
...Kelanjutan dari episode kemarin......
Tanpa menghiraukan keberadaan Sandra Wisnu lantas duduk di kursi samping sang mama seraya menatap lurus ke depan.
"Wisnu, kamu baru pulang nak? gimana hari ini?" Tanya sang mama ramah seperti biasanya juga senyumnya yang perlahan mengembang.
Tapi Wisnu yang sudah malas dan teringin segera naik ke kamarnya terlebih dengan adanya sandra di sana lantas menanyakan apa yang memang ingin dikatakannya.
"Apa yang ingin kalian bicarakan denganku? tak usah basa basi to the point saja, cepat katakan!" Tak mengalihkan pandangan juga sorot matanya yang terkesan datar dan dingin Wisnu pun menghela nafas kasar lalu mengalihkan atensinya pada kedua orang tuanya bergantian.
Semula mereka saling berpandangan satu sama lain terlebih sang mama juga seperti memberi kode pada Sandra tuk mendekat padanya membuat Wisnu semakin gerah dan berulang kali ia menghela nafas sebab sang papa juga tak kunjung mengatakan sepatah katapun. Ia tetap menatap kearah wisnu tapi sama sekali tak mengatakan apapun.
"Jadi ada satu hal yang ingin kami beritahukan padamu hari ini, terlebih dengan adanya sandra, ini akan sangat baik karena kalian berdua dapat mendengarnya langsung." Tanpa adanya suatu pertanda, sang papa langsung mengucap. Ia tak lepas dari sorot seriusnya dan tatapannya yang terkesan dingin.
"Kalian berdua akan bertunangan dua Minggu lagi." Tambahnya.
Deg!
Apa?! Sama sekali diluar dugaannya, papanya lagi lagi memberikan kejutan untuknya. suatu kejutan yang merupakan mimpi buruk baginya. Mereka lagi lagi merencanakan ini tanpa adanya persetujuannya, dan langsung memberitahunya sesaat semuanya telah siap dan hampir menjelang hari h.
Wisnu tak henti hentinya mengerjap ia terkejut amat sangat terkejut, sebab dua Minggu lagi bukanlah waktu yang lama, dan setelah itu ia akan berbeda status lagi dengan Sandra. Ia akan membohongi Zora kembali demi menutupi status barunya.
”Aku sudah duga itu, dan ternyata benar. Kalian benar benar melakukannya. Huufft terserah kalian lah, aku sudah tak perduli lagi. Toh aku juga tak dapat melawan kan, jadi terserah kalian lah, terserah. Aku mau pergi." Selepas diakhiri dengan senyuman miringnya Wisnu pun beranjak dari sana, punggungnya perlahan menjauh, dan mulai tak terlihat.
Sandra awalnya senang amat sangat senang sebab tanpa ia minta ternyata mereka telah melakukan apa yang ia mau. Mereka mengabulkannya dan tentunya senyuman di bibir Sandra tak berhenti terulas selepas mendengar berita itu. Awalnya ia excited banget saat mama dari Wisnu menghubunginya dan memintanya tuk datang. Beliau tak menjelaskan apa maksudnya tuk mengundang tapi beliau hanya mengatakan jika itu tentang Wisnu. Itulah sebabnya Sandra sempat mengernyit lalu berangkat dengan mobilnya kerumah Wisnu.
Bahkan sampai disana Sandra masih tak diberitahu tujuan mereka mengundangnya. Mereka kembali mengatakan jika tunggulah Wisnu dulu baru kami akan mengatakannya.
Tapi sesaat melihat ekspresi tak perduli Wisnu juga dirinya yang pergi selepas mengatakan kata kata tak pedulinya itu berhasil membuat alis Sandra mengernyit. Ia teringin dan hampir beranjak tuk mengejarnya tapi berhasil dihentikan mama Wisnu. Ia hanya menggeleng gelengkan kepalanya seraya mengajak Sandra duduk kembali di tempat semula.
Sandra pun nampak kesal, bibirnya maju beberapa senti, dan kedua lengannya yang terlipat. Ia merasa kesal sesaat tujuan utamanya datang adalah untuk wisnu tapi wisnunya malah tampak tak perduli dan langsung pergi begitu saja. Hatinya hancur sesaat melihat Wisnu tampak tak perduli, ia sebenarnya ingin jika Wisnu mau melakukannya dengan lapang hati, dan tanpa paksaan. Tapi jika begitu sampai kapanpun ia takkan bisa mendapatkan cinta Wisnu sebab Wisnu tidak menyukai dirinya.
......................
Di lain tempat, di sebuah taman dengan kolam kecil yang berada tepat di tengahnya terlihatlah Zora tengah duduk di tepi kolam seraya memberi makan ikan ikan yang berada di kolam tersebut. Ia tersenyum tipis seraya menaburi makanan ikan kedalam kolam dengan air jernih tersebut.
Tapi beberapa detik setelahnya terdengarlah suara larian kecil dari belakang yang berhasil menarik perhatiannya. Ia pun berbalik dan menatap sesosok gadis manis yang masih berseragam kan putih biru tersebut tengah berlari kearahnya seraya menenteng dua buah buku tipis di tangannya.
Dialah Keyra, adik semata wayang Zora yang masih duduk di bangku kelas dua SMP. ia begitu imut dengan perawakan yang hampir mirip dengan Zora hanya saja pipinya yang chubby dan tubuhnya yang ramping hampir membuat iri siapapun yang melihatnya tak terkecuali Zora. Ia berulang kali menggoda sang adik demi menunjukkan rasa irinya. Tapi melihatnya menghampirinya sungguh membuat Zora semakin gemas terhadapnya.
