
"O-oh bi-bisa mas, sebentar ya saya buatin pemesanannya dulu." ucap penjaga resepsionis itu masih dengan ekspresi gugup dan nampak gelagapan.
Hmm ...
Kaesang pun lama-lama merasa risih dengan tanggapan dari penjaga resepsionis itu. awalnya ia merasa biasa saja tapi setelah sekian lama tetap seperti itu membuat Kaesang lama-lama tidak kuat juga.
"Mbak, mbak kenapa sih gugup begitu? Ada yang salah ya sama saya?" tanya Kaesang santai lengkap dengan muka dinginnya serta datarnya yang mulai tergambar di wajahnya.
Si Mbak penjaga resepsionis yang kaget bercampur grogi pun tak mampu menahan perasaannya. Dengan hati-hati dia pun mulai mengangkat wajahnya dan menatap takut kearah Kaesang.
"Kae, Kaesang .. Kamu nggak inget sama aku Kae?" melihat si mbak penjaga resepsionis itu tau namanya pun membuat Kaesang kaget seketika.
Dengan alis mengernyit dan tangan yang mulai terlipat di depan dada Kaesang pun mulai berpikir.
Jika diingat ingat ia memang seperti kenal atau pernah bertemu dengan mbak penjaga resepsionis ini sebelumnya.
Tapi tentang di mananya dan kapan jelas Kaesang lupa. Baginya yang ada di pikirannya saat ini hanyalah Tyas seorang. Hanya sosok Tyas lah yang merajai hati serta pikirannya dan membuatnya tak menginginkan hal lain selain wanita itu.
"Mbak kok kenal saya, mbak siapa?" tanya Kaesang.
Mengetahui Kaesang melupakannya pun membuat si mbak penjaga resepsionis itu menunduk sedih seketika. Sembari menghapus air matanya yang menetes di mbak penjaga resepsionis itu sempat mengangkat wajahnya dan menatap penuh harap kearah Kaesang.
"Kae, ini aku Kae, Dinda .. Dinda Maharani temen smp kamu. Kamu lupa ya sama aku?" sahut si mbak penjaga resepsionis itu yang rupanya bernama Dinda Maharani.
Ya, Dinda Maharani. nama yang cantik dan terkesan indah di dengar oleh telinga. Namun, Kaesang yang tau dan ingat dengan Dinda pun langsung saja tersentak namun tidak begitu kaget.
Tetap dengan sikapnya yang cuek serta dingin pun Kaesang langsung menghela nafas panjang.
"Iya, gue inget Lo. Lo Dinda yang nggak ngelanjutin sekolah waktu itu. Terus kenapa kalo Lo Dinda, ada urusannya sama gue?" lagi Kaesang dingin bahkan terkesan tajam.
Dinda yang tau jika sejak dulu Kaesang memang seperti ini pun membuatnya sedih. Terlebih sejak dulu Kaesang tak pernah melihatnya. Ia tak pernah bersikap ramah pada Dinda, ataupun mengobrol santai terhadapnya.
Sikap dingin Kaesang dan sorotnya yang cuek membuat Dinda sedih dan tak kuat menahan semuanya. Semua perasaan lebihnya sewaktu SMP dulu.
"Kae, bagaimana kabarmu, kamu sekarang sekolah di mana?" tanya Dinda masih dengan begitu grogi dan sesekali juga sempat menundukkan kepalanya.
Lalu Kaesang yang sudah begitu lelah pun langsung saja menghela nafas dan memijit pelipisnya.
"Kabarku baik, dan aku sekolah di mana itu bukan urusanmu. sekarang mana kunci kamarku, aku sudah begitu lelah, ingin istirahat." sahut Kaesang dingin dan tajam.
......................
Setelah selesai mengobrol singkat dengan Dinda, dan dia juga sudah menyiapkan pemesanan kamar untuk Kaesang. Kini Kaesang terlihat berjalan santai menuju kamarnya di lantai tiga.
Walau kamar di hotel ini lumayan penuh, untung saja kamar VVIP dan VIP masih lumayan banyak. selain untuk kamar itu lumayan mahal, fasilitas di kamar itu juga cukup memadai.
Bagi mereka yang tak pernah pergi ke hotel pasti akan sangat terkejut melihat kamar semewah itu.
Ting ...
Kaesang yang memilih menaiki lift pun akhirnya tiba juga di depan kamarnya di lantai tiga. Dengan terburu buru Kaesang pun segera membuka pintu itu dengan kartu yang Dinda berikan kemudian setelah pintu terbuka serta lampu di dalamnya juga menyala, Kaesang pun segera memasukinya dan mengunci pintunya dari dalam.
Disana Kaesang pun bergegas menuju ke ranjang besar berlapis emas di sana kemudian setelah tiba di hadapannya Kaesang pun langsung menjatuhkan tubuh lemasnya ke atas tempat tidur dan mulai memejamkan mata bersiap menembus alam mimpi.
Namun, sebelum matanya benar-benar terpejam, Kaesang pun segera merogoh ponselnya dari dalam saku celananya, kemudian membukanya dan langsung bergegas menghubungi Tyas melalui panggilan WhatsApp.
.......
Hampir beberapa saat lamanya tidak ada jawaban dari Tyas. Di pukul setengah enam sore seperti ini Kaesang merasa jika Tyas pasti tengah mandi ataupun tengah makan.
