Cintaku Adalah Kamu

Cintaku Adalah Kamu
Episode 122 -Gina dan keputusannya


Mendengar ucapan Kaesang, Tyas yang semula tersenyum langsung menurunkan senyumnya itu, dia bahkan tak hanya kaget melainkan juga syok mendengar perkataan Kaesang tadi, astaga, saking syoknya dia mendengarkan kata kata itu, dia sampai tak sadar jika kedua matanya mulai berkaca-kaca.


"Jadi kemarin itu kamu ke Surabaya karena mau di jodohin, Kae?" tanya Tyas sembari menahan air matanya.


Kaesang pun kembali meneteskan air matanya.


"Sebelumnya aku nggak tau kalau papa ngajak aku kesana itu karena perjodohan itu, kukira papa ngajak aku ke sana itu karena acara keluarga atau sekedar menghadiri pernikahan kerabat. Tapi, dear ... Huufftt ... Aku nyesel udah datang ke sana kemarin, perjodohan itu sudah membuatku terjaga sejak kemarin malam." balas Kaesang seraya menghela nafas sejenak dan menundukkan kepalanya, tangannya saling bertaut dan matanya kembali berair. Kaesang yang dulu terkenal dingin pada siapapun terutama perempuan, kini terlihat menangis di hadapan perempuan yang merupakan Guru sekaligus pacarnya.


................


"Gin, saya tau kamu menyukai putra saya, Kaesang. Tapi, bukan hanya karena kamu menyukai anak saya, kamu ingin menikahinya. Sekarang kamu sudah dewasa, sudah bekerja dan sudah mapan, lalu Kaesang .. Dia masih kelas dua SMA, belum bekerja dan sangat dingin pada siapapun. Karakternya yang cuek dan anti sosial membuat saya khawatir dengannya, dia belumlah dewasa, jangankan pada perempuan, pada saya selaku ayahnya pun sangatlah dingin. Kamu, yakin, Gin, tetap dengan keputusanmu untuk menikah dengan Kaesang? Kamu sudah berpikir matang matang sebelum memutuskan itu?" tanya Indra serius.


"Lalu kedua orang tua mu gimana, bagaimana tanggapan mereka soal keputusanmu itu?" lagi indra.


Mendengar ucapan serta pertanyaan Indra yang begitu gamblang dan serius, Gina pun terdiam beberapa saat sembari menundukkan kepalanya.


"Saya sudah mengatakannya pada kedua orang tua saya, om. Sebelumnya mereka juga sama seperti om, mereka kaget dan menentang keputusan saya untuk menikah dengan Kaesang, bahkan ayah saya saja sampai memarahi saya dan menyuruh saya untuk membuang jauh jauh keputusan itu. Tapi, setelah berbagai cara saya lakukan, dan yakinkan, akhirnya ayah dan ibu saya menyetujui juga keputusan saya. Mereka sudah lepas tangan dan menyerahkan semua resiko dari keputusan itu kepada saya. Jadi, bagaimana om, apa om tetep menolak keputusan saya?" balas Gina seraya mengangkat wajahnya dan menatap wajah indra dengan serius. terlihat mukanya berkeringat dingin, dan tangannya sedikit bergetar. Sungguh, Gina takut sekali jika Indra akan menolaknya, karena keputusan ini sudah di pikirkan dan di rencanakannya dari lama.


"Kaesang sudah saya jodohkan Gin, dengan anak teman saya di Surabaya. saya tau dan paham dengan maksud kamu, tapi sekarang dia sudah memiliki calon istri. apakah kamu akan tetap dengan keputusanmu itu?" timpal Indra seraya menautkan kedua tangannya.


