
Sayup sayup terbangunlah lelaki itu dari tidurnya, ia tegakkan kepalanya, kemudian ia regangkan tubuhnya sembari menguap. Lalu ia edarkan pandangannya ke segala arah, tak ada yang menarik, kecuali ibu guru di sampingnya ini, ia tengah tertawa kecil sembari memainkan handphonenya. Lelaki itu tak memusingkannya sama sekali, ia justru mengambil botol minum yang tadi di belinya lalu ia minum sembari menatap kearah luar jendela. Sesaat kemudian ditaruhlah kembali botol minumnya itu ke tempatnya semula, kemudian meraih handphonenya dari dalam saku jaketnya, lalu memainkannya. Ia tengah asyik dengan novel thriller dari aplikasi novel online di handphonenya, hingga tiba tiba panggilan ibu guru itu serta tepukan di punggungnya berhasil membuat lelaki itu tersentak seketika.
"Ngagetin aja Bu, ada apa?" Tanyanya datar sembari menatap kearah ibu guru itu malas.
"Gak papa, cuma mau bilang aja, tadi kamu...ehm ketiduran di pundak saya, tapi gak masalah kok, santai aja." Jawab ibu guru itu.
"Masa sih Bu, kok saya gak terasa ya, ehm maaf ya Bu, I really didn't mean to." Ucap datar lelaki itu.
"It's okay, just relax." Jawab santai ibu guru itu sembari tersenyum kearah lelaki itu.
Malu, dan tak enak hati. Ya itulah yang lelaki itu rasakan saat ini, ia benar benar malu pada ibu guru di sampingnya ini, karena ia tak pernah begini sebelumnya, tapi kejadian kali ini benar benar membuatnya malu, bahkan menatap wajah ibu guru itu pun rasanya tak sanggup. Belum lagi kalau ia sampai mengiler di baju ibu guru itu bagaimana, pasti ia akan lebih malu lagi.
"Ekhem, Bu, saya tadi gak ngiler kan ya pas lagi tidur?, maaf nih sebelumnya." Tanya lelaki itu takut takut pada ibu guru di sampingnya. Sontak ibu guru itu pun langsung menoleh kearahnya sembari tersenyum tipis.
"Gak kok, tenang aja, kamu cuma tidur nyenyak aja tadi." Jawab ibu guru itu ramah.
"Beneran Bu, syukurlah kalau gitu, takut saya kalau seumpama saya sampai ngiler gitu, mau ditaruh di mana harga diri saya nanti, huuft." Ucap lelaki itu sembari menghembuskan nafas kasar. Kemudian pandangannya pun kembali terarah kearah luar jendela.
"Kok sampai segitunya sih, gak papa, santai aja." Ucap santai ibu guru itu.
"Ehm iya deh. Btw makasih ya bu udah kasih pundak ibu buat bantal saya tidur tadi, saya benar benar gak enak lho sama ibu, I am really sorry." Balas lelaki itu, dengan tatapan teduh, pandangannya pun tak lepas dari ibu guru itu.
"Sama sama, Sang, santai aja."
...Sesaat kemudian......
Setelah obrolan panjang mereka, tak terasa Ternyata bis ini dan yang lain telah sampai di pelataran sekolah Genius high school. Setelah bis terparkir dengan rapi di parkiran yang di sediakan, maka turunlah mereka semua dari dalam bis masing masing. Mereka semua tengah berhamburan memeluk keluarganya yang saat ini tengah menjemputnya, Tetapi tidak dengan Kaesang, ia justru menjauh dari sana, tiga meter jaraknya dari teman temannya, lalu menelpon supirnya tuk menjemputnya saat ini di sekolah.
"..."
Jemput saya di sekolah, sekarang..
"..."
Iya, cepat.
Setelah selesai menelpon, masuklah kembali ia kedalam sekolahnya. Ia senderkan tubuhnya ke tugu gerbang, kemudian menatap arlojinya sekilas, lalu kembali berkutat pada layar handphonenya. Ia iseng menscrol scroll akun Instagram milik seorang artis terkenal hingga sebuah panggilan terdengar jelas di telinganya yang terasa tak asing lagi untuknya.
"Den Kaesang, mari den?" Ucap seorang pria paruh baya yang bernama mang Jaja itu pada Kaesang. Saat melihat sopirnya itu telah berdiri menyender di mobilnya yang tak jauh darinya, Berjalanlah ia kearah sopirnya itu, kemudian masuk kedalam mobilnya itu dengan malas.
Setelah Kaesang masuk kedalam mobil, dan mang Jaja pun menyusul, maka berangkatlah mereka tuk pulang ke rumah. Kaesang begitu lelah dengan Bali, sebab Bali adalah saksi dimana semua masalah tiba tiba datang padanya begitu saja.
Setelah beberapa saat, tibalah mobil mereka tepat di depan rumah megahnya, ia pun segera keluar dari mobil sembari menenteng tas kecilnya. Ia pun berjalan kearah pintu, sesaat kemudian, ia tarik knop pintunya, kemudian masuklah ia kedalam rumahnya itu. Sembari berjalan, ia pun juga tengah berbisik pada sopirnya itu.
