Cintaku Adalah Kamu

Cintaku Adalah Kamu
Episode 124 -Ancaman Gina


Brakk ...


Setelah dua jam lalu Gina pulang dan pergi dari kediamannya, Indra yang saat ini tengah berada di kamarnya langsung tersulut emosi sesaat teringat perkataan Gina tadi, bahkan tak hanya marah, melainkan indra juga membanting gelas kaca yang berada di atas nakas, dan memukul tembok berulang kali.


"Sial sial sialll! gila kali tuh anak, ngapain dia ngomong gitu tentang Kaesang?! Mau dia apasih, hah! Capek aku marah marah begini, huufftt ... Lagian putraku itu anak yang baik, dia tak mungkin melakukan hal seperti yang Gina katakan. Tapi, dari rekaman itu, kenapa terasa nyata? Apa Kaesang benar benar mabuk saat itu? tapi kenapa dia bisa mabuk, bukankah setauku Kaesang itu anti sekali dengan minuman seperti itu? Aishh ... Pusing banget aku, pusing." ucap Indra sendiri seraya mengusap kasar wajahnya dan berjalan kesana kemari.


"Bagaimana ini sekarang, aku sudah terlanjur menjodohkan Kaesang dengan anak Wisnu, dan tanggal pertunangan juga sudah di tentukan. Astaga, Gina Gina Gina! Kenapa dia mempersulit kehidupan ku, andai dia tak mengancam seperti tadi, pasti ku takkan pusing seperti ini." lagi Indra.


Dua jam sebelumnya ...


"Baik, jika Om indra menolak keputusan saya, boleh saja, boleh asal ada konsekuensinya." setelah mendengar jika Indra tetap menolak keputusannya bahkan setelah melihat rekaman video yang Gina berikan membuat Gina sedikit geram.


"Konsekuensi, konsekuensi apa memangnya?" tanya Indra seraya menatap serius kearah Gina dan melipat kedua tangannya di depan dada.


Setelahnya Gina pun menatap tajam kearah indra dan menyeringai lebar kearahnya.


"saya akan menyebar luaskan video ini ke orang orang dan saya juga akan mengatakan sesuatu buruk tentang Kaesang. Om indra, di video itu bukankah wajah Kaesang terlihat sangat jelas, jadi jika saya sebarkan video itu, siapapun akan mengenali lelaki di video itu. Ehm ... Bukankah ini sangat buruk ya, reputasi Kaesang, perusahaan om dan relasi relasi kalian, bagaimana dengan mereka, apa mereka akan tetap diam saja setelah melihat video itu?" balas Gina sengit.


Waktu sekarang ...


"Gimana ini, apa aku memang harus menikahkan Kaesang dengan Gina? Tapi Gina kan sudah dewasa, umurnya saja pasti sudah mendekati dua enam, astaga, indra bagaimana ini?" Indra terlihat setres mengingat ancaman yang Gina lontarkan padanya, ancaman itu sangatlah pedas dan begitu tajam terucap oleh Gina, bahkan setau indra, Gina itu adalah anak yang baik, periang, dan juga ramah, relasinya begitu banyak dan dia juga siswa terpintar di sekolahnya dulu. Namun, mendengar Gina mengatakan itu, bukankah mengagetkan buat Indra.


......................


Setelah sebelumnya menelpon anak buahnya tuk berkumpul di base camp seperti biasa, Vero pun duduk di kursi panjang di teras base campnya itu, sebelumnya dia rogoh hp nya dari saku celananya kemudian di bukanya hp nya itu. tatapan Vero tak lepas dari foto Zefa yang dijadikan wallpaper hp olehnya. Dia menatapnya begitu lama dan tersenyum.


"Zef, bagaimana kamu bisa tau rencanaku ini? dari mana dan bagaimana kamu mengetahuinya sayang? Kukira setelah kamu tau, kamu akan mendukungku tuk menyakiti Kaesang, tapi rupanya tidak. Kamu justru sangat marah dan begitu membenciku. Kamu memakiku dan meludah di hadapanku. Huufftt ... Mengapa Zef, mengapa kamu mencintainya, mengapa kamu marah melihatku ingin menyakitinya. seharusnya kamu senang melihatku melakukan ini hanya demi dirimu, harusnya kamu terharu dan memelukku begitu erat kemarin." ucap Vero sendiri seraya tetap memandangi foto Zefa di layar ponselnya.


