
...Kelanjutan dari episode kemarin......
Di keesokan paginya kaesang terbangun dengan posisi miring menghadap tepat kearah jendela, dan karena kemarin ia sempat menyikap sedikit tirainya, dan lupa menutupnya kembali, alhasil pagi ini ia disilaukan dengan sorot sinar matahari yang masuk menembus kaca jendela begitu saja, dan langsung menerpa wajahnya. Ia bangkit dari tidurnya, meraih handphone miliknya dari atas nakas, lalu sembari mengucek sebelah matanya, dan menguap ala orang baru bangun tidur, ia pun membuka handphone miliknya itu, ia pandangi jam di handphone miliknya tersebut, dan selepas waktu menunjukkan pukul setengah tujuh pagi, dirinya pun lantas mematikan kembali handphonenya itu, menaruhnya asal di sebelah bantalnya, kemudian bangun dari duduknya, ia regangkan tubuhnya, lalu mulai melangkahkan kakinya menuju kamar mandi selepas itu.
Kaesang sebelum ini sudah menghubungi Tyas, guna menanyakan padanya, apakah ia sudah ada rencana pulang ke Jakarta atau belum, jika sudah maka kaesang akan menemuinya nanti, tapi selepas menunggu jawaban dari Tyas beberapa saat lamanya, ternyata semuanya tak sesuai dengan apa yang kaesang harapkan, ya Tyas mengatakan jika ia belum bisa kembali ke Jakarta, mengingat kondisi neneknya yang belum sepenuhnya membaik, maka dari itu dirinya pun memutuskan tuk akan tetap disana sampai kondisi neneknya benar benar membaik, mungkin akan berlangsung selama dua atau tiga hari kedepan. Kaesang yang tak mau ambil pusing, mengiyakan saja apapun yang dikatakan oleh Tyas, walaupun di hati kecilnya ia tetap merasa ada kejanggalan di perkataan Tyas tersebut.
...................................................................
Saat baru terbangun dari tidurnya, Tyas berangsur lega sebab tak mendapati adanya Dokter Ridwan di dalam ruangannya, sebab sedari kemarin ia betul betul merasa tak enak padanya, sekaligus merasa tak nyaman, apalagi mengingat semua kebaikan beliau itu, Tyas mulai bangkit dari tidurnya, dan duduk sembari memutar pandangannya kesegala penjuru ruangan, ia akan menunggu keputusan dari dokter hari ini, dan jika kondisinya sudah membaik, maka ia putuskan akan pulang saja hari ini, dirinya betul betul sudah begitu rindu dengan suasana rumahnya, hingga ia tak memikirkan apapun lagi selepas itu.
Lalu tak berselang lama selepas itu salah seorang dokter pun mulai memasuki ruangan, Tyas lagi lagi terkejut karenanya, sebab dokter tersebut tak datang sendiri melainkan juga ada dokter Ridwan yang turut masuk, dan kini mengambil tempat tepat disamping ranjang Tyas berada, dan itu lagi lagi membuat Tyas semakin tak nyaman. Bukan apa, tapi mengingat dengan semua perhatian lebih dokter Ridwan itu pada dirinya, yang ia tunjukkan terang terangan membuat Tyas tak nyaman apalagi dokter Ridwan juga pernah sesekali memegang tangannya, walaupun ia tak tahu tindakan dokter Ridwan tersebut sengaja ataupun tidak, tapi melihatnya turut ada disini, apalagi sepertinya bukan beliaulah dokter yang menangani Tyas, dan itu membuat Tyas bertanya tanya, tapi setelah menimbang kembali, ia pun lebih memilih tuk tak ambil pusing, dan membiarkan dokter Ridwan melakukan apapun yang diinginkannya, asalkan itu tak merugikan dirinya, ia sama sekali tidak masalah. Ah, kenapa aku jadi memikirkan tentang dokter Ridwan sih?! kuharap semuanya akan baik baik saja sekarang.
..............................................................
Disisi lain, Indra yang sudah siap dengan setelan jas hitam beserta sepatu kulitnya kini nampak tengah bersiap di depan cermin besarnya. Ia rapikan sebentar penampilannya itu, menambahkan beberapa percikan percikan pelengkap penampilannya, dan setelah dirasa sempurna, Indra pun lantas mengembangkan senyumannya, kemudian mulai melangkahkan kakinya menuju nakas dan meraih handphonenya di sana.
