
"mas, bangun.. apa kau tak rindu denganku dan juga qian? bukankah kau ingin aku kembali padamu? aku akan kembali padamu mas, asalkan kau bangun.. aku sudah memaafkan atas semua yang terjadi diantara kita mas. kumohon bangunlah" ucap ara berderai air mata.
***
pagi hari,
rifqi masih setia menutup matanya. semua anggota keluarga berkumpul di ruangan rifqi termasuk qian.
qian berceloteh ria. entah apa yang dikatakan nya.
"ar, momy ingin mendengar secara detail perjalanan hidupmu saat tragedi pemaksaan itu sampai kau hamil qian"
"saat itu aku habis check up penyakit ku. saat itu memang aku tidak izin kepada mas rifqi karna saat itu aku memutuskan untuk menutupi penyakitku. setelah check up, tiba tiba aku bertemu sahabat laki laki ku. dia mengajak ku untuk makan siang bersama. tanpa ku duga ternyata mas rifqi juga ada di restoran itu. tiba tiba mas rifqi menarik kasar tanganku. ia membawa ku pulang. aku kira aku akan mendapat pukulan atau tamparan. tapi dugaanku salah. ternyata mas rifqi mengambil mahkota ku dengan cara paksa. aku sama sekali tak kecewa pada mas rifqi waktu itu. hanya saja perlakuan mas rifqi yang kasar terus terngiang ngiang di kepalaku. saat itu aku dilarikan kerumah sakit karna rahimku robek. beberapa minggu setelah itu, aku sering merasakan mual dan pusing. aku kira karna penyakitku. tapi dilla menyuruhku untuk testpack. dan saat itu aku gemetar kala tau aku sedang hamil. antara senang dan sedih. esok harinya, aku datang ke dokter. tapi dokter berkata lain. jika aku ingin tetap hidup, maka aku harus melepaskan bayiku. dan saat itu juga aku memutuskan untuk tetap mengandung. aku berniat menyembunyikan dari mas rifqi. tapi saat aku pingsan, mas rifqi membawaku ke rumah sakit. dan saat itu juga mas rifqi tau bahwa aku hamil. hari itu juga, kami membuat perjanjian konyol berisi jika anakku telah lahir dan berusia satu bulan, maka aku wajib keluar rumah membawa anak ku tanpa meminta pertanggungjawaban apapun dari mas rifqi. dan mas rifqi menyetujui ideku itu.
kami menjalani hari hari yang baik seperti pasangan pada umumnya. mas rifqi menuruti segala permintaan anehku bahkan sikap ku yang ke kanak kanakan. mas rifqi begitu sabar padaku yang terlewat manja kala itu. di usia kandunganku menginjak 8 bulan, dokter menyuruhku caesar dengan taruhannya adalah nyawaku. dan detik itu juga aku yakin untuk tak memberi tahu mas rifqi. saat itu aku tak mau caesar. aku menanyakan kepastian perjanjian saat mas rifqi tau aku hamil. aku hanya ingin melihat takdir tuhan. dan ternyata harapanku salah. aku malah jatuh dari tangga dan akhirnya hari itu juga aku di operasi. dan mas rifqi tau tentang penyakit yang kuderita"
jelas ara dengan sesenggukan dengan tangan masih menggenggam tangan rifqi.
"sebenarnya tidak semua salah mas rifqi. karna perjanjian terakhir kali adalah ide dari ku. sebelum kami menikah, mas rifqi sempat memintaku untuk menolak pernikahan. tetapi aku bersikeras untuk melanjutkannya. mas rifqi tidak tahu sama sekali dengan penyakit yang kuderita. dan sebenarnya sebagian besar masalah penyebabnya adalah diriku sendiri. dan saat sebelum aku pergi, aku melihat diriku sebagai korban tanpa melihat ke belakang bahwa mas rifqi juga sebagai korban" papar ara.