Cintaku Adalah Kamu

Cintaku Adalah Kamu
Episode 74- Sebuah ancaman


Maaf atas keterlambatannya..so selamat membaca😚


...Kelanjutan dari episode kemarin......


Zarina Tyas Ayushita, guru cantik sekaligus pacar dari muridnya tersebut sekarang tengah duduk termenung di dalam sebuah mikrolet dengan seorang ibu paruh baya di sampingnya. Ia yang belum mendapat kabar dari Kaesang semenjak beberapa hari yang lalu lantas cemas lalu memutuskan tuk pergi ke rumah Kaesang yang sempat ia cari tahu alamatnya di mana. Di perjalanannya ia juga tak henti hentinya menghubungi nomor lelaki itu, tapi tak tahu kenapa sampai kini teleponnya masih saja tidak aktif, bahkan pesan chat yang dikirimnya sehari yang lalu saja belum juga di bacanya.


Tyas yang khawatir dan sibuk memikirkan keadaan Kaesang sampai tak sadar jika kendaraan yang ia tumpangi telah tiba di lokasi yang ia tuju. Tapi sekejap ia pun tersadar tatkala tepukan tangan si ibu di sebelahnya yang memberitahunya jika ia telah sampai di lokasi yang ia tuju. Setelah pamit pada si ibu, dan membayar ongkos Tyas pun beranjak turun dari mikrolet tersebut. Ia memandangi sekitar tempatnya berdiri, takjub, dan tak henti hentinya memuji dengan keindahan yang ada di hadapannya ini. Ya perumahan elit di sekelilingnya ini begitu megah, dan indah, bahkan hampir mirip dengan sebuah istana di dongeng dongeng pikirnya. Tapi karena tak ingin membuang waktu lagi Tyas pun segera menuju rumah Kaesang yang sekiranya tak jauh dari sana. Ia berjalan melewati beberapa rumah yang juga tak kalah megah dari yang pertama dilihatnya, hingga sampailah ia di rumah yang lebih megah dan indah dari yang lain. Ya rumah itu adalah rumah kediaman Kaesang, orang yang tengah ia cari itu. Tapi keraguan langsung bersarang di pikirannya tatkala menatap rumah megah di hadapannya ini. Ia ragu harus masuk ataukah tidak. Tapi masih dengan keraguannya tiba tiba ia dikejutkan dengan seorang bapak bapak berpakaian security yang keluar dari dalam gerbang rumah itu. HM, mungkin bapak bapak itu melihatnya berdiri di sini dan menatap kearah rumah megah itu. Hm paling ia akan diusir kali ini, atau mungkin akan ditanyai panjang lebar, tentang siapa anda dan mengapa anda disini. Pertanyaan itu sontak memenuhi kepalanya hingga tak berselang lama selepas itu ia kembali dikejutkan dengan suara berat si bapak yang telah ada tepat di hadapannya, dan menatapnya datar.


"Maaf, mbak siapa ya, dan ada perlu apa ya disini?" tanya si bapak dengan sorot dingin dan tak ada ramah ramahnya sedikitpun. Ia masih menatap lurus kearah Tyas dengan sorot dinginnya itu, dan bersandar pada pintu gerbang di belakangnya.


Dengan sedikit kaku, dan mencoba mengulas senyum hangat di wajahnya Tyas pun lantas menjelaskan maksud dan tujuannya datang kemari. "Maaf pak, saya Tyas guru private nya Kaesang. HM kaesang apa ada di rumah ya pak, sebab kemarin kaesang sempat menghubungi saya katanya dia pengen di les kan hari ini, untuk membahas materi semester dua mendatang. HM kira kira dia ada di rumah gak ya pak?" Masih dengan senyum ramah di wajahnya, Tyas pun terpaksa membawa embel embel les private nya agar ia dapat menemui kaesang, sebab tak mungkin kan ia hanya memberi alasan jika ia mengkhawatirkannya, dan ingin tahu keadaannya.