"Iya kak. Ada latihan tari hari ini, soalnya dua Minggu lagi sekolah aku mau ngerayain ulang tahun sekolah jadi kita yang ikut ekskul ekskul gitu lagi pada sibuk. Sibuk latihan." Jelasnya seraya tak mengalihkan pandangan.
Zora lantas tersenyum seraya berdiri tepat di sebelah sang adik.
"Oh gitu, sibuk latihan ya, kirain kamu terlambat pulang karena habis jalan jalan sama Rafa." Tebaknya. Dan dari tebakan itu berhasil memunculkan semburat merah di pipi mulus Keyra.
Entah mengapa ia merasa jika Keyra tengah gugup bercampur malu saat itu. Terlebih ia tersenyum senyum sendiri sesaat sang kakak menebak itu atas pertanyaan yang diajukannya.
"Kakak ih! kebiasaan tebakannya Rafa Mulu. Aku latihan kak latihan. Lagian kasihan dia kak difitnah Mulu sama kakak." Dengan suara cempreng miliknya dan bibirnya yang maju entah beberapa centi itu, Keyra lantas melirik kesal sang kakak lalu kembali memberi makan ikan di hadapannya.
"Yakan siapa tahu. Lagian gitu doang marah, yaudah deh maaf ya cantik udah fitnah pacar gantengnya." Selepas menoel gemas dagu sang adik, Zora pun melesat pergi dari sana. Ia sempat tersenyum jahil sebelum bayangannya pun mulai tak terlihat di sana.
Dua Minggu kemudian...
Semua hari berjalan seperti biasanya, pagi sekolah, malas, menerima materi, mengerjakan tugas, terus dimarahi guru karena ketahuan ngobrol sesaat materi masih di terangkan. Semuanya berjalan normal hanya saja terkhusus hari ini ada yang berbeda di kehidupan Zora. Ya, Wisnu tak masuk hari ini. Ia dengan alasan ada acara keluarga itupun berhasil membuat alis Zora mengernyit. Sebab setahu dirinya Wisnu tidaklah akur ataupun dekat dengan kedua orang tuanya, ia sering mendengar cerita darinya jika kehidupannya selalu diatur atur oleh sang papa. Ia bahkan juga sering berbeda pendapat dengan sang papa hingga berakhir bertengkar. Lantas urusan keluarga apa hingga membuatnya tak datang hari ini terlebih tak hanya Wisnu saja yang tak hadir hari ini, melainkan sandra juga.
Tapi bedanya Sandra beralasan jika ia tengah ada acara keluarga ke luar kota dan itu mengharuskannya tuk tidak datang ke sekolah hari ini. Zora tak memperdulikan itu. Mau Sandra tidak masuk, berguling guling ataupun melakukan apapun itu Zora tidaklah perduli. Hanya saja yang menjadi perhatiannya adalah mengapa waktu Wisnu dan Sandra tidak masuk harus bersamaan.
Ini seakan kebetulan ataukah memang ada sesuatu, tapi tak tahu itu apa? sungguh entah mengapa perasaannya tak enak sedari tadi. jantungnya tak henti hentinya berdetak cemas, dan pikirannya yang berkecamuk. Ia tak tahu akan tetapi dipikirkannya hanya tertera dua nama, pertama Wisnu dan kedua Sandra.
Entah mengapa pikirannya tertuju akan itu. Jika Wisnu tidaklah masalah, dia kan pacarnya. Tapi ini juga ada Sandra, ada apa sama dia, kenapa Zora harus mencemaskan mereka berdua? ada apa dengan pikirannya ini sebenarnya?
"Kenapa bisa kebetulan gitu ya heran, perasaan biasanya enggak. Hm apa coba ku telpon Wisnu aja ya siapa tahu dia jawab."
Di kantin yang ramai Zora nampak terduduk sendirian seraya memainkan handphone miliknya. Ia memikirkan kedua temannya yang tidak masuk hari ini dengan berbagai urusan. Tapi kebetulan itu berhasil menarik perhatiannya. Ia pun mulai menelpon nomor Wisnu tapi teleponnya tidaklah aktif hari ini. Dengan perasaan kesal dan kecewa zora pun meninggalkan tempat itu selepas apa yang ia lakukan tak sesuai dengan harapannya.
Tapi disisi lain, di sebuah gedung mewah dengan design mewah berwarna full putih dan bunga bunga yang terpasang di berbagai tempat. juga banyaknya tamu undangan yang memenuhi tempat itu. Di tempat paling depan nampaklah dua pasang sejoli yang sehabis melaksanakan pesta pertunangannya itu.
Dialah Sandra dan Wisnu. Jika dari Sandra, ia nampak begitu bahagia dengan senyumnya yang terus terulas sedari tadi, tapi berbeda dengan Wisnu. Ia tak menunjukkan ekspresi apapun. Wajahnya selalu datar bahkan saat menyalami para tetamu dan kolega ayahnya pun wajahnya masih sama.
"Congratulations honey. Akhirnya saat saat ini terjadi juga, kamu tahu gak akutuh deg degan banget tahu dari tadi, aku takut kalau acara ini bakalan ada problem eh tapi ternyata lancar lancar aja. Huufft syukurlah, Finally all my dreams can come true today. Dan ini dapat terwujud berkat kedua orang tua kita. Hm kayaknya aku harus berterima kasih deh sama mereka habis ini." Ocehnya penuh dengan kata kata menyebalkan juga tak ada titik komanya berhasil membuat Wisnu gerah, dan sontak langsung menutupi kedua telinganya dengan kedua tangannya.
"Bisa diem gak, berisik!" Sarkasnya.
Bersambung.