"Bos ..." sesaat setelah anak buahnya datang dan menghampirinya, Vero yang semula memandangi foto Zefa pun langsung mengantongi ponselnya kembali, dia menatap kearah anak buahnya lalu berdiri dan menganggukkan kepalanya.


"Masuk .." setelah perintah itu di layangkan Vero pada anak buahnya, mereka semua termasuk Vero pun langsung memasuki base camp nya kembali.


......................


Wuusshhh ...


Angin di sore seperti ini begitu sejuk dan menyegarkan jiwa, langit langit yang mulai berwarna oranye pun membuat suasana hari ini semakin indah saja.


"Dear, lihat deh, langitnya indah banget ya." ucap Kaesang pada Tyas seraya menunjuk kearah langit.


Setelah selesai dari sekolahan, Kaesang yang mengajak Tyas pulang bersamanya pun membelokkan mobilnya kearah resto jepang di jalan mawar indah tak jauh dari sekolahnya tuk sekedar makan dan bersantai.


Mendengar Tyas mengatakan itu membuat Kaesang terdiam, dia menatap Tyas begitu lama dan menundukkan kepalanya sekilas. Semua ucapan Tyas sekarang seperti ungkapan kehidupannya, seperti mengatakan perasaannya tentang perjodohan Kaesang dan hatinya yang begitu hancur.


"Dear, maafin aku ya karena aku kamu menjadi sedih." ucap Kaesang seraya tetap menatap kearah Tyas.


Mendengar ucapan Kaesang, Tyas pun langsung mengalihkan pandangannya kearah Kaesang, dia menatapnya sedikit lama kemudian tersenyum kearahnya.


"Sedih? aku nggak papa kok Kae, aku baik baik aja, lagian karena apa aku harus sedih, hmm?" sahut Tyas.


Mendengar Tyas terlihat tegar namun seperti dipaksakan, membuat Kaesang kembali bersedih, hatinya teriris dan jiwanya begitu hancur, dia begitu mencintai Tyas, dan tak ingin melihatnya bersedih.


"Dear, aku berjanji sama kamu, aku akan membatalkan perjodohan itu bagaimana pun caranya. Aku mencintaimu jadi selama aku bersamamu, aku akan menolak setiap wanita yang di jodohkan denganku. Dear, jangan sedih ya, aku akan membereskan masalah ini dengan segera." timpal Kaesang bersungguh-sungguh seraya meraih tangan Tyas dan menggenggamnya.


......................


Brumm ....


Setelah sebelumnya ijin pada pihak kampus tuk pulang ke kampung halamannya selama tiga hari, Reynald maupun Vierra pun segera melajukan mobilnya menuju rumah orang tuanya. Sebelumnya Vierra juga sempat ijin di sekolahnya jika dia takkan hadir di sekolah selama kurang lebih tiga hari.


"Kak Rey, sebenarnya kita pulang itu buat apa sih? Selain kangen sama papa mama, kak Rey ada yang mau di lakuin ya di sini?" tanya Vierra seraya menoleh kearah sang kakak di sebelahnya.


Tanpa menoleh Reynald pun tersenyum dan berdehem.


"Kakak mau nemuin pacar kakak dek." sahut Reynald.


Vierra yang terkejut langsung saja menoleh kearah Reynald.


Whatt??


"Pacar? Sejak kapan pria dingin kayak kakak gini punya pacar?" tanya Vierra masih dengan ekspresi yang sama.


"Sejak dulu lah, kamu aja yang gak tau." timpal Reynald masih sembari menyetir.


"Yaudah deh aku percaya, ehm kalau gitu siapa pacar kakak, nama dan tinggalnya di mana?" lagi Vierra bertubi-tubi.


Reynald pun tersenyum miring dan menghela nafas sejenak, dia menoleh sekilas kearah Vierra lalu fokus kembali kearah kemudi setirnya.


"Namanya Aisha Zelyn, dia adalah gadis SMA seperti kamu, anaknya baik dan begitu asik bila diajak mengobrol." ucap Reynald masih dengan posisi dan ekspresi yang sama.


Bersambung ...