gurunya ini menjadi semakin dekat, bahkan sering keduanya membuat suatu perjanjian untuk bertemu di suatu tempat, hanya sekedar tuk ngopi ngopi ria atau kadang juga sering membahas suatu materi sekolah.


Ia telah merasa nyaman dengan hadirnya gurunya ini di dekatnya, bahkan tanpa di sadari nya sebuah perasaan aneh tiba tiba muncul dari dalam hatinya setelah pertemuan sering mereka. Ia bahkan pernah mengundang gurunya itu tuk datang kerumahnya, dengan alasan bimbel pribadi, padahal Kaesang adalah juara internasional, dan sudah tentu ia tak membutuhkan suatu bimbel apapun, tapi entah kenapa dengan dirinya, ia begitu kekeh ingin gurunya itu menjadi guru bimbel pribadinya, karena tau potensi yang dimiliki Kaesang, gurunya itu pun pernah menolak, akan tetapi karena bujukan Kaesang akhirnya luluh juga hati ibu guru itu, ia pun mulai menjadi guru bimbel dari lelaki itu sepulang dari sekolah.


Ia mengajari Kaesang sepenuh hati, juga tulus, akan tetapi Kaesang justru tak menyimak sama sekali apa yang tengah di ajarkan itu, ia malah sibuk menatap wajah ibu guru itu sembari menorehkan senyuman manis di bibirnya.


"Kaesang, yang serius dong. Dari tadi kamu lihatin saya Mulu, udah kamu belajar yang serius, gak ada lihat lihatin saya lagi, oke."


"Hmm, iya Bu iya, maaf, gak akan kuulangi lagi deh. Hmm, habisnya ibu terlalu cantik sih, jadi membuat saya salah fokus." Timpal Kaesang sembari menatap kearah Tyas sembari tersenyum manis.


"Bisa aja kamu, udah tua gini malah di bilang cantik, tapi makasih lho." Ucap Tyas sembari tersipu malu karena ucapan Kaesang barusan.


"Sama sama Bu, udah yuk belajar lagi."


"Hmm."


................................................................


Sebuah mobil Lamborghini putih tengah melaju dengan santai di jalanan yang tengah sepi kendaraan, seorang lelaki muda, dengan setelan jaket Levis biru langit, kaos putih polos di dalamnya, serta celana putih terang, Kaesang tengah melajukan mobil kesayangannya itu menuju ke suatu tempat yang jauh dari keramaian, ia tidaklah sendiri, melainkan bersama dengan Tyas di sampingnya, ya Tyas, guru bahasa Inggris di sekolahnya. Dirinya telah mengajak gurunya itu sekaligus temannya kini, untuk pergi refreshing ke suatu tempat yang sangatlah damai serta tenang menurutnya. Awalnya ragu, akan tetapi setelah diyakinkan nya kalau ini akan aman, akhirnya Tyas pun menyetujui ajakan muridnya itu, walaupun entah kenapa perasaannya sangatlah tidak karuan saat ini.


Setelah menepuh perjalanan beberapa jam, akhirnya sampailah mereka di tempat itu, tempat yang sangatlah indah, damai serta menenangkan. Ternyata yang dikatakan muridnya itu tidaklah bohong, tempat yang ditujunya ini sangatlah jauh di luar dugaannya, sangatlah indah. Bagaimana Kaesang dapat menemukan tempat sebagus ini?.


Lalu setelah menemukan tempat yang pas, berhentilah laju mobilnya itu, kemudian keluarlah ia serta wanita tersebut dari dalamnya, lalu mereka putuskan untuk berjalan dua meter kedepan, karena dilihatnya pemandangan di depan begitu indah, serta langit yang terlihat mendukung. Mereka mulai berjalan secara beriringan, serta satu dua buah obrolan yang mulai muncul di antara mereka. Lalu langkah mereka pun terhenti tepat di depan sebuah jurang yang tak terlihat dasarnya, walau di rasa ngeri, akan tetapi tak dapat dipungkiri kalau pemandangan di sana sangatlah indah, bahkan tak dapat di temukan di tempat manapun.


