
Cuaca pagi ini lumayan bagus, sinar matahari memancar sedikit terik dan angin yang berhembus pelan sontak membuat Tyas tersenyum seketika.
"Kae, cuacanya bagus ya." ucap Tyas seraya menoleh sekilas kearah Kaesang.
Kaesang yang mendengar itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya, sebagai pribadi yang tertutup dan cuek membuat Kaesang tak terlalu peduli dengan cuaca di sekitarnya, ia tergolong malas dan tak menyukai hal berbau cuaca namun melihat Tyas tersenyum dan menyukai cuaca pagi ini yang memang lumayan cerah sontak membuat Kaesang menatap sekilas kearahnya sembari tersenyum. Kaesang senang melihat senyum Tyas itu, karena senyum Tyas itu adalah senyum mahal dan sulit di dapatkannya di manapun, ia merasa tenang dan damai disaat melihat senyum Tyas dan wajahnya yang begitu cantik.
"Iya dear, cerah cuacanya sekarang, ngomong ngomong tumben kamu nanyain cuaca segala, kenapa?" tanya balik Kaesang.
Mendengar itu tersenyumlah Tyas, sembari menganggukkan kepalanya ia pun mengalihkan atensinya kearah jendela mobil.
"Nggak papa Kae, cuma lagi suka aja sama cuaca, dan pas banget cuaca pagi ini lumayan bagus, jadi cucian ku tadi bisa kering." balas Tyas masih dengan ekspresi dan posisi yang sama.
Setelah menghabiskan waktu beberapa menit dan melewati jalan berkelok kelok, sampailah Kaesang dan juga Tyas di Genius high school. sembari memarkirkan mobilnya, Kaesang pun acap kali menggoda Tyas dan membuatnya tersipu malu.
Dan saat Kaesang menggoda Tyas itu tak sedikit pasang mata yang melihatnya, para gadis yang jalan melewati mobilnya selalu menatap kearah mobil Kaesang dalam waktu yang lama sembari berbisik bisik satu sama lain.
"Kae, apaan sih kamu, diliatin cewek cewek tuh." ujar Tyas seraya menepuk tangan Kaesang yang menggelitiki pinggangnya dan menunjuk kearah para gadis yang melihat mereka dari arah luar mobil.
"Biarin, emang aku peduli, hmm?" balas Kaesang seraya tetap dengan sikapnya yang terus menggelitiki pinggang Tyas dan tersenyum jahil padanya.
Tyas yang terus saja menggeliatkan tubuhnya karena geli sontak membuat Kaesang semakin bersemangat tuk menggelitikinya terlebih senyum jahil Kaesang tak pernah surut sedari tadi, ini adalah pertama kalinya ia tersenyum dan sejahil ini pada seorang wanita.
"Eh, itu Kaesang sama Bu Tyas ngapain sih, kok dari tadi nggak keluar keluar, mana mereka deketan banget lagi duduknya, huh sebel banget gue, pagi pagi udah dikasih racun gini sama mereka berdua." sahut kesal seorang gadis yang sedari tadi menatap kearah Kaesang dan Tyas dari arah luar mobil, kedua tangannya terlihat terkepal kuat dan sorot matanya yang juga menatap tajam kearah kedua pasang itu sontak membuat kedua teman di sampingnya hanya mampu menggelengkan kepalanya dan menghela nafas kasar.
walaupun gadis itu tak mengatakannya terlalu keras, Kaesang masih dapat mendengar ucapannya dengan sangat jelas. Ia bahkan tau ekspresinya bagaimana dan tangannya bagaimana, Kaesang tau walau hanya mengasal saja karena semenjak hubungannya dengan Tyas terbongkar semua anak anak di Genius high school terutama perempuan menjadi sinis terhadapnya, terlebih disaat Kaesang mengumbar kemesraan dengan Tyas di tempat umum, namun mengetahui respon mereka seperti itu apa Kaesang peduli? Tidak. Ia sama sekali tak peduli dan tak menggubris mereka sama sekali, ia justru semakin sering mengumbar kemesraan dengan Tyas di Genius high school bila ia menginginkannya.
Lalu disaat para gadis di luar mobil Kaesang telah pergi dan suasana di luar juga lumayan sepi Tyas pun segera menegur Kaesang dan mengajaknya untuk keluar mobil. Selain karena waktu telah siang dan kelas juga segera dimulai Tyas pun merasa tak enak dengan yang lain, ia merasa malu bila harus mengumbar kemesraannya di muka umum terlebih di sekolah, apalagi posisinya sekarang sebagai guru, Yap, guru yang harusnya memberi contoh yang baik ke muridnya dan mengajari ilmu ilmu yang bermanfaat malah memacari seorang muridnya, apa respon dari murid dan guru yang lain? Apakah mereka dapat terima begitu saja? Apa karena posisi Kaesang sebagai anak penyumbang dana terbesar bisa menutup mulut mereka? Jika iya, itu bagus. Tapi jika tidak, bagaimana? Apakah hubungan ini bisa terus langgeng dalam waktu yang lama?