Tapi masih dengan kejutekannya, dan sorot dingin yang sedari tadi tak kunjung surut, si bapak security itupun lantas masuk begitu saja seraya mengatakan sesuatu, "Den kaesang gak ada, belum pulang. Si bapak juga lagi gak ada di rumah belum pulang dari London, jadi lebih baik mbak pulang aja, rumah ini lagi kosong soalnya." dengan sedikit acuh dan tak ada ramah ramahnya sedikitpun, si bapak itupun langsung masuk begitu saja, dan menutup gerbangnya selepas itu. Tyas yang masih berdiri di tempatnya, lantas mencoba mencerna apa yang dikatakan si bapak tadi. Ya kaesang belum pulang dari puncak, tapi jika begitu kenapa ia sama sekali tak dapat menghubunginya.


Dengan berbekalkan rasa kecewa Tyas pun beranjak pergi dari sana. Ia kecewa sebab ia tak dapat bertemu dengan kaesang ataupun mengobrol dengannya. Tapi saat ia telah ada di pinggir halte dan hendak naik mikrolet yang kebetulan tengah lewat, ia pun dikejutkan dengan tepukan di pundaknya oleh seseorang. Karena terkejut, Tyas pun lantas berbalik, dan berhadapan dengan seseorang yang amat dikenalnya.


Ia masih sama seperti dulu, masih saja tampan, dan juga senyumannya yang meneduhkan. Tyas sempat flashback sesaat menatap manik hitam pekat milik lelaki itu, sampai bariton rendah miliknya berhasil menyadarkan Tyas dari flashback masa lalunya, dan membuatnya kaku sesaat kedua mata mereka saling berhadapan.


"Gak nyangka ya bisa ketemu kamu lagi di sini."


................


Kaesang yang masih ada di posisinya sekarang lantas mendengus kesal sesaat mendapati apa yang zefa katakan. Ya dia ingin kaesang menjadi miliknya selamanya. Tapi itu jelas jelas tak mungkin kaesang turuti kan? secara ia masih ada Tyas, dan juga rasa tak sukanya pada zefa masih mendominasi.


Lalu sembari memalingkan wajahnya kearah lain, kaesang pun menghela nafas panjang, lantas berkata lirih, "Gak usah ngaco. Gue gak suka sama Lo, jadi itu gak mungkin."


Tapi zefa yang mendengarnya sempat tersenyum tipis sebelum akhirnya ia raih handphone miliknya dari atas nakas, membuka aplikasi galeri miliknya, hingga senyuman miring kembali tercipta di bibir merahnya tatkala menatap sebuah foto yang terpampang jelas di deretan paling atas di galerinya tersebut. Entah apa yang membuatnya sampai tersenyum begitu, hingga tak berselang lama iapun mengklik foto tersebut, dan ditunjukkannya pada kaesang. Ia masih sempat tersenyum miring sesaat menunjukkannya pada kaesang tapi senyumannya itu lantas berubah seratus delapan puluh derajat sesaat menapaki raut keterkejutan di muka kaesang saat melihat apa yang ditunjukkannya.


Dengan nada rendah dan dingin serta tatapannya yang aneh, zefa pun kembali bersuara, "Kira kira apa yang akan terjadi ya kalau foto ini aku post di akun media sosial aku?."


Zefa kembali tersenyum sesaat ia selesai menunjukkan foto yang ia ambil semalam sesaat kaesang masih tak sadarkan diri pada si empunya tubuh. Ia sempat memandangi kembali foto itu sebelum akhirnya ia simpan kembali foto itu, dan ditaruhnya kembali handphone miliknya itu di tempatnya semula.


Kaesang sempat bungkam, dan terkejut selepas melihat apa yang ada dalam ponsel zefa tersebut. Zefa yang saat itu tengah menggenggam tangannya dan merebahkan kepalanya di atas dadanya seraya berselfi ria sesaat dirinya masih tak sadarkan diri berhasil membuat darahnya mendidih seketika.


Marah, kesal tentu saja. Karena selama ini tak ada seorangpun yang pernah menggenggam tangannya seerat itu dan kini dengan lancang zefa berani menelanjanginya dan melakukan hal gila itu padanya.


"Sial. Lo emang kurang kerjaan banget ya?! cepet hapus foto itu, atau gue banting hp Lo sekarang juga!" ancam kaesang. Dengan sorot tajam menghunus, dan tangannya yang telah terkepal kuat di bawah sana, dirinya tengah mati matian menahan amarahnya agar tak meledak, sebab ia sangat tak ingin yang namanya melukai perempuan. Tapi melihat apa yang zefa lakukan padanya telah terlewat batas, kaesang pun tak dapat toleran lagi padanya. Ia lantas merebut hp zefa begitu saja lalu membantingnya ke lantai dengan begitu kuat hingga hp bermerekkan apel tersebut hancur tak berbentuk lagi.