"Oh ya, tapi itu masih bisa di batalkan kan? masih bisa anda bilang pada calon istri Kaesang jika anda membatalkannya. Tapi jika keputusan saya ini sudah tak bisa di tolak, dia sudah jelas dan harus om setujui. Beberapa bulan lalu saya menemukan Kaesang tengah mabuk di jalan, dia berjalan tanpa arah dan terlihat begitu lemah, dia sama sekali tak bisa menguasai tubuhnya dan berulang kali jatuh bangun di jalan. Waktu itu saya tak sengaja melihatnya seperti itu, saya kasihan padanya, lalu dengan berbekalkan rasa iba dan keberanian, saya pun membawa Kaesang ke rumah saya tuk beristirahat sampai rasa mabuknya itu sembuh. Tapi om tau, saat itu Kaesang muntah, kejang dan meracau tidak jelas, dia terus saja bilang dear dear dan dear tanpa henti, sampai saat saya membawa sebaskom air hangat untuk mengompresnya, saya terkejut saat melihatnya tiba tiba memegang tangan saya, untung saja saat itu baskom sudah saya letakkan di meja, kalau tidak pasti air berisi baskom itu sudah jatuh dan membasahi Kaesang. Om indra, sebenarnya tujuan saya mengajak Kaesang menikah itu bukan hanya semata-mata karena Saya mencintainya, tapi juga ada hal lain dibalik itu. Om tahu kan, waktu Kaesang mabuk itu dia saya bawa ke rumah saya, awalnya saya kira Kaesang akan tidur lalu sembuh seperti semula, tapi ternyata, tidak. Kaesang tiba tiba menarik tangan saya saat saya mengompresnya, dia menarik saya begitu kuat sampai saya terjatuh diatas dadanya. Huufftt ... Dia membuat saya seperti sekarang, saya menangis tanpa henti sambil merutuki diri karena akhirnya saya tidak perawan lagi. Kaesang sudah menodai saya waktu dia mabuk itu. Jadi saya mengajak Kaesang menikah, ya salah satunya karena hal itu." ucap Gina dengan durasi cerita yang begitu panjang dan jelas, saking jelasnya Gina sampai meneteskan air mata dan menghela nafas kasar.


"Anak saya memang dingin, tapi dia tidaklah nakal. Sudah gila ya kamu mengarang cerita seperti itu hanya demi mendapatkan Kaesang. Sudah berapa lama kamu menyusun semua ini, hmm?" awalnya indra masihlah kaget dengan ucapan Gina yang terlihat begitu serius. Namun, karena percaya dengan putranya, Indra pun sontak menyangkal semua tuduhan Gina itu. Dia percaya dengan Kaesang dan tak mungkin baginya sampai melakukan hal serendah itu.


"sudah saya duga jika Om pastilah tidak percaya dengan ucapan saya, om indra adalah ayah Kaesang, jadi ya sudah pasti om akan lebih percaya dengan Kaesang daripada saya. Jadi, sebelumnya saya sudah menyiapkan ini sebagai bukti jika semua ucapan saya tidaklah bohong." Gina yang semula sudah mengira jika Indra takkan percaya padanya langsung menyiapkan bukti lain jika seumpama Indra tak percaya. Dan seperti dugaannya, ternyata indra memang tak percaya padanya, dia mengira Gina telah berbohong demi keuntungannya sendiri.


setelah sebelumnya Gina merogoh ponselnya dari dalam tasnya, ia pun membuka ponselnya itu lalu mencari sebuah video yang merupakan salinan rekaman cctv di dalam kamarnya, dan setelah video itu Gina temukan, sontak ia pun langsung menyerahkan ponselnya pada indra, dia berharap setelah indra melihat video itu, ia akan percaya pada semua ucapan Gina, dan memperbolehkannya menikah dengan Kaesang.


................


Setelah sebelumnya melihat Kaesang berjalan terburu buru ke taman belakang, Zefa beserta kedua temannya pun masih juga membuntutinya dari belakang. Langkah demi langkah masih juga mereka tapaki sampai akhirnya tibalah mereka di sana.


"Zef, itu bukannya Bu Tyas ya, jadi Kaesang kesini tuh cuma mau nemui Bu Tyas doang? astaga, Zef, lihat, mereka deket banget tuh." ucap pelan Lina seraya tatapannya tak lepas dari Kaesang.


Mendengar ucapan Lina melunjaklah emosi Zefa, dia yang semula menahan nahan emosinya agar tak keluar di saat saat seperti ini harus gagal di saat Lina justru mengatakan tentang Kaesang dan juga Tyas padanya.


"Bisa diem gak Lo. Dasar, gue dah coba nahan nahan emosi gue biar gak keluar di saat saat seperti ini, gue pengen tau mereka lagi ngomongin apa, tapi lu rese banget sih Lin. Jadi gagal kan usaha gue buat nahan emosi, huh .. untung aja posisi kita gak ketauan sama mereka, kalo sampe karena ucapan gue kita ketauan, habis Lo, Lin." sahut Zefa kesal seraya mencubit lengan Lina dan memukul tangannya sedikit kuat.


Bersambung ...