Saat baru membuka handphone miliknya tersebut, ia dibuat tersenyum melihat ada beberapa Panggilan tak terjawab beberapa menit yang lalu dengan bernamakan Lisa, kekasihnya. Selain Panggilan beruntun tersebut, Lisa juga sempat mengirimkan beberapa pesan padanya, dan selepas Indra melihat isi chat tersebut, ia dibuat tersenyum untuk yang kesekian kalinya, bagaimana tidak, di sela sela sibuknya bekerja kekasih cantiknya ini bahkan masih sempat sempatnya menggombal, membangunkannya padahal ia tak sedang tidur, juga bertanya apakah ia sudah makan atau belum, dan embel embel lainnya. Indra sempat membalas singkat chat dari kekasihnya ini sebelum ia memutuskan tuk beranjak dari apartemen nya menuju ke sebuah cafe kecil di sebelah apartemen tempatnya berpulang tersebut, ia sengaja kesana sebab rencananya dari kemarin kemarin mereka memang akan membahas proposal yang hendak diajukannya tersebut, mengoreksinya ulang, sebelum akhirnya mereka ajukan pada pihak PT yang bersangkutan.
"Kira kira kalau hubungin kaesang sekarang, bakal diangkat gak ya sama dia? padahal cuma mau ngabarin aja kalau aku udah sampai di tujuan, tapi..ck yasudah lah." gumamnya sembari memasang muka sebalnya, bagaimana tidak sebab sedari kemarin dirinya belum mengatakan apapun pada sang putra, mengobrol dengannya pun belum sejak dua hari terakhir. Dirinya semakin tak mengerti, mengapa putranya bisa seperti ini terhadapnya, bahkan kaesang pun dapat seminggu lebih tak berkomunikasi dengan dirinya jika perlu. Sungguh, mungkin akan merasa tersiksa jika hidup satu atap dengan anak kita tapi setiap harinya kita dengannya sama sama bertingkah seperti orang asing, tanpa berkomunikasi sama sekali, tapi kenyataannya memang seperti itulah kondisi kaesang jika sedang ada dirumah, ia bahkan hanya akan berucap jika memang perlu.
...............................................................
Selepas rambutnya cukup kering, kaesang pun mulai menyisir rambutnya tersebut, memakai skincare yang sengaja dibawanya dari rumah, kemudian setelah itu selesai kaesang pun mulai berjalan kearah nakas, dan meraih handphone miliknya di sana, ia lantas membukanya, dan menelpon Tyas selepas itu. Berulang kali kaesang telepon dirinya, tapi tak ada satupun respon darinya, malahan sama sekali tak aktif dari kemarin. Karena tak ada lagi yang dapat dilakukannya, kaesang pun mulai memasukkan kembali handphone miliknya itu kedalam saku celananya, dan beranjak keluar dari kamar, mungkin akan pergi sarapan kali ini.
....................................................................
Di perasaannya yang masih nano nano, Tyas terpaksa tersenyum sesaat dokter Ridwan menatap kearahnya lalu menunjukkan senyumannya itu padanya, ia mulai mengalihkan pandangannya selepas itu, apalagi dokter dewa, dokter yang kini tengah memeriksa kondisinya tersebut sudah selesai memeriksa, dan sepertinya hendak mengatakan sesuatu.
"Bu Tyas, melihat dari kondisi ibu saat ini, ibu sudah jauh lebih baik, bahkan penyakit tersebut sudah jauh berkurang kan sekarang. Jadi dengan ini Bu Tyas sudah boleh pulang jika mau pulang hari ini, dan satu lagi, Bu Tyas juga tetap harus melaksanakan terapi, dan juga cek up rutin, hmm, oh iya terakhir obatnya juga jangan lupa diminum ya Bu, sehari tiga kali." jawab ramah dokter dewa sembari menyunggingkan senyuman manis di bibirnya.
"Iya dok, terima kasih banyak ya." jawab Tyas sekenanya.
"Oh iya, dokter Ridwan mau ada urusan apa ya kemari?" giliran dokter dewa bertanya pada dokter Ridwan, dan selepas kualihkan pandanganku kearahnya, kudapati wajahnya yang kini nampak seperti tengah berpikir keras, sebelum akhirnya ia pun menjawab.
"Mau temenin Bu Tyas, kasihan sendirian." jawab dokter Ridwan enteng, dan tanpa beban sama sekali, ia bahkan mengatakan itu sembari mengulas senyum hangat di bibirnya. Sementara Tyas sendiri yang mendengarnya, sontak terkejut, dan hampir tersedak oleh salivanya sendiri. Ia tak tahu harus merespon apa, dan bagaimana ia menanggapinya, lalu saat pandangan dokter Ridwan lagi lagi mengarah padanya, Tyas pun kembali mengulas senyumannya dengan sedikit terpaksa, dan berharap semua drama ini akan segera berakhir.
Bersambung.