Cintaku Adalah Kamu

Cintaku Adalah Kamu
Episode 62- Dokter Ridwan


...Kelanjutan dari episode kemarin......


Di teras belakang rumahnya, nampaklah gadis cantik dengan sorot wajah kebarat-baratan yang tak lain dan tak bukan adalah Agnes, ia dengan pakaian santainya baru saja selesai berkebun sembari memetik beberapa sayuran yang sengaja di tanamnya di kebun belakang rumahnya. Ia yang terlihat tengah membersihkan sayuran yang dipetiknya tadi di kran air, tiba tiba di kejutkan dengan teleponnya yang tiba tiba berdering dari dalam saku celananya, ia yang mengetahui itu lantas mematikan kran air tersebut, lalu menaruh bakul sayur tersebut di atas meja di teras tersebut, kemudian mengelap tangannya yang basah, dan segera merogoh handphone miliknya tersebut dari dalam saku celananya, lalu mengangkatnya.


'Halo bos..'


^^^'...'^^^


'Tapi bos, inikan belum ada seminggu, dan ehm maaf, datang bulan saya juga belum berhenti. Apa bisa saya mulai kerja lagi?


^^^'...'^^^


'Ba-baik bos, sesuai perintah anda.'


^^^'...'^^^


'Baik bos, besok saya akan kesana pukul 9 pagi.'


^^^'...'^^^


'Iya bos.'


.........


Selepas menutup telepon, dan menaruhnya kembali di atas meja, muka Agnes pun berubah muram seketika, ia menatap nanar kedepan sembari kedua tangannya mengepal erat. Rupanya bos misteriusnya tersebut kembali memberinya sebuah tugas, dan tentunya bukan sebuah tugas yang main main, ia masih tak tahu apa yang kini tengah dikerjakannya, dan juga tak habis pikir, mengapa ia sampai berbuat hal demikian, tapi selepas dipikir pikir tak ada gunanya ia menyesali semua ini, toh semuanya juga sudah terjadi kan. Selepas selesai memikirkan itu, Agnes pun bergegas masuk kembali kedalam rumahnya dengan membawa bakul sayur tadi di tangannya.


............................................................


Di ruang rawat Dahlia VI, nampaklah Tyas yang masih belum sadarkan diri selepas operasi yang dijalaninya beberapa jam yang lalu, ia yang sudah dipindahkan keruang rawat beberapa menit lalu, sampai saat ini bahkan tak nampak satupun keluarga ataupun sanak saudara yang menemaninya di sana, mengingat ia juga tak memberitahu siapapun, lalu sesaat selepas itu, masuklah ke ruangan Tyas tersebut, dokter tampan yang selalu mensupport dirinya, dan juga salah satu dokter yang ikut andil dalam operasinya tadi, dia adalah dokter Ridwan, ia yang masih berpakaian dokter, langsung masuk begitu saja, lalu duduk di kursi kosong di samping ranjang Tyas. Ia menatapi Tyas yang tengah terbaring lemah di hadapannya, lalu dengan sengaja meraih jari jemari Tyas lalu menggenggamnya lembut. Melihat Tyas yang belum sadarkan diri, dirinya pun lantas semakin menjadi, ia pun kemudian melepas genggaman tangannya itu, lalu mulai menyentuh lembut rambut milik Tyas, lalu merapikannya. Dirinya tak tahu apa yang tengah dilakukannya ini, dan mengapa ia melakukannya, tapi yang pasti, dirinya selalu merasa nyaman apabila ada di dekat Tyas, atau saat berduaan dengannya seperti ini. Ia pun mulai menjauhkan tangannya itu dari rambut Tyas, dan kembali meraih tangannya, ia kembali menggenggamnya lembut, lalu mulai menatap wajah cantik Tyas sembari tersenyum.


Dan sesaat selepas itu, tanpa di duga duga ternyata Tyas perlahan mulai membuka kedua matanya, Ridwan yang mengetahui itu lantas melepas genggaman tangannya itu, lalu mulai kembali bersikap seperti biasanya.


"Ah, Bu Tyas sudah sadar? bagaimana bu kondisi anda selepas menjalani operasi? sudah jauh enakkan kah?" Tanya dokter Ridwan pada Tyas yang telah mulai sadar, dan tengah menatap kearahnya.


"Ehm sudah jauh enakkan dok, terima kasih banyak ya atas bantuan dokter tadi, saya benar benar terima kasih pada dokter Ridwan karena sudah selamatin nyawa saya tadi, dan sekarang malah nungguin saya disini, sekali lagi terimakasih ya, dan maaf merepotkan." Jawab Tyas masih dengan suara lemahnya, dan sedikit terbata bata.