Di koridor sekolah, Kaesang terus mengajak ngobrol Tyas dan sesekali mengatakan candaannya padanya. Ia mengabaikan para gadis yang menatap sinis kearahnya dan membalasnya dengan melirik tajam kearah mereka.
"Sayang .." Tyas yang kaget karena Kaesang memanggilnya dengan sebutan sayang sontak beralih menatap kearahnya dan memancarkan aura bingung di wajahnya.
"I love you." setelah mendekatkan wajahnya pada telinga Tyas dan membisikkan kata-kata romantis itu pergilah Kaesang dari sana, ia berjalan menuju kelasnya dan meninggalkan Tyas yang masih terdiam di tempatnya karena terkejut.
namun, karena Tyas tak mau ambil pusing akan hal itu segera berjalan kembalilah ia kearah ruang guru, ia berjalan sembari tersenyum senyum mengingat ucapan Kaesang tadi. Bukan hal pertama untuk Tyas mendengar kata kata romantis itu dari Kaesang, tapi jika mendengarnya lagi kenapa Tyas mulai deg degan dan menjadi salah tingkah?
"Kaesang, laki laki itu sangat nakal, dia tadi menggodaku dan terus menggelitikiku, mengatakan sesuatu lucu tentangku yang bisa kusebut aib, dan tak henti hentinya membahas ciuman kami kemarin malam, dia terus membuatku malu dan tertawa sendiri dengan semua yang Kaesang lakukan, tapi melihatnya seromantis itu kenapa aku merasa kaget dan deg degan ya, astaga Tyas, apa yang terjadi denganmu, kenapa hal seperti ini saja kamu tidak tau?" batin Tyas seraya menepuk jidatnya pelan dan menghela nafas kasar.
beberapa saat kemudian sampailah Tyas di depan ruang guru, seperti biasa ia pun masuk dan menyapa semua guru yang telah hadir di sana, namun tanggapan mereka tetaplah cuek kepadanya, tidak semuanya cuek ada yang tetap menanggapinya sembari tersenyum namun itu tidak banyak. Kebanyakan dari mereka terus cuek dan mengabaikan Tyas, namun karena itu sudah resiko yang harus di terimanya ia pun hanya mampu tersenyum dan mengiklaskan respon mereka terhadapnya, ia awalnya memang merasa marah dan sakit hati namun karena ini semua terjadi karena ulahnya sendiri, ia pun hanya mampu menghela nafas menerimanya.
Sesaat Tyas mulai duduk di mejanya ia pun mendapati Bu Meri, guru bahasa Indonesia sekaligus rekan kerjanya tengah berjalan kearahnya sembari tersenyum. Awalnya ia bingung dan penasaran dengan senyum rekan kerjanya itu, namun setelah ia sampai dan mengatakan tujuannya mendatangi Tyas dan tersenyum, Tyas yang awalnya tersenyum menjadi berdecak kesal.
"Bu Tyas, nanti sepulang sekolah anda temani saya untuk menjilid dan mencetak buku olimpiade di perpustakaan, setelah itu selesai anda temani saya juga untuk makan siang di warung makan di sebelah sekolah, tenang saja saya juga akan mentraktir anda kok, sebagai bentuk terima kasih. Baiklah Bu, cuma itu yang ingin saya katakan, terima kasih dan selamat bekerja." setelah selesai mengatakan tujuannya, Bu Meri itupun membalikkan badan dan berjalan kembali ke mejanya, bahkan tanpa menunggu respon dari Tyas, ia pun membiarkan itu dan seolah tak peduli.
"Astaga, Bu Meri kena sakit apa sih, kok tiba-tiba memintaku untuk menemaninya, aneh deh. Biasanya kan dia selalu cuek kepadaku, bahkan sebelum beritaku dengan Kaesang tersebar pun Bu Meri sifatnya sudah seperti itu padaku, tapi ya sudahlah semoga saja ia sudah berubah sekarang." ucap lirih Tyas seraya mengeluarkan buku-bukunya dari dalam tas miliknya di atas meja.
......................
Kaesang yang terus berjalan akhirnya sampai juga di depan kelasnya, dengan langkah biasa dan sorot datarnya ia pun memasuki kelasnya itu. Di dalam sudah banyak teman sekelasnya yang datang dan bercanda satu sama lain, tapi di saat tatapan Kaesang ia arahkan ke belakang, ia pun mendapati Zeya tengah menulis sesuatu di bangkunya, wajahnya terlihat serius dan seperti mengerjakan sesuatu yang penting, namun melihat Zefa datang ke meja Zeya dan memukul mejanya keras, sontak membuat Zeya yang semula tengah fokus menulis sesuatu menjadi terganggu.
