
Keesokan harinya, Kaesang bangun dalam keadaan capek luar biasa. kedua kakinya terasa pegal seperti sehabis berlari ribuan kilo meter. Kaesang beranjak bangun dengan kedua mata yang masih menutup dan berjalan sempoyongan menuju kamar mandi, mencuci mukanya sejenak dan menatap cermin di depannya. Astaga, wajah Kaesang saat ini terlihat begitu lecek. iler yang masih juga menetes di sudut bibirnya. mukanya yang terlihat begitu lecek seperti cucian yang belum disetrika sungguh terlihat menyedihkan.
Kaesang pun bergegas menutup pintu kamar mandi, menguncinya dari dalam, kemudian melepas pakaiannya satu persatu, ia ingin mandi hari ini, dengan tubuhnya yang serasa begitu pegal Kaesang tak ingin mandi dengan air hangat melainkan ia ingin mandi dengan air dingin.
memang dinner dan kencan romantis semalam cukup membuatnya bahagia tapi entah mengapa fisiknya terasa begitu pegal.
lalu beberapa saat kemudian, Kaesang yang telah selesai mandi segera bergegas keluar dari dalam kamar mandi dengan menggunakan seragam kebesarannya.
rasa penat di tubuhnya perlahan-lahan mulai menghilang namun entah mengapa kedua kakinya masih juga terasa pegal. Kae, beruntungnya dirimu, batin Kaesang dalam hati sembari tersenyum.
selepas ia selesai mengeringkan rambutnya yang basah, Kaesang pun beranjak menuju meja riasnya untuk memoles wajahnya sedikit.
di sana ia meraih sebuah sisir guna menyisir rambutnya, mengenakan skin care rutinnya, lalu menyemprotkan parfum kesayangannya itu ke beberapa bagian tubuhnya. Setelah dirasa sudah cukup perfect, lelaki itu pun segera beranjak pergi menjauhi kaca, dan duduk di pinggir ranjangnya.
Sepertinya Kaesang akan gila sekarang, sejak tadi ia hanya senyum-senyum sendiri sembari mengingat ingat kejadian semalam. memang semalam adalah hari yang paling membahagiakan untuknya, selain karena ia berhasil membuat Tyas menerima ajakannya untuk liburan, ia pun juga cukup lega selepas berhasil mengutarakan keinginannya itu kepada Tyas.
Huufftt ...
sebenarnya keinginannya untuk menikah itu adalah hal yang sama sekali tak dipikirkannya sejak dulu, ia yang tergolong anak yang tertutup sangat kecil kemungkinan memiliki niat untuk menikah.
terlebih di umurnya yang masih belasan tahun sangat aneh jika dia memiliki niat untuk menikah, teman-temannya saja masih sibuk bermain dan bersenda gurau dengan temannya, masih sibuk pacaran dan juga memadu kasih di suatu tempat.
namun Kaesang yang kemarin mengutarakan keinginannya untuk mengajak Tyas menikah sontak membuat dirinya sendiri merasa kaget.
Ia sampai sekarang tak habis pikir, bisa-bisanya pria sepertinya dapat memiliki niat seperti itu. sangat aneh memang, tapi itu adalah kenyataannya, jadi Kaesang hanya tinggal berusaha dan bekerja keras untuk mencapai keinginannya itu.
sesaat jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul 6.30 pagi, Kaesang yang terburu-buru pun segera bangkit berdiri dari posisi duduknya.
ia segera beranjak keluar dari kamarnya, kemudian menuruni tangga dan menuju ke parkiran untuk memanasi Lamborghini putih kesayangannya itu, namun sebelum kesana Kaesang pun menyempatkan diri untuk menuju ke dapur dan berniat mengambil sepotong roti tawar dari dalam kulkas.
Setelah berhasil mendapatkannya dan memakannya saat itu juga Kaesang pun kembali bergegas menuju ke parkiran dan melanjutkan niatnya tadi.
......................
"Aduh," Tyas pun sontak saja mengaduh kesakitan sewaktu ia tak sengaja tersandung sebuah barang saat tengah terburu buru.
Ia yang semula mendapatkan pesan dari Kaesang jika lelaki itu tengah dalam perjalanan ke rumahnya pun membuatnya sedikit panik.
