
Setelah sekian lamanya terbaring di atas tempat tidur, Kaesang pun bangkit dari posisinya dan beranjak keluar. Dia berniat untuk ke dapur sekedar mengambil air minum. Namun, saat sampainya dia di bawah, dia kembali dikejutkan dengan kehadiran sesosok wanita yang tak asing di matanya.
Ya, Lisa. Akhirnya Kaesang mengingat nama itu setelah sekian lamanya berpikir. Dia cukup heran mengapa wanita itu sering sekali datang ke rumahnya. Ya, dia tahu wanita itu adalah kekasih ayahnya. Namun, apa harus sesering ini datang ke rumah? terlebih ini sudah mau gelap.
Tapi saat melihat ke arah sang ayah, Kaesang kembali teringat akan ucapannya tadi siang kepada Tyas saat masih berada di ruang kepala sekolah. Dia begitu yakinnya berkata kepada Tyas bahwa dirinya akan berbuat sesuatu pada ayah Zefa. Ya, hasilnya nanti kan akan berimbas pada Zefa juga kan?
Hm, walau sudah seyakin itu, Kaesang tetap ragu. Akankah dia berbuat demikian, bagaimana jika hasil dari semua ini akan sangat buruk. Namun, walau begitu, Kaesang tetap memantapkan hatinya dan melangkah penuh percaya diri kearah sang ayah berada.
Dia cukup dibikin malas oleh kelakuan dua orang tua di hadapannya. Mereka asik memadu kasih, dan berpelukan tanpa adanya rasa malu. Iihh .... Ingin rasanya Kaesang pergi dari sana secepatnya.
"Pa, aku mau ngomong." ucap Kaesang to the point.
Terkejut mendengar suara Kaesang tiba-tiba. Lisa yang saat itu masih berada di atas pangkuan Indra dan masih memeluknya sontak bangkit dari posisinya dan menundukkan kepalanya. Dia cukup malu melihat Kaesang sekarang. Terlebih dia melihat semuanya.
"Kenapa, Kae?" Indra pun turut berdiri. Dia berjalan menghampiri Kaesang lalu menatapnya bingung.
"Ngomongnya di ruang kerja papa aja."
Setelahnya Kaesang beranjak dari posisinya. Dia naik ke atas di susul oleh Indra yang mengekornya di belakang.
Hm, Lisa tak mau banyak bertanya, dia masih diam di tempatnya sambil menunggu Indra selesai dengan urusannya bersama Kaesang.
Di ruang kerja Indra di lantai dua ...
"APA! kamu ingin papa memutus kontrak kerjasama dengan Wijaya Adhipura?"
Indra langsung terlonjak kaget setelah mengetahui apa yang Kaesang inginkan darinya. Awalnya Indra mengira Kaesang akan membicarakan sesuatu hal padanya, namun dia tak menyangka ternyata putranya itu menginginkan sesuatu darinya.
Indra begitu senang mendengar Kaesang mau meminta sesuatu padanya, namun setelah tau apa yang putranya minta, Indra sontak terkejut sampai tak dapat berkata-kata. Permintaan Kaesang itu adalah sesuatu hal mustahil untuk dapat Indra wujudkan untuk saat ini.
"Tapi kenapa? asal kamu tahu Kae, perusahaan Wijaya Adhipura itu perusahaan besar. dia membawa banyak keuntungan buat perusahaan papa, dan kamu menyuruh papa mutusin kerjasama gitu aja? itu nggak bisa, Kae." lanjut Indra serius seraya memijit pelipisnya yang terasa pusing itu.
Mendengar penolakan dari sang papa, membuat dada Kaesang bergemuruh. dia marah, kecewa. mengapa papanya itu tidak bisa mengabulkan satu saja permintaannya? bukankah dia tak pernah meminta apapun dari sang ayah?
"Pa, kehilangan satu rekan bisnis nggak akan membuat papa bangkrut! udahlah, pa, cuma sekali ini loh Kaesang minta sesuatu sama papa." ujar Kaesang.
Dia tak tau harus membujuk dengan cara apa lagi agar sang ayah mau mengabulkan permintaannya.
"Tapi, Kae, permintaan kamu itu sangat aneh. Kenapa kamu tiba-tiba minta papa buat mutusin kontrak kerjasama dengan beliau? kamu ada masalah sama pak Wijaya Adhipura?" interogasi Indra. Dia merasa aneh dengan permintaan tiba-tiba putranya itu.
Indra pun mengernyit mendengar jawaban Kaesang.
