
Kelanjutan episode kemarin....
Selang beberapa saat kemudian....
Seorang Wanita dewasa saat ini tengah berjalan kearah parkiran sembari memainkan handphone di tangannya, ia tengah membalas beberapa pesan yang masuk di handphonenya itu, lalu berhentilah ia sesaat setelah orang yang dicintainya itu mengirimkan sebuah pesan padanya, ya, di pesan itu ia diberi tahu jikalau ia setelah ini harus berjalan sekiranya satu meter dari kediaman zefa, agar ia dapat pulang bersama dengan pria tersebut, tanpa ada yang mencurigainya, lalu diiyakan saja oleh Tyas, kemudian disimpannya handphone milik nya itu kedalam sling bag hitamnya, lalu berjalanlah ia ke tempat seperti yang diberitahu oleh pasangannya tadi.
Disisi lain seorang pria tampan dengan setelan coolnya tengah berada di dalam Mobilnya sembari menunggu seseorang, berulang kali ia menengok kearah kaca spion mobilnya, berharap seseorang yang ditunggunya itu segera muncul, tapi sedari tadi tak dilihatnya orang yang dicarinya itu, makanya sekarang ia sedikit khawatir dengannya.
Lalu beberapa saat kemudian, dari satu meter di belakangnya nampak seorang wanita tengah berjalan tergesa gesa kearah mobil pria tersebut, lalu tersenyumlah pria itu kemudian membuka kunci pintu samping, agar wanita tersebut bisa masuk kedalam.
"Maaf ya lama." Ucap wanita tersebut, sembari masuk kedalam mobil pria ini kemudian menutup pintunya kembali.
"okay dear, just relax." Balas pria tersebut sembari menengok kearah wanita cantik di sampingnya.
"Ada apa?, kok kamu buru buru pulang?" Tanya lembut Tyas sembari menengok kearah Kaesang yang saat ini tengah sibuk menyetir.
"Gak ada, cuma males aja." Jawabnya singkat tanpa menoleh sedikitpun, dan tetap fokus menyetir.
"Masa sih?!, yakin cuma males aja, atau ada problem problem gitu saat di sana tadi, tapi pas aku gak ada?" Tanya Tyas lagi sembari tersenyum miring, dan menaikkan alisnya berulang kali, lalu menengok kearah Kaesang di sampingnya.
"Apaan sih kamu, gak ada, cuma males aja kok." Timpal Kaesang dengan nada kesal, kemudian menengok kearah Tyas sekilas lalu kembali fokus menyetir.
"Iyadeh percaya." Balas Tyas mengalah, kemudian meraih handphone miliknya dari dalam Sling bag hitamnya, lalu membukanya, dan memilih tuk memainkan handphonenya itu, lalu mengacuhkan Kaesang di sampingnya.
"Dear..?" Panggil Kaesang pada perempuan di sampingnya.
"Hmm." Tanpa menoleh sedikitpun, perempuan itu malah asyik pada handphone di tangannya, dan memilih tuk mengacuhkan Kaesang.
"Lagi liat apa sih, seru banget sampai cuekkin aku." Tak ada satupun jawaban yang keluar dari mulut Tyas, ia masih fokus pada drama Korea yang tengah ditontonnya itu.
"Dear, udah Napa sih, aku ada salah ya sama kamu, sampai kamu cuekkin aku gitu?" Tanya Kaesang akhirnya.
"Gak ada, cuma males aja." Jawaban yang sama seperti yang Kaesang lontarkan tadi sesaat menjawab pertanyaan dari Tyas. Sontak Kaesang pun langsung meminggirkan kendaraannya, menghentikannya seketika, lalu menatap Tyas heran.
"Kok berhenti?" Tanya Tyas tanpa menoleh sedikitpun, dan tetap pada handphone di tangannya.