"Mang, papa masih di rumah?" Tanya lirih lelaki itu.
"Masih, den, gak tau kenapa tiba tiba tuan mutusin buat tinggal lebih lama di sini. Ehm Kangen Aden mungkin." Jawab lirih sopirnya itu.
"Gaklah, gak mungkin itu, udah aku mau ke kamar, istirahat." Timpal Lelaki itu cuek sembari berjalan kearah kamarnya, dan meninggalkan sopirnya itu sendirian di sana.
"Kaesang..." Panggil seorang pria dari arah belakangnya, dengan suara menggema hingga ke seluruh ruangan. Dan setelah ditengok, Yap benar pria itu adalah papanya sendiri, ia tengah menatap kearah Kaesang dengan tatapan marah serta penuh tanda tanya. Kemudian majulah ia, dan berhenti tepat satu meter di depan lelaki itu.
"Apa?" Tanyanya dingin sembari menatap malas kearah papanya.
"Kamu kenapa sih?, kok ditelponin gak diangkat angkat, kegiatan kamu di Bali padat banget ya, sampai sampai gak jawab telpon dari papa?, ehm kamu gimana kabarnya selama di Bali?, baik baik aja kan?, papa khawatir banget lho sama kamu, papa pengen denger suara kamu, eh kamunya di telpon malah gak diangkat angkat. Tapi gimana study tour nya, seru?" Tanya papanya lembut, akan tetapi Kaesang justru hanya diam saja sembari menatap papanya malas.
"Udah selesai interogasinya, aku capek mau istirahat." Jawab lelaki itu dingin, kemudian berlalu pergi masuk kedalam kamarnya, dan meninggalkan papanya sendirian di sana.
"Kamu...masih marah ya sama papa," Ucap Indra sembari menyeka sebulir air mata yang tak sengaja menetes dari pelupuk matanya, kemudian berlalu pergi dari sana.
Di dalam kamar lelaki itu tengah duduk sembari menyender kearah pintu dengan ruangan yang sedikit gelap. Ia tengah menatap kedepan dengan tatapan sendu, ia tak sedang memikirkan apa apa, akan tetapi entah kenapa, tiba tiba air mata jatuh begitu saja dari pelupuk matanya. Dengan segera ia hapus air matanya itu, kemudian beranjaklah ia dari duduknya, mengambil baju serta celananya, kemudian masuklah ia kedalam kamar mandi pribadinya, ia guyur tubuhnya dengan air yang mengalir deras dari shower diatasnya, ia biarkan begitu hingga kurang lebih beberapa menit, kemudian barulah ia kenakan sabun di seluruh bagian tubuhnya.
...Sesaat kemudian.......
Sesaat kemudian, selesailah ia dari mandi panjangnya, kemudian keluarlah ia dari dalam kamar mandinya, dengan setelan kaos putih polos serta celana training hitam, lelaki itu saat ini tengah berdiri di depan cermin besarnya, ia sisir rambutnya, kemudian ia kenakan di wajahnya skincare rutinnya, kemudian disemprotkannya parfum ke seluruh bagian tubuhnya. Ia telah berdandan begitu rapi, dan juga wangi akan tetapi ia sama sekali tak pergi kemana mana, memang begitulah Kaesang, ia selalu berdandan begitu rapi, dan wangi hanya untuknya sendiri. Ia tak keluar kamar setelah itu, lelaki itu justru duduk di bawah terangnya lampu kecil di meja belajarnya, ia tengah menulis sebuah cerpen dengan tema percintaan, padahal ia sudah lama sekali tak pernah merasakan yang namanya cinta itu. Walaupun ia terkenal dengan sifat dinginnya pada siapapun terutama pada wanita, akan tetapi ia adalah seorang penulis novel yang terkenal, telah ada beberapa buku bukunya yang masuk kedalam daftar buku best seller dengan penjualan paling laris di pasaran, ia telah menulis begitu banyak novel serta cerpen dari berbagai genre, dan semuanya telah berhasil ia terbitkan, serta diantaranya juga masuk kedalam daftar buku best seller juga. Ia bangga dengan karyanya itu, dan tak menyangka dengan kemampuan yang dimilikinya ini, awalnya ia menulis novel hanya sebagai kegiatan untuk mengisi waktu luangnya saja, tapi semenjak ia masukkan novelnya itu kedalam sebuah aplikasi baca online, sedikit demi sedikit ada orang yang minat baca novelnya, hingga pembacanya mencapai 1 JT lebih, ia begitu bahagia saat itu, hingga suatu kejadian berhasil merubah segalanya, ia jadi mengubur bakat menulisnya itu juga karena kejadian itu, sebab orang yang begitu berperan dalam kepenulisannya itu telah pergi meninggalkannya, dan mungkin tak pernah kembali.
Bersambung.