Saat keduanya telah mulai terbawa suasana, dan terdiam masing masing sembari menikmati keindahan di depan mata mereka, tiba tiba Kaesang pun mengatakan sebuah kata yang berhasil membuat wanita di sebelahnya ini terkejut seketika, dan tak dapat mengatakan sepatah katapun.


"Ehm, jika saya menyukai ibu, apa yang akan ibu lakukan?" Ucapnya tiba tiba sembari tak mengalihkan pandangannya sedikitpun, dan tetap menatap damai kedepan.


"Maksud kamu?" Tanya Tyas tak paham akan ucapan lelaki di sebelahnya ini, kemudian langsung menatap kearahnya.


"Ya saya suka sama ibu."


"Maksud kamu, serius, saya masih gak ngerti ini."


"Hmm, saya tahu ibu pasti ngerti." Ucap lelaki itu sembari tersenyum miring kemudian menundukkan kepalanya.


"Kae..."


"SAYA KAESANG TULUS SUKA SAMA BU TYAS, APAKAH BU TYAS MAU MENJAWAB PERASAAN SAYAA." Ucap Kaesang sembari berteriak lantang ke depan.


"Kae, kamu cuma bercanda kan barusan, kamu gak serius kan, iya kan, kae?" Tanya Tyas memastikan.


Jika benar muridnya ini menyukainya, itu akan sangatlah gawat bagi berbagai pihak, mungkin tak masalah bagi dirinya, tapi mungkin tidak bagi Kaesang, ia tak tahu apa tanggapan keluarganya nanti mengenai hubungan ini kalau ia menerimanya, dan lagi pula rentan umur mereka juga jauh berbeda, tak mungkin kan, mereka dapat bersatu?.


"Apa menurut ibu, muka saya ini terlihat seperti tengah bercanda?"


"Saya serius Bu, saya benar benar menyukai ibu, semenjak pertama kali kita bertemu. Mungkin saya bukan orang yang romantis, juga bukan orang yang pandai dalam merangkai kata kata cinta, tapi yakinlah cinta saya ini tulus, tulus dari dalam hati saya. Bu, saya janji akan selalu lindungi ibu, seperti saya lindungi ibu dari kecelakaan tempo lalu. Saya tidak akan pernah tinggalin ibu sampai kapanpun, walaupun ibu tengah susah sekalipun. Saya akan selalu ada di sisi ibu.."


"Masalahnya bukan itu Kaesang, ya saya mengakui saya juga menyukai kamu, tapi kita berbeda Kaesang, umur kita jauh berbeda. Dan lagi pula saya itu guru kamu, apakah pantas guru dan murid cinta cintaan seperti ini?. Lagipula saya sudah repotin kamu karena kamu selamatin saya waktu itu, dan saya juga hanya orang biasa, yang gak setara sama kamu. Udah lebih baik kamu cari perempuan lain saja sebagai pacar kamu, yang pasti jauh lebih baik dari saya, Kae, maaf, saya mungkin tak bisa menerima perasaan kamu, maaf, kae." Ucap Tyas sembari berbalik badan dan hendak pergi dari sana, akan tetapi tangannya berhasil di cekal oleh Kaesang.


"Apa perlu saya berlutut sembari memohon agar Bu Tyas mau menerima perasaan saya, apa perlu saya teriak di depan umum kalau saya serius sama ibu, Bu, saya hanya mau ibu, bukan yang lain, saya gak perduli dengan rentan umur kita, mau ibu umur seratus tahun pun tetap saya akan suka sama ibu, Bu, kalau ibu ngomongin setara, semua manusia itu setara di mata Tuhan, gak ada yang namanya orang kaya jauh lebih tinggi dibandingkan orang miskin. Bu, saya ikhlas nolongin ibu tempo lalu, jadi jangan ibu ngira kalau ibu ngerepotin saya, itu sama sekali tidak Bu."


Terdiam sejenak....


"Takdir tak ada yang tahu Bu, jika ibu memang ditakdirkan untuk saya, mau ibu itu seorang guru, insinyur, bahkan presiden sekalipun pasti akan ada cara untuk kita bersatu. Bu, saya ikhlas kalau ibu nolak saya, tapi jangan pernah ninggalin saya ya, saya sudah cukup sendirian selama ini, dan kali ini saya tidak mau mengulangi hal yang sama." Ucap Kaesang tulus sembari memeluk Tyas erat, juga keduanya meneteskan air mata.