Tapi zefa yang seperti tahu jika kaesang akan berbuat demikian lantas tetap santai, dan tersenyum miring kembali.


"Aku tahu kalau kamu pasti akan lakuin ini kae. Itu sebabnya dari awal aku udah pindahin salinan foto ini ke tempat yang aman agar suatu saat jika kubutuhin lagi aku bisa dengan mudah mengambilnya. Makasih ya kae, karena kamu aku bisa bujuk papa deh buat beliin aku hp baru yang lebih bagus." terlewat santai saat mengatakannya, zefa seakan telah menyiapkan semua yang dikatakannya itu dari awal. Ia seakan telah menduga jika hal tersebut akan terjadi, dan dia telah menyiapkan semua itu. Tapi melihat jika kaesang bukanlah orang sembarangan zefa tak dapat lengah, dan membiarkannya begitu saja. Ia dengan segala kecerdikannya percaya jika kali ini ia takkan kalah dari kaesang, walaupun ia tahu jika kaesang pasti semakin dendam padanya selepas ini.


Hanya kemarahan yang kini ia rasakan, kaesang pun tak dapat lagi berkata kata selepas mengetahui jika zefa masih ada salinan foto tersebut. Sorot tajamnya masih menatap lurus kearah zefa yang sedari tadi juga tengah menatap hangat kearahnya.


Dengan senyum misteriusnya, zefa sempat menghela nafas sejenak, lalu berucap kembali, "Aku tahu apa yang harus aku lakuin sekarang."


Sesaat zefa hendak mendekat kearah kaesang dan melancarkan rencananya, tiba tiba dari arah lain, tepatnya dari saku dress hitam miliknya yang tergeletak tepat di atas sofa terdengarlah suara dering telepon yang lumayan nyaring hingga berhasil membuat kedua atensi itu beralih padanya. Zefa yang panik sebab salinan foto itu ia pindahkan ke sana lantas bangkit dari posisinya dan beranjak meraih dress miliknya yang tergeletak itu kemudian mencari handphonenya yang tengah berdering nyaring tersebut. Semula ia alihkan pandangannya kearah kaesang, takut jika ia juga akan membanting handphonenya ini seperti yang sudah sudah tapi yang dilihatnya justru lain kaesang hanya diam sembari menatap datar kearahnya.


Suara dering itu masih saja berbunyi hingga membuat atensi zefa beralih menatap benda pipih di tangannya. Selepas manik mata coklatnya beralih menatap layar ponselnya itu rupanya seseorang yang menghubunginya itu tak lain dan bukan adalah mamanya sendiri. Ia lantas mengangkatnya tanpa ragu seraya pandangannya ia alihkan pada kaesang kembali.


"Halo ma."


beberapa menit tak ada jawaban..


"Halo sayang, kamu masih di sana kan?"


"Eh iya ma, kenapa?"


^^^"Kamu hari ini pulang kan? soalnya papa mau ngajak kita ke sebuah pesta perusahaan kliennya."^^^


"O-oh aku dah ngerti kok ma itu soalnya dari dua hari yang lalu papa udah sempat ngabarin aku soalnya,"


^^^"Ah jadi gitu, yasudah. hm sayang, mama jadi kepo nih, sekarang kamu lagi dimana sih, kok kayaknya sepi banget?"^^^


"Ah mama nih kepo banget deh sama urusan anak muda. Udah ah aku mau sarapan dulu, ntar bentar lagi aku pulang kok ke Jakarta."


^^^"Yasudah, tapi nanti kamu hati hati ya pulangnya. Kamu cewek, sendirian pula, jadi harus mawas diri. Hm sayang katanya kamu mau sarapan ya?, emangnya kamu bisa makan makanan selain masakan mama?"^^^


"Hm. Aku tahu kok itu, mama tenang aja."


"Ye si mama, dikira aku anak kuper kali yang mainnya cuma dirumah doang. Udah ah aku laper, mau sarapan dulu. Bye ma, jangan lupa sarapan ya, love you."