Tanpa menjawab pertanyaan dari Tyas, Kaesang justru merebut paksa handphone milik Tyas itu dari tangannya, kemudian mematikan paksa drama Korea yang tengah terputar itu lalu menunjukkannya pada Tyas sembari tersenyum jahil.
"Kae, balikkin, scene pentingnya keburu kelewat nanti. Ayolah kae, please, Lee min ho udah mau nongol itu. please kae, ayolah." Rengek Tyas sembari berusaha merebut handphone miliknya itu dari tangan Kaesang, tapi karena ia kalah tenaga dengannya, ia pun tak berhasil merebut handphone miliknya itu, dan lebih memilih pasrah, sembari melipat kedua tangannya di depan dada, kemudian memalingkan wajahnya kearah lain.
Saat Kaesang mendekat, dan menengok kearah wajah kekasihnya itu, ia pun tersenyum senang saat mendapati kekasihnya itu tengah sebal, dan juga cemberut. Tapi sesaat kemudian, ia pun langsung merasa bersalah, kemudian menarik lembut tubuh Tyas ke dalam dekapannya, memeluknya erat, kemudian meminta maaf padanya.
"Maaf dear, aku gak bermaksud," Maaf tulus Kaesang, sembari tetap memeluk Tyas dalam dekapannya.
Bingung dengan semua yang Kaesang lakukan padanya, juga terkejut dengan Kaesang yang tiba tiba memeluknya. Tyas langsung grogi, dan jantungnya berdetak kencang saat ia tiba tiba di tarik Kaesang dalam dekapannya, lalu dipeluknya erat. Sudah lama ia tak merasakan momen seperti ini, setelah kenangan pahit setahun yang lalu. Tapi tahun ini, seorang Kaesang, yang notabenenya adalah muridnya di sekolah, berhasil merebut hatinya, dan membuatnya tak bisa kehilangannya, walaupun ia sadar jika tak selamanya ia dapat selalu berada di sisi Kaesang.
"Kae, are you okay?" Tanya Tyas sembari melepaskan diri dari pelukan erat Kaesang, lalu menatapnya lekat.
"I'm not good until you're cool like before, "(Aku tidak baik sampai kamu cuek padaku seperti tadi)
"Tyas, cukup, udah, ntar lagi okay." Ucap Kaesang sembari tersenyum tipis kearah Tyas, dan berhasil menghentikan promosinya, lalu kembali menatap Kaesang sebal.
"Belum selesai, kae, masih ada lagi." Protesnya.
"Iya dilanjut nanti ya, sekarang kita pulang dulu okay." Bujuk Kaesang sembari menyentuh bahu Tyas lembut.
"Hmm yaudah deh, ehm tapi kae, nanti kita nonton bareng yuk," Ajak Tyas. Setelah mendengar itu, Kaesang pun langsung terlonjak kaget, sebab dari dahulu kala ia sama yang namanya Drakor maupun segala yang menyangkut Korea tidak suka sama sekali, bahkan benci, beda seratus delapan puluh derajat dengan Tyas, yang notabenenya menyukai segala yang berbau Korea.
"Hah, APA?!!, enggak, gak mau." Tolak keras Kaesang, sembari memalingkan wajahnya kearah lain.
"Ayolah kae, please, sekali ini aja ya, kumohon." Bujuk rayu Tyas. Tapi walaupun Tyas telah berkata semanis apapun tuk membujuk Kaesang, hati Kaesang tetap kekeh jika ia takkan pernah melihat yang namanya Drakor lagi.
............................................................
...Di kediaman zefa......
Ditengah mewah, juga ramainya acara di sana, zefa yang notabenenya dia adalah si empunya acara tersebut justru tengah mondar mandir sembari mencari keberadaan seseorang, yang tak dilihatnya lagi setelah problem di kolam renang tadi.
"Zef, sebenarnya lu lagi nyari siapa sih dari tadi?" Tanya Lina sembari menatap punggung zefa yang tengah mondar mandir tak jelas.