Sesaat setelah itu Tyas pun langsung menganggukkan kepalanya berulang kali, kemudian melepaskan pelukan lelaki itu darinya.


"Maksud ibu nganggukkin kepala?" Tanya Kaesang bingung.


"**Ya, saya akan coba buat Nerima kamu, dan saya juga akan berbuat sebaik mungkin untuk hubungan ini."


"Ibu serius, jadi ibu Nerima saya**?" Tanya Kaesang tak percaya, tapi juga gembira, yang begitu nampak dari raut wajahnya.


"Iya, tapi maafin saya ya kalau nanti saya masih kaku gitu, soalnya saya udah lama gak pacar pacaran gini." Ucap Tyas sembari menyeka air matanya lalu tersenyum tipis kearah lelaki muda di depannya.


"**Santai aja Bu santai, oke, tapi fine, thank you so much, saya bahagia banget hari ini, dan saya juga gak akan pernah lupain hal ini sampai kapanpun."


"Terima kasih, tapi apa mau kamu penuhin satu permintaan saya?"


"Apa itu?, katakan saja."


"Kita backstreet aja ya, saya gak mau kalau ada yang sampai tahu hubungan ini, kamu tahu sendiri kan kenapa saya minta ini ke kamu?"


"Huufft, iya, baiklah, saya janji gak akan bocorin hubungan ini ke siapapun, tapi kamu juga harus janji, jangan pernah sekalipun kamu tinggalin aku, sampai kapanpun, oke."


"Aku gak tahu**." Ucap Tyas sembari memalingkan wajahnya kearah lain.


"**Maksud kamu?"


"Ah, enggak, bukan apa apa kok, hmm, gimana kalau untuk ngerayain hari jadian kita ini, kita makan di kedai, aku tahu suatu kedai, dan di situ makanannya enak enak banget, kamu pasti suka, ya walaupun bukan restoran sih, tapi aku jamin, rasanya gak akan kalah deh sama masakan restoran. Gimana, yuk, kita makan disana, aku dah laper nih**." Ucap Tyas mengalihkan pembicaraan.


'Aku tahu Tyas pasti tengah menyembunyikan sesuatu dariku, tapi tak pantas aku harus berburuk sangka seperti ini, karena aku tahu Tyas adalah perempuan yang baik, aku yakin dia adalah pacar terakhirku, sekaligus pendamping hidupku.'


"Yaudah yuk, tapi kamu yakin kan, kalau disitu makanannya enak enak, awas ya kalau sampai gak enak, nanti aku jewer telinga kamu."


"Ye, emangnya aku anak TK apa, udahlah percaya deh sama aku, dijamin enak kok di sana,"


"Emangnya kamu pernah kesana?" Tanya Kaesang.


"**Hehe, ya belum pernah sih, tapi aku yakin kok, pasti makanan di sana enak enak, soalnya pelanggannya banyak banget, ya please, makan di sana ya, sekali ini aja, oke."


"Yaudah iya, tapi itu kedainya di mana sih?, terus nama kedainya apa?"


"Nama kedainya Citarasa kalau gak salah, tapi untuk lokasinya di sekitaran Genius high school deh perasaan."


"OOH, kedai itu, itu kedai baru kan, yaudah ayok."


"Makasih ya, kae, ayo**."


Selepas itu beranjaklah mereka dari sana, dan meninggalkan tempat indah itu, yang kini menjadi saksi dimana bersatunya kedua sejoli dalam cinta, yang dimana umur tak menjadi masalah dalam hubungan mereka, dan takdirlah yang menentukan.


Bersambung.


................................


HAY GUYS, MAAF DI EPS INI AKU BANYAKIN SCENE KAESANG DAN TYAS, SOALNYA MAU MENDEKATI HOT EPISODE, DAN PASTINYA SERU...


OKE GUYS SEGITU DULU, JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, DAN MASUKIN NOVEL INI KE RAK BUKU KALIAN, OH IYA JANGAN LUPA VOTE JUGA YA GUYS, BYE, AND THANK YOU SO MUCH...