
POV KAESANG
Badanku rasanya letih sekali. Selepas mengantar Zefa ke rumahnya, aku mampir sebentar di starligh cafe untuk membeli beberapa minuman baru setelahnya beranjak pulang. Aku masih saja kepikiran dengan Tyas. Dia terlihat letih tapi aku hanya diam dan memalingkan mukaku saja. Bahkan pikiranku bertambah kacau setelah kulihat Zefa mengupload beberapa gambar dirinya dan aku saat di koridor tadi. Aku membanting asal hp ku ke bangku di sebelahku.
Aaaaarrrrggghhhh ...
Aku pun mengumpat sepuasku, mengeluarkan segala uneg-uneg yang mengganjal pikiranku saat ini. Lantas saat sesampainya aku di halaman rumah, kulihat ada sebuah mobil Ferarri hitam yang kemungkinan milik papa tengah terparkir rapi di sana.
Rasanya begitu kesal, terlebih papa memang beneran pulang tetapi juga ada Lisa di sana. Aku mendapati ia tengah bergelayut manja di lengan kekar papa sembari bermesraan. Aku begitu muak melihat itu terlebih mereka menyadari kedatanganku. Lisa menegakkan tubuhnya kembali. Ia tersenyum sembari melihatku, bahkan papaku pun juga sama. Ia datang padaku sembari hendak memelukku seperti biasa, tapi aku menolak. Tak ingin tubuhku di sentuh olehnya lagi setelah dirinya pisah dengan ibuku.
oh iya, aku sampai melupakan berita tentang hilangnya ibuku. Sebenarnya setelah ada kiriman paket hari itu, aku juga mendapatkan sebuah paket kiriman lagi setelahnya, dan itu jauh lebih mengerikan.
Intinya, ibuku sudah mati. Aku sedih saat mendengarnya. Walau aku mengatakan tak peduli padanya lagi. Tapi aku tetap memiliki rasa terhadapnya. Ia yang telah merawatku sedari kecil, walau kini kutau dia bukanlah ibu kandungku.
Oh iya tentang papa, aku langsung naik ke kamarku tanpa menghiraukan dirinya atau pacarnya itu. Aku menutup pintu kamarku rapat-rapat lalu kuhempaskan tubuhku diatas ranjang putihku yang begitu dingin.
Sejenak aku menghela nafas panjang. Mengapa rasanya hidupku berat sekali. Aku hanya ingin bahagia dengan hidupku, tanpa adanya lika liku masalah yang mendera.
Huufft ...
Baru saja aku hendak menutup kedua mataku, tetiba saja kudengar sebuah nada masuk dari handphoneku, dan itu berhasil mencuri atensiku sepenuhnya. Saat kuraih ia dari sebelahku, aku terkejut bukan main. Rasanya bahagia, dan ada secercah cahaya yang menerpaku saat itu. Tyas. Dialah orang itu.
Tak tau apa yang ia kirimkan padaku tapi aku sangat bahagia. Karena itu tandanya ia masih mau berkomunikasi denganku. Tapi, saat kubuka chat itu, rasa senangku pun surut. Ia mengatakan ingin bertemu denganku tapi tak menyebutkan alasannya apa. Ia hanya mengirimkan sepenggal kata itu, setelahnya ia tak aktif kembali. Rasanya Tyas memang sungguh-sungguh marah denganku.
Aku sadar, dan tau jika Zefanya memang menyukaiku, tapi aku tidak menyukainya. Ia memang cantik, kaya dan populer. Semua lelaki ingin berkencan dengannya, semua lelaki ingin menjadi pacarnya. Tapi entah mengapa aku justru tak tertarik padanya sama sekali. justru, aku tertarik pada guru bahasa Inggris ku, Miss Tyas. Dia perempuan baik, ramah dan pintar. semua orang suka padanya. Bahkan, akupun tau jika pak Zaky kemungkinan juga menyukainya. Tapi, aku menyukainya bukan karena itu. Aku menyukainya karena kebaikannya. Dia begitu ramah dan murah senyum. Aku menyukainya sejak pertama kali kulihatnya di kelas, bahkan sampai saat ini.
Awalnya aku terkejut saat melihatnya menerima pernyataan cintaku. Karena dengan itu, artinya ia juga menyukaiku. Tapi itu tak bertahan lama semenjak Zefa hadir. Awalnya kuhiraukan itu, tapi ia semakin nekat. Hingga akhirnya ia berhasil dengan tujuannya.
Ah, tapi apalah itu. Terserah ia mau melakukan apapun. Asalkan dengan otakku, aku bisa mengakhiri semuanya. Walau itu tak sekarang. Tapi aku berjanji akan mengakhirinya.
Tyas, perempuan itu begitu manis. Aku sangat menyukainya. Aku berharap hubunganku dan ia takkan berakhir. Sebab, semua rencana ku takkan berjalan tanpa hadirnya sosoknya itu di sisiku.