"Kaesang, Lin. Dari kejadian di kolam tadi gue udah gak lihat dia lagi, bahkan dicariin juga gak ketemu, apa dia pulang ya, Mobilnya aja gak ada, tapi masa iya pulang sih, kok gak bilang bilang gue." Ucap zefa sembari menghentikan langkahnya tepat di depan Lina, lalu menundukkan kepalanya bingung.
"Tadi Kaesang di sana, trus lihat drama Lo gitu?, UPS, sorry gak sengaja." Ucap lina keceplosan. Setelah menyadari jika ucapannya tadi ada yang salah, sontak Lina pun langsung menghentikan ucapannya sembari menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Ish, jaga mulut Lo. Ntar kalo bokap gue dengar bisa mati gue. Kan Lo tahu sendiri kalo yang gue lakuin tadi, sampai gue rela relain nyebur ke kolam itu semata mata agar image si cupu itu jelek di mata bokapnya. Tapi kalo sampai tahu itu semua cuma sandiwara gue, ya bisa dicoret gue dari kartu keluarga. Argh, inget ya kalian berdua, jangan sampai ada yang tahu soal ini, ngerti, kalo sampai kalian bocorin ini ke siapapun, terlebih ke bokap gue, abis kalian." Ancam zefa sembari mengecilkan suaranya.
"Iiya, aman kok di kita." Ucap Zelyn dengan nada takut, sembari menyenggol bahu lina di sampingnya, yang terlihat ia tengah menundukkan kepalanya, dan juga nampak takut dengan ancaman yang zefa lontarkan. Padahal ia sendiri tahu jika apapun yang zefa ancamkan pada mereka itu hanyalah main main saja, tapi jika benar itu akan sangat menakutkan.
"Sayang, mama cariin dari tadi ternyata di sini. Ditungguin teman teman kamu tuh, di depan," Seorang wanita paruh baya dengan gaun hitamnya tiba tiba datang ke tempat mereka dan membuyarkan obrolan serius yang mereka lakukan. Dan mereka pun berlagak seperti tak terjadi suatu hal apapun.
"Oh iya ma, entar lagi aku kesana." Balas zefa sembari tersenyum manis kearah mamanya yang berdiri tepat di hadapannya.
"Yaudah, mama kesana dulu ya." Ucap perempuan itu sembari beranjak pergi dari sana, tetapi sebelum itu ia sudah terlebih dahulu mengelus puncak kepala putri kesayangannya, lalu pamit pergi pada kedua teman putrinya itu. Saat melihat punggung perempuan itu mulai menjauh, legalah mereka, lalu zefa pun beranjak pergi dari sana ke tempat yang di beritahu oleh mamanya tadi guna menemui teman temannya, tapi tak diikuti oleh Lina, juga zelyn, mereka berdua tetap diam di tempatnya sembari menatap punggung zefa yang mulai menjauh.
.............................................................................
"Gak, gak mau, dear please lah, yang lain aja oke, tapi jangan Drakor, kumohon." Tolak keras Kaesang sembari menatap Tyas memelas.
"Emang kenapa sih kalau Drakor, kok kayaknya kamu gak suka gitu kalau aku ajakin nonton Drakor?, kenapa sih?, ada trauma sama Drakor?" Tanya lagi Tyas sembari tersenyum tipis lalu kembali menatap Kaesang lekat.
"Ya gak suka aja, gak tahu kenapa, aku gak suka banget kalau sama yang namanya Korea gitu. Tapi kalau trauma kayaknya gak sih." Jawab Kaesang datar sembari memalingkan wajahnya kearah lain.
"Padahal mereka hebat hebat loh, tapi yaudahlah, yuk pulang, dah malam." Ucap Tyas akhirnya.
"Okay, nih handphonemu." Balas Kaesang sembari menyerahkan handphone milik Tyas itu pada si empunya, lalu menyalakan kembali mobilnya, dan beranjak pergilah mereka dari sana.
Bersambung.