
Akhirnya setelah menempuh waktu lima belas menit sampailah rombongan mereka di pelataran museum Bali, dan nampak sedikit sepi pengunjung, mungkin karena bukan weekend. Kemudian setelah bis terparkir dengan rapi di parkiran yang telah di sediakan, turunlah mereka semua dari bis masing masing, kemudian sembari dibimbing oleh guru masing masing masuklah mereka semua ke dalam gedung museum itu. Sama seperti di berita, Museum ini nampak besar, dan kokoh jika dilihat dari luar, serta nampak kesan klasik jika dilihat dari dalam. Mereka semuanya pun mulai berpencar, serta mulai mencari suatu objek di dalam museum ini guna mengisi kertas laporan mereka. Begitu pun dengan Kaesang, lelaki itu tengah berjalan ke sembarang arah seorang diri dengan langkah malas. Ia berpindah dari objek satu ke objek lainnya, begitu saja tanpa mencatat suatu hal apapun seperti yang teman temannya lakukan. Mereka sibuk mengamat amati suatu objek sejarah dengan seksama, dan teliti, akan tetapi tidak dengan Kaesang, ia justru berjalan entah kemana, dan langkahnya tetap lurus ke depan, kemudian tanpa di sadari nya, ternyata ia telah berjalan cukup jauh dari teman temanya, hingga sampailah ia di depan suatu ruangan yang nampak terkunci dari luar, banyak sekali sarang laba laba yang hinggap di sela sela pintu kayunya, dan juga banyak sekali debu di sekitaran ruangan itu. Dan kejadian itu membuatnya langsung berdecak, 'Ih, masak museum Segede ini gak punya satupun cleaning servis sih, mana kotor lagi di sini, masa gak pernah di bersihin sih ruangan ini, sedangkan ruangan yang lain bersih, gimana sih?, sebenarnya apa sih yang ada di dalam ruangan ini sampai sampai di gembok segala, ah, tapi ya sudahlah, biarin' setelah berucap demikian di dalam hati, tiba tiba seperti ada seseorang yang menepuk pundaknya dari arah belakang, dan sontak ia pun langsung membalikkan badannya, nampak seorang pria berumur lima puluh tahunan tengah berdiri mematung di hadapan lelaki itu.
"Sedang apa kamu disini?" Tanya pria itu dengan nada melambat.
"Maaf tadi saya nyasar, permisi." Ucap lelaki itu hendak beranjak pergi dari sana, akan tetapi di hentikan oleh pria itu.
"Tunggu..." Ucap pria itu sembari merentangkan sebelah telapak tangannya di depan lelaki itu, bermaksud tuk menghentikan langkahnya.
"Asal kamu tau, belum pernah ada yang sampai di tempat ini kecuali kamu, dan gak boleh, jadi apa tujuan kamu datang kemari?" Tanya pria itu.
"Saya kan sudah bilang, saya nyasar, permisi." Ucapnya sembari beranjak pergi, meninggalkan pria itu sendiri di sana.
"Aneh." ucapnya sendiri sembari tetap melanjutkan langkahnya.
Sesaat kemudian, sampailah lelaki itu di gerombolan teman temannya lagi, ia pun mulai merasa muak, sebab ia sangat tidak menyukai keramaian. Lalu ia pun mulai berjalan kearah suatu objek, seperti sebuah patung, yang ada dua meter di depannya, patung itu berhasil menarik perhatiannya, sebab patung itu terlihat seperti nyata saja, dan beberapa orang di sana juga tengah mengerumuninya. Kemudian dari kejauhan ia pun mulai meneliti segala tentang patung itu, dan di kaki patung itu juga tertulis sebuah nama, 'Georgete scontrosa' yang artinya Georgete pemarah, ia tak tau apa maksud dari kata kata itu, mengapa di sebut pemarah, ia tak mengetahuinya sama sekali, lalu masih dengan beberapa kejanggalan mengenai patung itu, Lelaki itu pun menulis segala yang ia tahu tentangnya, kemudian menerobos kerumunan, dan melihat patung itu dari dekat, amis darah, itulah yang sesaat ia cium saat ia berada di dekat patung itu, sontak ia pun langsung menutup hidungnya dengan kedua tangannya, lalu berjalan pergi, karena ia sangat tidak tahan dengan baunya, akan tetapi mengapa orang orang di sana tidak merasa terganggu dengan bau amis itu?, ah entahlah, ia pun lebih memilih tuk pergi ke tempat lain, dari pada terus terusan di sana, sebab ia phobia bau amis darah.
Sudah lumayan jauh ia berjalan menjauhi patung itu, sesaat kemudian langkahnya pun terhenti tepat satu meter di belakang ibu guru itu, saat ini ibu guru itu tengah bersama dengan beberapa muridnya, dan membahas sebuah keris antik di etalase depan mereka. Lelaki itu senyum sebentar, kemudian berlalu pergi.
