
Kata-kata itu, mengapa Kaesang mengatakan kata-kata itu? Tyas tau dan sadar kata-kata apa yang Kaesang ucapkan. Sebuah kata-kata indah yang mungkin jika dirinya yang membacanya dia takkan bisa seperti ini. Mungkin dia akan terkesan biasa saja dan tidak akan memedulikan kata-kata itu lebih lanjut.
Namun, jika Kaesang yang mengatakannya langsung entah mengapa Tyas begitu terharu mendengarnya. Saking terharunya Tyas sampai tak mampu menahan perasaannya saat itu. Dia mulai meneteskan air matanya disaat panggilan teleponnya masih juga tersambung. Sebelum Sebelumnya jika Tyas ingin menangis dia pasti akan mencari tempat sepi atau saat dia sudah berada di rumahnya. Tyas selalu menahan tangisannya di depan orang lain. Sejak dulu, ia tidak pernah menangis di depan siapapun. Ia akan menahan tangisnya sampai ia memiliki waktu dan ruang untuk meluapkannya.
Namun, dalam situasi ini, Tyas tidak dapat menahan tangisannya lagi. Meskipun panggilannya masih terhubung, ia tetap meluapkan tangisnya dengan terus menangis. Tanpa rasa malu, ia melanjutkan tangisannya sampai Kaesang menyadari dan membuka suaranya.
"Loh kok nangis dear, kenapa, ucapanku tadi ada yang nyinggung kamu ya, atau ada yang salah sama ucapanku tadi. Kalau seumpama kamu nggak nyaman sama ucapanku tadi, aku minta maaf ya." ucap Kaesang. Dari nada bicaranya, terlihat bahwa Kaesang merasa bersalah. Suaranya yang melemah serta tarikan nafas yang terdengar kencang membuat Tyas menyudahi tangisannya itu
Lalu sembari menyudahi tangisannya, Tyas pun menghela nafas berat, "Kae, ada sesuatu hal yang pengen aku kasih tau ke kamu, tapi mungkin ini lebih terkesan pribadi sih. Kamu bersedia nggak jika aku memberitahumu sesuatu mengenai keluargaku, jika kamu ngerasa keberatan ya lebih baik nggak usah. Soalnya aku juga nggak pengen membebani pikiranmu dengan ceritaku itu."
Tanpa berpikir panjang Kaesang pun menjawab, "Dear, lebih baik kita bicarakan secara langsung deh. Soalnya hal yang termasuk pribadi seperti ini jika dibicarakan di telpon akan sangat tidak etis. Ehm bagaimana jika kita bicarakan besok saja sepulang dari sekolah?"
Tyas pun terlihat berpikir dengan usulan Kaesang itu. Memang ada benarnya juga, jika hal yang berbau pribadi seperti ini lebih baik dibicarakan secara langsung daripada melalui telepon seperti ini.
"Ehm Kae, usulanmu tadi ada benarnya juga sih, jika dibicarakan di telpon seperti ini rasa rasanya kurang pas. Jadi besok sepulang dari sekolah, kamu ikut aku bentar ya ke taman belakang sekolah. Ada sesuatu penting yang ingin kuceritakan padamu. Yaudah Kae, panggilannya aku tutup dulu ya, rasa rasanya aku kebelet banget nih, u-udah gak tahan banget. Aku tutup dulu ya, bye Kae." setelahnya Tyas benar-benar menutup panggilan itu. Dia meletakkan ponselnya di atas ranjang kemudian beranjak menuruni ranjang dan berjalan dengan tergesa menuju ke kamar mandi.
...........................................
"Sebenarnya tadi Tyas mau mengatakan apa ya, kok rasa rasanya kayak penting banget. Eum .. oh iya tadi Dinda ada ngasih gue secarik kertas kan, isinya apaan ya, gak mungkin kalo cuma bercandaan biasa kan?" Kaesang merogoh saku celananya dan mengeluarkan kertas yang tadi diberikan Dinda. Ia membuka kertas itu perlahan, dan melihat rentetan tulisan panjang yang sangat rapi dan tersusun indah. Tulisannya yang begitu indah membuat senyum Kaesang merekah tanpa disadari.
To: Kaesang
"Kae, ini aku Dinda teman SMP mu dulu. Mungkin kamu bisa lupa denganku tapi aku takkan pernah bisa lupa denganmu. Kaesang, selain senang bisa mengenalmu, aku juga ikut bangga atas semua kemampuanmu dan kepandaianmu dalam pelajaran sekolah. Sebagai teman aku sangat senang dan bangga melihat bakatmu itu, kamu ada orang yang hebat Kae. Kamu adalah orang yang mampu dalam segala bidang. Terima kasih ya karena waktu itu kamu sudah mau berteman denganku dan mengajakku masuk dalam pertemanan kalian. Aku sadar jika aku bukanlah orang yang mampu atau sepadan dengan kalian. Aku adalah orang yang miskin dan jauh dari kata mampu. Kedua orang tuaku sibuk bekerja mencari uang demi kebutuhan kami sekaligus sekolahku yang pada waktu itu aku memutuskan untuk tidak sekolah lagi karena aku merasa kasihan pada kedua orang tuaku yang sibuk bekerja dan mencari uang sana sini demi menutupi uang sekolahku ..
"Kae, mungkin ucapanku ini terkesan bertele-tele dan tidaklah berguna untukmu. Mungkin kamu takkan peduli denganku ataupun tulisan ini. Tapi aku tetap akan menulis ini dan akan mengirimkan tulisan ini padamu jika itu memungkinkan. Jika takdir mengijinkanku untuk bertemu denganmu lagi. Kae, mungkin kisah kehidupanku masih cukup panjang jika harus ku ceritakan, dan kamu pasti takkan mau membaca tulisanku ataupun kisah hidupku sepanjang itu ...