Kaesang pun langsung bersungut-sungut selepas tak ada satupun jawaban dari Tyas. semua panggilannya tidak kunjung diangkat dan pesan yang dikirimnya pun tidak kunjung dibaca. Tyas terlihat online namun dia tidak kunjung membaca pesan yang Kaesang kirimkan padanya.
Huhh!
Dengan kesal Kaesang pun segera mematikan ponselnya dan meletakkannya kembali di samping tubuhnya.
"Jam segini Tyas nggak mungkin nonton drakor kan? dia sudah mengatakan padaku jika dia menyukai drakor hanya sebatas penggemar saja. Semoga Tyas tidak menjawab teleponku atau membaca pesanku ini karena dia sedang mandi. Oh iya, sekarang aku nggak membawa baju ganti, lalu bagaimana aku mandi nanti? masa dalam keadaan lelah dan lengket seperti ini aku nggak mandi?
"Huufftt .. ya udahlah beli di luar aja sekalian mampir bentar di toko Mang Cheng buat beli beberapa perhiasan untuk Tyas. Tapi jika aku harus melewati Dinda lagi aku sangat males. Eum .. sebenarnya bisa aja sih aku nyuruh bawahanku buat memberikanku pakaian dan perhiasan untuk Tyas tapi itu akan membutuhkan waktu yang lama. belum lagi tanya ini itu untuk pakaianku seperti apa. ya udahlah aku turun aja." gumam Kaesang sesaat dirinya masih merebahkan tubuhnya di atas kasur, dan masih terlihat mager untuk beranjak bangun.
Namun, mengingat jika hari sudah semakin sore pun membuat Kaesang mau tidak mau segera beranjak bangkit dari posisinya.
......................
Setelah Kaesang tiba di bawah Ia pun langsung menghela nafas lega karena ternyata Dinda tak sedang ada di sana. posisi yang menjaga resepsionis bukanlah Dinda tapi sudah digantikan oleh orang lain. dan itu tentu saja membuat Kaesang bernafas dengan lega.
Tapi saat ia sudah berada di parkiran dan akan menaiki mobilnya Ia pun langsung mendengus setelah melihat adanya Dinda di sana.
Gadis itu masih dengan mengenakan baju kerjanya Tengah duduk menyandar di mobil Kaesang sembari melipat kedua tangannya di depan dada.
Lalu saat Dinda melihat kedatangan Kaesang pun langsung membuatnya terkejut dan menjauhkan tubuhnya dari mobil Kaesang.
Dengan segera Dinda pun langsung berjalan tergesa ke arah Kaesang dan menahan langkah Kaesang di hadapannya.
"Ada apa lagi sih Din, gue mau pergi ini, ada urusan!" ucap kesal Kaesang.
Dengan muka merah dan mata berkaca-kaca Dinda pun langsung mengangkat wajahnya dan menatap penuh senyum ke arah Kaesang.
"Kae, maaf ya kalau aku harus menahan langkahmu seperti ini. tapi di sini aku pengen ngomong sesuatu penting sama kamu. sesuatu yang sudah kupendam sejak aku SMP dulu. Kamu tahu kan kalau dulu aku sempat berteman dengan pacarmu, ehm maksudku dengan Vierra?" jeda Dinda.
Kaesang yang tak ambil pusing pun langsung menganggukkan kepalanya.
"Iya, lalu?" tanya Kaesang cuek.
Masih dengan muka memerah dan keringat yang terus bercucuran pun Dinda akhirnya menundukkan wajahnya kembali.
Tangannya saling bertautan satu sama lain, dan dengan grogi Dinda pun akhirnya mengangkat wajahnya kembali. kali ini dia tidak tersenyum ke arah Kaesang tapi lebih ke perasaan takut terhadapnya.
"Kae, a-aku .." jeda Dinda. Dinda pun sempat memotong ucapannya karena merasa begitu grogi dan deg-degan.
Karena sesuatu yang akan diungkapkannya ini pada Kaesang adalah sesuatu yang sudah dipendamnya sejak lama. Sesuatu yang sudah menguasai hati serta pikirannya dan membuatnya begitu stress.
"Cepetan Din, gue mau pergi ini, udah sore!" ucap Kaesang terdengar begitu kesal.
Lalu karena merasa tak kuat akan mengungkapkan hal ini pada Kaesang yang saat ini terlihat begitu kesal padanya pun membuat Dinda langsung menyerahkan kertas yang telah disiapkannya pada Kaesang dengan terburu-buru.
"Di baca ya Kae, semoga kamu ngerti dengan apa yang kurasain dulu. Ehm aku permisi ya, mau kerja lagi." setelah selesai memberikan paksa kertas yang telah disiapkannya pada Kaesang, Dinda yang semakin grogi pun memilih untuk berpamitan dengan Kaesang dan masuk kembali ke dalam hotel.
Alasannya sih kalau ingin kerja lagi tapi Kaesang yang tahu dan melihat bagaimana ekspresi Dinda saat itu pun membuatnya yakin jika Dinda begitu grogi melihatnya di sini.
Tapi dengan apa yang ditulisnya di kertas ini pun Kaesang tak terlalu memikirkannya. Ia pun langsung saja mengantongi kertas itu dan melangkahkan kakinya menuju ke mobilnya.
Setibanya di sana, Kaesang segera membuka pintu mobilnya dan memasukinya setelah itu.
Bersambung ...