......................
Tok ...
Tok ...
Tok ...
Hari sudah gelap saat aku terbangun dari tidurku. Sebuah ketukan pintu menyambut Indra pendengaranku. Ketukan yang teratur namun berulang terus terdengar diiringi suara lembut wanita yang aku tau siapa dia.
"Kae, bangun sayang. Udah gelap nih. kamu belum makan kan, Tante udah masakin kamu sup ayam kampung yang enak banget. Kamu mandi ya, habis itu turun dan makan. Papa kamu sudah nungguin kamu di meja makan. Kae, kamu dengar Tante kan, buruan bangun ya, Tante tinggal."
Setelahnya suasana hening kembali. Dan benar, wanita tadi adalah Lisa. Ia beranjak pergi setelah terdengar deheman dari Kaesang.
"Ngapain sih tuh perempuan masih ada di rumah ini. Jadi males gue turun kalau begini." ucapku sendiri sembari beranjak bangun dari posisi tidurku.
......................
Nasi goreng acar, sup ayam kampung, dan Ayam kecap bumbu Manado. Semuanya ada terpampang di meja ini. Sepertinya semua makanan di Indonesia ini sudah dimasak dan di hidangkan di atas meja ini, aku bahkan sampai tak percaya jika Lisa lah yang telah memasak semuanya.
"Ayo, Kae, kamu mau apa, Tante ambilin ya."
"Nggak usah, makasih, aku masih bisa ambil sendiri." tolakku dingin.
Kulihat dia hanya tersenyum menanggapi ucapanku, sedangkan papaku, ia terlihat menggelengkan kepalanya sambil menikmati makanannya.
"Tante yakin, ini masakan Tante sendiri?" tanyaku tiba-tiba.
Lisa terlihat menghentikan aktifitas makannya lalu menatap kearahku sembari tersenyum.
"Iya, memangnya kenapa? Ada yang kurang ya, atau nggak sesuai sama lidah kamu?" tanyanya lembut.
"Nggak kok. Masakannya enak, enak banget. Persis seperti masakan Bu Yeni, warteg di sebelah rumah ini yang selalu ku datangi setiap hari. yah, tapi lebih enak ini sih, lengkap hanya saja anda kurang menambahkan satu makanan utama yang paling penting disini." jawabku tanpa ekspresi.
"Oh ya, apa itu?"
"Bakso sapi." jawabku sembari tersenyum miring. Aku baru mengetahui kemarin hari jika Lisa sama sekali tidak bisa mengonsumsi daging sapi karena ia ada alergi dengannya. Aku pun tersenyum puas saat melihatnya tersedak dan mengalihkan pandangannya dariku.
"Kae!" peringat papaku.
"Kenapa, aku tak melakukan apapun." jawabku tanpa merasa bersalah.
"Sudah mas, tidak apa-apa, ini memang aku yang salah." ucap Lisa pada papaku.
......................
Setelah mengakhiri drama itu secepat mungkin, akupun beranjak naik kembali ke kamarku. Aku cukup malas untuk berlama lama dengan mereka, terlebih Lisa. Ia seperti ingin mendekatkan dirinya padaku, dan semua usahanya itu membuatku jijik. Aku benar-benar tak menyukainya.
Hingga keesokan harinya, aku pun telah bersiap dengan pakaian kasual ku. Aku bersemangat sekali ingin bertemu dengan Tyas. bahkan rasanya aku begitu gugup. Takut jika firasatku ini benar, dan akan terjadi. Tyas, dia akan memutuskan hubungan kami. Aku takut semua itu akan terjadi, tapi semoga saja itu hanya pikiran burukku saja. Hingga akhirnya berangkatlah aku menuju ke lokasi yang Tyas berikan kemarin di chat.
Huufft...
Berulang kali kuhela nafasku ini. Rasanya begitu gugup bahkan sampai aku tiba di lokasinya aku masih terlampau gugup untuk keluar dari mobil saja. Sampai dari dalam mobil kulihat perempuan yang membuatku gugup itu tengah duduk di sebuah bangku sembari memainkan hp nya. Aku tak tau, apakah aku harus menghampirinya atau tidak. Sebab aku rasa firasatku ini benar. Tapi aku juga tak mau membuatnya menunggu, alhasil akupun benar-benar menemuinya.
"Dear ..." setelahnya ia pun menoleh kearahku. Cukup lama sampai ia mengalihkan pandangannya itu kearah lain.
"Duduk kae, ada yang mau aku bicarakan sama kamu."
Aku pun duduk di sebelahnya dengan gugup. Ia tak ada senyum sama sekali. Wajahnya terlampau dingin, dan susah sekali untuk di tebak.
"Selamat ya." ia pun mengatakan itu tanpa menoleh sedikitpun kearahku. Memberiku selamat? Selamat buat apa?
"Selamat buat apa?" tanyaku.
Bersambung ....