Sesaat saat Laporan telah selesai, dan waktu sudah menjelang sore, maka beranjaklah mereka dari sana, mereka meninggalkan museum itu tepat pukul 14.30, kemudian melanjutkan perjalanan mereka ke tempat terakhir yang mereka kunjungi hari ini sebelum kembali ke hotel, yaitu Lippo mall Kuta, sebuah mall terbesar di Bali, yang tempatnya berada di sekitaran pantai Kuta, hanya berjarak beberapa ratusan meter saja. Selepas menepuh waktu beberapa menit, akhirnya sampailah rombongan Genius high school di pelataran mall itu, setelah bis terparkir dengan rapi di parkiran yang telah di sediakan, maka turunlah mereka dari bis itu, lalu beranjak masuk kedalam mall tersebut sembari di dampingi beberapa pendamping. Dan beruntunglah Kaesang, ia dan beberapa gerombolannya di dampingi oleh ibu guru itu, Sontak ia pun langsung tersenyum dalam hati, akan tetapi ia juga merasa kesal, bagaimana tidak, jika ia didampingi oleh guru, ia takkan bisa berbelanja sesuka hati, pasti beberapa diantara mereka juga merasakan hal yang sama, merasa tak nyaman. Lalu ia dan beberapa temannya memutuskan untuk berjalan kearah sneaker sneaker dengan tetap di dampingi oleh ibu guru itu, sesekali lelaki itu juga melirik kearah ibu guru itu, dan langsung berdecak kesal, sebab ia sangat tak suka di awasi, apalagi tengah berbelanja. Kemudian iapun ada ide kacang, yaitu ia meminta ijin pada ibu guru itu untuk ke kamar kecil sebentar, sebab ia sangat kebelet dari tadi, lalu ibu guru itupun menawarkan bantuannya tuk mengantarkannya, akan tetapi di tolak olehnya, dengan alasan dia bisa sendiri. Lalu setelah mendapat ijin dari ibu guru itu, ia pun segera berlalu pergi, bukan ke toilet melainkan ke tempat lain, ia terpaksa harus beralasan begitu agar ia dapat lepas dari pengawasan ibu guru itu. Setelah langkahnya sudah cukup jauh dari ibu guru itu, dan gerombolannya, sontak lelaki itu pun langsung tersenyum miring, kemudian berjalan kearah tempat arloji arloji branded berada, ia memasuki tempat itu, lalu melihat lihat beberapa arloji di sana, tak ada yang menarik perhatiannya, kecuali sebuah arloji hitam yang terpajang di dalam etalase dengan berbungkus sebuah kotak kaca yang nampak berkilauan dari luar. Lelaki itu tertarik dengan arloji itu, kemudian meminta pelayan toko disana untuk mengambilkannya, dan sesaat setelah arloji itu ada di hadapannya, ia pun langsung tersenyum miring, kemudian mengambilnya, dan mengamat amatinya dari satu sisi ke sisi yang lain. Dan setelah fiks, ia pun memutuskan tuk membeli arloji itu. Kemudian ia pun digiring menuju kasir, dan setelah dihitung harganya, ternyata harga arloji itu bukan kaleng kaleng, melainkan seharga sebuah mobil Alphard, yaitu sekitaran 1 Milyar, ia pun berpikir sejenak, lalu mengeluarkan dompet hitamnya dari dalam saku celananya, lalu menyerahkan sebuah black card pada pelayan itu, sesaat setelah lelaki itu menyerahkan black card nya, sontak beberapa pelayan di sana langsung menatap kearahnya heran, 'bagaimana seorang anak muda sepertinya bisa memiliki black card, yang tidak bisa dimiliki oleh sembarang orang, siapakah anak ini...?'
"Gimana mbak, sudah selesai pembayarannya?" Tanya lelaki itu datar sembari menatap kearah pelayan itu malas.
"Eh, su-sudah mas, sebentar." Jawab pelayan itu sembari menatapnya sekilas, lalu fokus ke pekerjaannya lagi.
"Ini mas, Terima kasih karena sudah berbelanja di toko kami, Semoga hari Anda menyenangkan." Ucap manis pelayan itu sembari menyerahkan sebuah tas kecil berisi sekotak arloji hitam tadi pada lelaki itu.
"Sama sama." Jawabnya sembari beranjak keluar dari toko itu sembari menenteng tas belanjaan nya.
Kini ia pun memutuskan untuk pergi ke kedai es krim, guna menenangkan pikirannya. Ia berjalan dengan santainya menuju ke kedai itu, tanpa disadarinya ternyata waktu mereka di mall tersebut kurang beberapa menit lagi, dan beberapa diantara mereka langsung panik berbelanja kesana kemari, sedangkan Kaesang, ia justru berjalan dengan santainya ke kedai es krim yang ada tiga meter di depannya sembari tetap menenteng tas belanjaan nya tadi. Ia tak perduli dengan keadaan di sekitarnya, dan tetap melanjutkan langkahnya, hingga sebuah panggilan berhasil menghentikan langkahnya, dan membuatnya langsung berbalik badan, ya ibu guru itu saat ini tengah berjalan cepat kearahnya dengan menenteng dua buah belanjaannya, ia nampak sedikit kesal pada lelaki itu, Kemudian saat sudah ada di hadapannya, ibu guru itu pun langsung berkata demikian,
"Kamu kemana aja, kabur dari saya, hmm?, kamu tau gak, saya dan teman temanmu tuh udah cariin kamu dari tadi, ke sana ke mari, tapi kamu gak ada, Kamu bohongin saya tadi?, udah ayo cepat balik, waktu kita di sini sebentar lagi habis, setelah itu perjalanan kembali ke hotel, ayo." Ajak ibu guru itu sembari menaruh perasaan marah di wajahnya, kemudian berlalu pergi, diikuti lelaki itu di belakangnya. Ia tak berkata apa apa, hanya memutar bola matanya malas sembari tetap mengekor di belakang tubuh ibu guru itu, dan sesekali ia juga berkata lirih, 'cih, ketahuan gue, sialan." umpatnya lirih sembari memalingkan wajahnya kearah lain.
Bersambung.