"Anaknya? Siapa? Zeymora atau Zefanya?"
Indra cukup terkejut mendengar Kaesang menyebutkan putri dari Wijaya Adhipura. Dia cukup mengenal baik mereka, baik dari Zefanya maupun Zeymora. sebab Indra cukup sering melihat Zefanya di banyak pertemuan dengan kolega bisnisnya yang saat itu juga ada Wijaya Adhipura. Namun, jika untuk Zeymora, Indra hanya sekali pernah bertemu dengan gadis itu. Dia lumayan cantik, namun sedikit pendiam. sorot matanya dingin dan menyiratkan kebencian yang begitu mendalam. Entah pada siapa kebencian itu? terlebih Wijaya juga jarang menyebutkan Zeymora di berbagai pertemuan, baik dalam pertemuan kolega bisnis maupun dalam pertemuan biasa.
Alis Kaesang sedikit mengerut mendengar nama Zeymora. Dia seperti tak asing dengan nama itu. namun, dia juga tak tau persis apakah dia pernah mengenal seseorang dengan nama itu sebelumnya. Terlebih setahunya Zefa tidaklah memiliki saudara lain. Dia sering mengatakan jika dirinya adalah anak tunggal, namun mengapa ada gadis lain hari ini? Apa selama ini Zefa hanya berbohong? Sepertinya semua yang ada pada Zefa tidaklah bisa di percaya sekarang.
"Siapa lagi kalau bukan Zefanya, gadis gila itu sudah membuatku sama sepertinya. Sama-sama gila." ujar Kaesang dengan sorot tajamnya yang ditujukannya pada sang papa.
"Tunggu! memangnya ada apa antara kamu dan Zefanya? Kalian pacaran?" tanya Indra hati-hati.
Kaesang cukup dibuat frustasi mendengar kata-kata pacaran dari mulut sang papa. Dia cukup emosi sampai tak sabar untuk memberikan kejutan spesial itu pada Zefanya. Kaesang ingin gadis itu sadar jika dia tak bisa bermain-main dengan Kaesang. Atau akibatnya akan sangat buruk.
"Udahlah pa, intinya papa menuhin permintaan aku nggak?" Kaesang sedikit memohon kali ini. Dia tak ingin sampai semuanya gagal.
Indra pun menghela nafas berat, lalu berpikir cukup lama. Menimbang-nimbang, akankah dia mengabulkan permintaan putranya itu ataukah tidak.
"Papa nggak jawab iya. tapi papa akan pertimbangkan dulu." akhirnya hanya itulah yang dapat Indra katakan untuk saat ini. dia tak mungkin mengecewakan putranya itu, namun dia juga cukup berat untuk mengabulkan permintaannya. memutus kontrak kerjasama bisnis itu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.
"Semoga papa nggak ngecewain aku." ujar Kaesang sebelum dirinya pergi dari ruang kerja Indra dan kembali ke kamarnya.
......................
"Dimana gue sekarang? Kok semuanya gelap?! Apa sekarang lagi mati lampu? Ma, mama ... Lina, Zelyn ... Tolongin gue, gue takut. Disini gelap banget. Please tolongin gue, kalian di mana? Kenapa gue nggak bisa liat apa-apa? huwaaaa ..." Zefa terkejut saat mendapati dirinya terbangun di suatu tempat asing dan gelap itu. Dia berteriak-teriak, menangis dan memanggil semua nama yang diketahuinya. namun hasilnya nihil. Tak ada satupun sahutan yang terdengar.
Lalu saat dirinya mulai melangkahkan kakinya ke sembarang arah tak sengaja dia menyandung sesuatu sampai terjatuh. Karena kondisinya sangat gelap, dia sampai tak tau apa yang membuatnya tersandung dan hanya dapat meringis menahan rasa sakit di kakinya.
"Kenapa kau jahat sekali?"
Sebuah suara tiba-tiba muncul di sela-sela heningnya tempat itu. Seperti suara perempuan namun sedikit asing untuk Zefa. Dia merasa tak mengenal suara itu sebelumnya.
"Kenapa kau ingin menghancurkannya? Apa seperti ini hasil didikan orang tuamu?" suara itu berbicara lagi, dan kali ini sambil berteriak. Sungguh, Zefa takut sekali mendengarnya. seumur hidup dia tak pernah sekalipun di bentak seperti itu, apalagi dia masih merasa takut dengan tempat ia berada sekarang.
"Siapa kau? Apa maksudmu berbicara seperti itu?" balas Zefa seraya menahan isakannya.
Bersambung...