Gadis itupun mengalihkan pandangannya kearah Zefa dan menatap tajam kearahnya.
"Sekarang Lo ikut gue, ada hal penting yang mau gue omongin sama Lo." ucap Zefa dengan nada tinggi dan tatapannya yang sangatlah tajam menatap kearah Zeya yang juga menatapnya sama.
Kaesang yang tak peduli pun tak menggubris obrolan mereka, ia pun beranjak menuju bangkunya dan duduk disana dengan acuh. Namun melihat Zefa sekasar itu mengobrol dengan Zeya kenapa ia merasa terganggu ya?
"Kalo gue nggak mau Lo mau apa, hah?!" sahut Zeya dengan nada tinggi pula.
Semua anak termasuk Kaesang yang melihat Zeya seperti itu langsung merasa kaget. Karena selain Zeya anak baru, dia juga termasuk pribadi yang tertutup seperti Kaesang, dia tak pernah tersenyum dan mengobrol dengan siapapun selain Kaesang dan Zefa hari ini.
"Sial, Lo nantangin gue hah, cepet ikut gue atau gue sakiti Lo seperti dulu lagi?" melihat respon Zeya seperti itu membuat Zefa marah seketika, sembari mengepalkan kedua tangannya dan menatap tajam kearah Zeya, ia pun menjadi tak sabar untuk mencakar Zeya dan memukulinya tanpa ampun.
mendengar ancaman Zefa seperti itu sontak membuat Zeya tertawa seketika, sembari mendekatkan wajahnya ke wajah Zefa, ia pun membisikkan sesuatu padanya.
"Zeya yang sekarang bukanlah Zeya yang dulu, dia yang dulu lemah dan mudah sekali ditindas sekarang telah mati. Kini orang yang ada di hadapan Lo ini adalah Zeya yang sekarang, dia tidaklah lemah seperti dulu, kekuatannya dan kecerdasannya tidak perlu Lo raguin lagi. Jadi mau Lo ancam gue bagaimanapun caranya, gue gak peduli dan gue nggak takut. Karena Lo yang sekarang hanyalah semut bagi gue." setelah mengatakan kata-kata pedas itu Zeya pun beranjak duduk kembali di bangkunya dan melanjutkan kegiatannya tadi, yaitu menulis sesuatu di bukunya.
Zefa yang begitu marah langsung beranjak pergi dari sana, ia pun kembali duduk di bangkunya dan tetap menatap tajam kearah Zeya.
"Tuh dua anak kenapa lagi astaga, capek gue lihat mereka berantem tadi, mana si Zeya ngomongnya pedes banget lagi. Ternyata dia bisa seserem itu ya kalo hadapan musuh, jadi ngeri sendiri gue." batin Kaesang seraya membuka tasnya dan mengambil sebuah buku di sana.
"Kae, nanti pas mau belajar kelompok di rumah Lo, gue ngikutin lo di belakang ya, gue bawa motor." disaat Kaesang mulai membuka buku yang diambilnya dan akan membaca, ia pun kaget disaat Zeya tiba-tiba mengatakan hal itu padanya.
Lalu tanpa berpikir apapun lagi mengangguklah Kaesang mendengar ucapan Zeya itu, ia tak peduli Zeya mau naik apa ke rumahnya, mau ia bareng bersamanya ataupun tidak, ia tak peduli. Asal bisa segera belajar untuk olimpiade dan mengikuti olimpiade itu sendiri bagi Kaesang sudah lebih dari cukup.
"Terserah Lo, pokok pas kita belajar nanti Lo nggak berisik dan buat ribut bagi gue nggak masalah." balas Kaesang tanpa menoleh sedikitpun.
Mendengar respon Kaesang itu mendidihlah darah Zeya seketika, ia teringin marah dan mengomeli Kaesang seperti saat ia mengomeli Zefa tadi. Namun karena ia tak mau ambil pusing, ia pun hanya menganggukkan kepalanya dan mengiyakan ucapan Kaesang.
"Iya, bagus deh kalo gitu." sahut Zeya sembari tetap dengan kegiatannya dan tanpa menoleh sedikitpun.
Bersambung ...
(GUYS, TERIMA KASIH YA SUDAH SETIA DENGAN KARYAKU INI. JIKA BERKENAN BOLEH LOH KALIAN LIKE DAN KOMEN, UNGKAPIN APA YANG KALIAN RASAIN SELAMA BACA KARYAKU INI. JIKA ADA YANG SALAH ATAU BIKIN KALIAN NGGAK NYAMAN TOLONG KASIH KOMENTAR KALIAN YA, TERIMA KASIH AND SEE YOU)