Karena saat Kaesang mengirimkan pesan itu, Tyas masih dalam keadaan belum mandi, ia yang semalam merasa kesenangan pun tanpa sengaja telah tertidur larut karena selepas dinner dengan Kaesang di resto, Tyas yang tak bisa tidur pun beranjak menonton Drakor di layar ponselnya.
Dia menontonnya dengan begitu serius, sampai saking seriusnya ia tidak sadar jika waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari.
Gawat!
Namun, karena ia yang saat itu tak juga mengantuk membuatnya bingung sendiri. Sedari tadi ia sibuk menggeliatkan tubuhnya kesana kemari, dan membuka tutupkan matanya.
Astaga, Tyas tetaplah terjaga sampai pagi menjelang. Ia dengan kondisi tidak tidur segera bangkit dari ranjangnya. Tyas beranjak bangun dengan susah payah dan berjalan sempoyongan menuju kamar mandi, Astaga, wajahnya benar-benar menyeramkan. lingkaran hitam di bawah matanya, rambut yang juga berantakan sontak membuat Tyas menggelengkan kepalanya.
Ini bukanlah dirinya, Tyas adalah wanita yang rajin dan tidak pernah tidur larut malam. Dia selalu bangun pagi dengan segar, dan juga ceria.
Namun, kali ini tidak lagi, dia bangun tidur dengan kondisinya yang begitu mengerikan, semalam sehabis dinner dengan Kaesang Tyas tak juga menghapus make up-nya, ia hanya mengganti pakaiannya dan kemudian lanjut menonton drakor.
Astaga, dasar perempuan
Lantas sewaktu Tyas yang saat itu tengah duduk di depan meja riasnya dan tengah menyemprotkan parfum khas Chanel pemberian Kaesang sembari tersenyum tetiba saja ia merasa terkejut sewaktu mendengar ketukan beruntun di pintu depan.
dengan langkah terburu buru dan tak lupa ia juga meraih tas miliknya dari atas ranjangnya Tyas pun segera bergegas menuju ke pintu depan.
Disana ia buka tergesa pintu itu, dan sewaktu pintu terbuka Tyas pun sontak saja tersenyum dan juga tersentak kaget disaat mendapati Kaesanglah yang mengetuk pintunya itu.
Kaesang yang memang sudah begitu rapi dan wangi pun sontak membuat Tyas tersenyum dan menutup matanya.
Dia asyik menikmati aroma tubuh Kaesang yang terasa begitu wangi dan menenangkan. Aromanya seperti aroma terapi namun juga ada aroma mawar di dalamnya. Sungguh, aroma tubuh Kaesang saat ini sangat membuat oleng jiwa Tyas, ia sedari tadi sibuk menutup matanya dan menikmati aroma itu.
Wangi sekali,
Sewaktu tanpa sadar Tyas menggumamkan kata kata itu ia pun terkejut disaat mendapati Kaesang tengah menepuk pundaknya dan menatap kearahnya dengan bingung.
Tatapannya terlihat aneh, melihat Tyas yang menutup matanya sambil tersenyum sontak membuat Kaesang terdiam dan bingung sendiri.
"Dear, kamu baik-baik aja kan?" tanya Kaesang sembari menjauhkan tangannya dari pundak Tyas.
Tyas yang mendengar itu pun hanya mampu menggelengkan kepalanya dan tersenyum malu.
"Iya Kae, aku baik-baik aja kok, emang kenapa?" tanya Tyas balik sembari mendorong tubuh Kaesang untuk keluar dibarengi ia juga yang beranjak keluar dari rumahnya, dan di kuncinya balik pintu itu.
"Lah tadi kamu senyum senyum sendiri sambil nutup mata kenapa, kok tumben banget?" timpal Kaesang sembari membalikkan badannya dan beranjak menuju ke tempat mobilnya terparkir.
Tyas pun hanya mampu tersenyum mendengar pertanyaan Kaesang itu, sembari mengikuti langkah Kaesang di belakangnya Tyas pun terus menundukkan kepalanya dan tersenyum malu.
"Nggak papa kok Kae, aku tadi cuma terpesona aja liat kamu udah ganteng gini dan aroma tubuhmu juga wangi banget. ehm kamu pake parfum baru ya, kok wanginya beda?" tanya Tyas disaat dirinya dan Kaesang telah berada di dalam mobil Kaesang dan tengah sibuk mengenakan sabuk pengaman.
Bersambung ...