"Jadi di akhir tulisanku ini aku mau mengatakan padamu jika dulu sewaktu SMP aku sempat menyukaimu. Aku mencintaimu, dan mengagumimu dalam diam. Maaf ya karena aku dulu sempat menyukaimu padahal saat itu kamu adalah kekasih dari teman dekatku sendiri. Maaf ya Kae, karena aku sempat menaruh perasaan ini hingga saat ini aku menulis tulisan ini ..
"Kaesang sekali lagi kuucapan terima kasih banyak ya atas segala kebaikanmu di masa lalu, mungkin sikapmu begitu dingin padaku tapi aku menganggapnya adalah sebuah kehangatan. Kamu temanku dan selamanya Kamu adalah temanku mungkin Jika suatu saat kita bertemu lagi dan kamu tidak mengenaliku bagiku tidak mengapa karena kita memang sudah lama tidak bertemu. Jadi aku tidak akan marah padamu. Sebelum ku tutup pesan ini aku ingin mengatakan satu hal padamu, tetap semangat ya dan jangan pernah menyerah. Ku yakin dengan segala bakat yang kau miliki kau pasti akan diberkahi oleh kesuksesan di luar sana. Baiklah Kae, ku tutup ya, selamat malam dan selamat beristirahat. Jika kamu membaca tulisanku ku ucapkan terima kasih padamu. Aku takkan pernah melupakanmu sampai kapanpun, bahkan sampai aku tua pun aku akan tetap mengingatmu, ya ampun katanya sudah selesai ya kok sampai sini sih? Astaga, haha. Maaf ya Kae, aku terbawa suasana. Ehm ya sudah Kae, aku tutup ya selamat malam."
Pesan begitu panjang dan penuh dengan cerita ini mampu membuat Kaesang terdiam beberapa saat. Awalnya dia membaca ya hanya sekedar membaca. Tapi setelah tulisan Dinda ini masuk pada bagian Vierra entah mengapa Kaesang menjadi begitu serius dalam membacanya.
Terlebih ketika di sana tertulis jika Vierra dan juga Agnes tampak tengah merokok di dalam toilet sekolah. Setahunya sejak dia mengenal Vierra, gadis itu adalah gadis yang baik dan sangat jauh dari hal-hal seperti itu. Dia adalah gadis yang positif vibe, dan tak pernah sedikitpun terlihat nakal seperti gadis-gadis yang sering main ke tempat-tempat hiburan malam. Setahu Kaesang memang seperti itu. Tapi jika di luar Vierra memang melakukan apa yang seperti Dinda katakan ya tentu saja Kaesang tidak tahu. Selain itu di posisinya sekarang Kaesang sudah tidaklah peduli lagi dengan Agnes maupun Vierra.
Karena menurutnya sekarang hal terpenting dalam hidupnya hanyalah Tyas seorang. Hanya wanita itulah satu-satunya wanita yang mampu mengisi hatinya serta mengalihkan pikirannya dari hal-hal lain. Sejak kedatangan Tyas dan keberadaannya Kaesang sudah tidaklah peduli pada apapun juga.
Mau itu pada papanya sekalipun Kaesang sudah tidaklah peduli, karena baginya papanya pun sudah tidaklah peduli padanya jadi untuk apa Kaesang peduli padanya? Selain itu papanya hanya peduli dan fokus pada pacarnya saja. Sejak kedatangan Lisa di kehidupan papanya fokus papanya jadi berubah. Indra yang dulu selalu mementingkan Kaesang di atas segalanya kini seperti terlihat acuh padanya.
Indra memang orang yang sibuk, dulu Jika dia melakukan dinas ke luar kota pasti Indra akan sering menghubungi Kaesang atau mengiriminya pesan meski, itu hanya sebatas dibaca saja oleh Kaesang.
Sejak dulu Kaesang memang tak pernah membalas panjang pesan yang dikirim papanya. Mungkin ia hanya sebatas membalas iya atau tidak jika papanya menanyainya sesuatu. Atau jika Indra menanyakan kabarnya Kaesang hanya akan mengatakan baik atau mengirimnya emoticon jempol.
Memang sedingin dan secuek itu sifat Kaesang. Tapi Indra yang sudah paham tak pernah sedikitpun mengeluh ataupun memprotes sedikitpun. Dia tetap menerimanya apa adanya dan merangkul erat bahu Kaesang. Indra ingin lebih dekat Dengan Kaesang meski tanggapan Kaesang selalu cuek kepadanya.
"Kayaknya sebelum gue pergi dari hotel ini gue harus menemui Dinda dan berbicara dengannya empat mata. Sepertinya masih banyak hal yang dia tahu dan itu sangat berhubungan dengan gue. Huufftt ... Sebenarnya gue males banget buat nemuin dia, tapi demi nutasin rasa penasaran Gue maka Gue pun harus mengambil jalan itu ..
"Sekarang masih sekitar setengah sepuluh kayaknya di jam sekarang dia masih ada di sini kan? Apa gue temuin sekarang aja, kalau gue temuin besok kayaknya nggak bisa. Soalnya gue besok itu harus sekolah dan pasti akan buru-buru banget. Jadi mending gue temuin sekarang aja deh, dia pasti di meja resepsionis kan, kalau nggak ada bakal gue tanyain langsung ke temennya. Pokoknya rasa penasaran Gue itu harus terjawab malam ini juga ..
"Ayo, Kae, temuin dia sekarang!!" ucap Kaesang sendiri sembari beranjak bangkit dari posisinya, meraih jaketnya dari atas ranjang kemudian bergegas memakainya, dan melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar hotel.
Bersambung ...