Selepas zefa memutus panggilan telepon itu dirinya pun merenung sejenak sebelum akhirnya ia alihkan pandangannya pada kaesang yang sekarang telah mengenakan pakaiannya kembali. Ia nampak bersiap dan tak menghiraukan adanya zefa di sana, bahkan ia tengah sibuk mengenakan sepatunya, sebelum akhirnya zefa berjalan kearahnya dan duduk tepat di sebelahnya.


"Kamu mau ninggalin aku kae?" pertanyaan itu langsung lolos dari mulutnya sesaat menapaki kaesang yang tengah bersiap.


Kaesang yang semula tak menghiraukan apapun yang zefa lakukan mulai menghentikan kegiatannya dan atensinya langsung mengarah pada wajah gadis itu. Ia tengah menatap kaesang datar dengan masih tak mengenakan apapun di tubuhnya. Kaesang yang sudah geram pun lantas menarik selimut dan menutupi tubuh polos gadis itu dengan selimut yang di tariknya itu.


"Gue mau pulang. Terserah Lo mau ngelakuin apa gue gak perduli." selepas mengatakan itu dengan penuh penekanan di setiap katanya, kaesang pun bangkit dari duduknya dan hendak melangkah sebelum akhirnya zefa tarik lengan kaesang itu hingga berhasil membuatnya terduduk kembali di atas kasur.


Sorot tajam langsung terlontar dari matanya sesaat mengetahui zefa menghentikan langkahnya, ia lantas menatapnya tajam dan menarik nafas sejenak, "Mau Lo apasih, hah, mau Lo apa gue tanya? kenapa lo sampe ngelakuin ini ke gue, apa salah gue ke Lo, sampe sampe Lo ngelakuin hal nekat ini. Udah ah males gue lihat muka Lo, sebelum gue bener bener pergi cepet ngomong apa yang mau Lo omongin, jangan buat gue nyesel karena udah relain waktu berharga gue cuma buat cewek kayak Lo." kaesang yang mengatakannya dengan penuh aura kekesalan justru mendapat respon hangat dari zefa. Ia terlihat tersenyum manis seraya menautkan kedua tangannya, dan tetap menatap kearahnya.


"Ada satu hal yang mau aku negosiasikan ke kamu mengenai ehm..satu hal. Tapi karena mama udah nyuruh aku pulang, yaudah besok pukul sepuluh pagi jangan lupa temuin aku di taman Rinjani Deket sekolah buat bahas yang mau aku negosiasikan ini."


Kaesang yang nampak tak perduli pun hanya berdehem sebagai respon. Tapi setelahnya ia pun ikut menyahut walaupun wajahnya menyiratkan hal lain.


"Kalo gue gak Dateng gimana?" Tanyanya dengan sorot dinginnya. Tapi zefa yang mendengarnya justru tersenyum miring sebelum akhirnya berbisik sesuatu di telinga kaesang.


"Maka jangan salahkan aku kalau aku sebar foto itu ke akun media sosial aku, kamu tahu kan followers aku banyak dan rata rata anak genius high school semua? pasti mereka bakalan terkejut banget saat tahu kamu dan aku habis ngabisin waktu liburan berdua di hotel." Selepas melontarkan kata kata yang lebih mirip sebuah ancaman, zefa pun mulai menjauhkan dirinya dari kaesang, ia kembali menatap kaesang yang dari sorot matanya menyiratkan suatu keterkejutan dan hanya menatap kearahnya tanpa berkedip.


"Yaudah pikirin baik baik ya tawaranku ini. Jangan sampai besok kamu gak datang." Selepas mengatakan itu dengan penuh senyuman yang tak dapat diartikan. Zefa pun beranjak ke kamar mandi di kamar tersebut dengan selimut yang masih setia membalut tubuhnya.


Kini menyisakan kaesang yang masih ngeblank dan tak tahu harus berbuat apa. Otaknya buntu dan tak ada satupun jalan keluar yang tersirat di otaknya walau secuil saja. Lalu dengan sorot frustasinya ia pun mengumpat dan berlalu keluar kamar dengan tergesa gesa.


"Siall!!!."


Kini dirinya tak dapat lagi berpikir apapun kecuali nama Tyas yang langsung tersirat di pikirannya begitu saja. ingin ia menghubungi kekasihnya itu tapi kenyataannya ponselnya mati dan ia sama sekali tak dapat berbuat apapun, terlebih masalah baru yang zefa ciptakan cukup membuatnya frustasi, dan merasa jengkel sendiri.


Bersambung.