"Saya tidak mau merepotkan dokter, lebih baik dokter kembali saja ke ruangan dokter, atau periksa pasien lain, saya tidak apa kok di sini sendiri." Ucap Tyas, mendengar penolakan dari Tyas, Ridwan pun tersenyum kecut sebelum akhirnya berbicara lagi,


"Bu Tyas, ibu sama sekali tidak merepotkan saya kok, saya benar benar tulus mau merawat ibu, dan jagain ibu sampai ibu benar benar sembuh. Hmm jadi ibu jangan menolak niat baik saya ini ya." Bujuk Ridwan, ia masih kekeh dengan niatnya yang ingin merawat dan juga menjaga Tyas, dan karena sifat Tyas yang tak ingin merepotkan orang lain, apalagi ini seorang dokter, akhirnya mulai menolaknya lagi untuk yang kedua kalinya.


"Maaf dok, tapi saya benar benar tidak ingin merepotkan dokter, akan lebih baik dokter tinggalkan saja saya sendiri di sini, dan periksalah pasien lain, saya baik baik kok, gak ada yang perlu di khawatirkan." Selepas Tyas mengatakan itu, dan tetap pada pendiriannya yang tidak ingin merepotkan orang lain, dengan berat hati, Ridwan pun akhirnya meninggalkan ruangan Tyas tersebut, dan beranjak memeriksa pasien lain, tapi sebelum itu, dokter Ridwan sempat menorehkan senyuman manisnya pada Tyas sebelum akhirnya ia membuka pintu, dan mulai meninggalkannya seorang diri.


...........................................................


Kaesang yang belum ingin beranjak dari kolam renang tersebut, seketika mengadahkan kepalanya keatas, dan menatap langit biru, yang kebetulan saat itu tengah terik teriknya, dan setelah puas dengan apa yang dilakukannya, kaesang pun kembali pada posisinya, lalu mulai meneguk sebotol juice, dan menaruh botol kosongnya kembali di atas meja. Ia masih begitu kepikiran dengan Tyas, mengingat ia belum mengabarinya sedari pagi, ia belum bisa merasa tenang sebelum dirinya mendengar kata aku baik baik saja dari Tyas. Lalu sesaat selepas itu ia pun lantas meraih handphone miliknya dari atas meja di hadapannya, dan mulai membukanya, ia berharap Tyas akan segera menelponnya selepas ini, mengingat ia sangat begitu kepikiran dengannya.


............................................................


Di dalam ruangan rawat milik Tyas, mengingat ia belum mengabari lelaki itu sama sekali sedari pagi, dan sudah pasti dirinya akan khawatir, Tyas pun lantas meraih handphone miliknya dengan susah payah dari atas nakas di sampingnya, mulai membukanya, dan berniat tuk menghubungi kaesang selepas ini, tapi sebelum itu terjadi, dirinya pun lantas mencari alasan untuk dapat menjawab semua kekhawatiran kaesang terlebih dahulu, baru selepas itu dirinya pun mulai mengatur nafasnya, dan juga suaranya, agar saat dirinya berkomunikasi dengan lelaki itu di telpon, dirinya tak terlihat tengah sakit, ataupun terdengar lemah. Kemudian setelah siap ia pun mulai mencari nomor kaesang, dan menelponnya.


.................................................................


Selepas beberapa saat berselang, akhirnya sosok yang ditunggunya pun mulai menghubunginya, ia pun mulai mengangkatnya selepas itu, dan melihat, alasan apa yang akan wanita itu berikan padanya.


'Halo..dear?'


^^^'Halo Kae..'^^^


'Kamu..baik baik aja kan, kenapa sedari pagi gak online sih, aku khawatir tahu gak, takut kamu kenapa Napa di jalan atau apa, pikiran aku negatif thinking terus. Tapi kamu beneran baik baik aja kan dear?'


^^^'Ehm aku...aku baik baik aja kok, gak perlu khawatir gitu, maaf ya handphone ku lowbat sedari pagi, belum sempet ngecas, habisnya tadi aku berangkat pagi banget, jadi gak keburu deh, maaf ya Kae, jadi buat kamu khawatir gitu, tapi aku gak papa kok serius, ini aja aku dah selamat sampai di rumah nenek di Cianjur.'^^^


'Hmm gitu, yaudah deh gak papa, yang penting kamu baik baik aja itu dah cukup kok. Ehm oh iya kamu ada di Cianjur mana, kan aku lagi di Bogor nih, jaraknya juga gak jauh jauh banget, siapa tahu aku bisa mampir gitu, sekalian silaturahmi sama nenek kamu.'


^^^(maaf kae, aku harus bohong lagi sama kamu, sebenarnya aku gak tega harus bohongin kamu kayak gini, tapi aku juga gak mungkin ngomong yang sebenarnya sama kamu, karena aku gak mau lihat kamu terluka setelah mendengar kenyataan ini, jadi sekali lagi maafin aku, Kae..)^^^


Bersambung.