
Di sepanjang perjalanan kembali ke kantor, aku masih terpikir perkataan Naina. Kenapa istriku bisa sebaik itu untuk orang-orang seperti keluarganya. Dia masih saja memikirkan bagaimana, dan kenapa aku melakukan itu. Sementara Justin di seberang sana, tidak pernah berbuat baik padanya sedikitpun. Keluarga itu selalu memanfaatkan niat baik Naina.
Bagaimanapun aku akan tetap membuat keluarga itu hancur berkeping-keping. Cukup sudah mereka berlindung mengatasnamakan Naina. Istriku memang polos, dia berpikir orang bisa seperti dia yang mudah sekali memaafkan. Meski demikian, aku memiliki kebanggaan tersendiri pada Naina. Sean fokus menyetir dan bersiul-siul, seolah tidak ada masalah. Sejak dari rumah, tak sekalipun dia berbicara mengenai hal itu.
Tak berapa lama kami tiba di kantor dan Sean duduk di sofa yang berada tepat di depan meja kerjaku. Sean mengelus perutnya sambil mengangkat kakinya di meja.
"Woiii … kaki lu bau neraka gitu, lu naikin ke meja!"
Sean menggaruk tengkuk lehernya seraya menampilkan jejeran giginya yang putih.
"Aku masih lapar Ndre, lu mah main pergi aja." Sean protes seraya menatapku dengan tatapan jengkel.
Aku tak menanggapi keluhan Sean. Dengan telaten tanganku mulai membuka berkas-berkas yang menumpuk di meja kerjaku. Melihatku yang mulai bekerja, Sean berdiri dan kembali ke meja kerjanya.
Kami berdua sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Sean melakukan pekerjaan yang sudah ku instruksikan padanya saat berada di mobil. Aku tak sabar ingin melihat Justin datang mengemis padaku. Sejauh apa ia berlindung pada Naina.
Sejam berlalu, Sean datang menghampiri mejaku seraya memberikan satu file, kinerja Sean membuatku tersenyum penuh kemenangan.
"Bagus! Tidak akan lama lagi Justin dan keluarganya hancur dan akan bertekuk lutut padaku!" Tukasku seraya tertawa kencang.
Usai tuntas bekerja, aku memutuskan untuk pulang lebih awal. Mobil sportku Melaju membelah jalan raya. Tak berapa lama aku tiba di rumah. Aku menghampiri Naina dan Adnan di kamar. Naina dengan sigap membuka jas kerjaku. Kemudian aku bersiap-siap untuk membersihkan diri. Naina tak akan membiarkanku bermain dengan Adnan sebelum membersihkan diri terlebih dahulu.
***
Malam itu aku mendengar suara keributan dari halaman rumah. Dengan rasa penasaran, aku turun ke bawah melihat apa yang terjadi. Ternyata Justin datang beserta dayang-dayangnya.
"Tuan … kami sudah melarangnya untuk bertemu dengan Tuan, tapi … ."
"Kembalilah ke tempatmu." Titahku pada Mamang yang bekerja sebagai security di kediamanku.
Wajah Justin berubah murka seketika, saat melihatku menghampirinya. Dengan gaya santai, aku tersenyum padanya.
Aku tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Justin. Melihatku yang tertawa, pria yang sebaya denganku itu semakin geram. Kepalannya hampir saja mendarat di wajahku. Dengan cepat ku tangkis pukulan Justin dan mendorongnya hingga membuatnya tersungkur. Aku menarik kerah bajunya hingga ia berdiri di hadapanku.
"Apa yang kau inginkan!" Tanyaku dengan nada keras.
Entah sejak kapan Naina ada di belakangku. Ia berusaha mencegah keributan itu.
"Naina! Kau tahu, apa yang dilakukannya pada perusahaan kita! Kenapa kau tak mencegahnya!"
Naina terdiam dan memandangku. Ia berharap aku akan menghentikan aksi ku pada Justin.
"Ini belum seberapa!"
"Bruukkk" Justin tersungkur akbiat dari pukulanku. Naina menutup mulutnya dengan kedua tangannya saat aku memukul Justin.
"Kau menyiksanya, menikmati tubuhnya menjualnya pada lelaki ****** sepertimu! Pantaskah kau di sebut sebagai saudaranya! Kau memanfaatkan istriku berpuluh tahun lamanya, hanya untuk obsesimu!" Suaraku menggema di halaman seraya melayangkan pukulan berkali-kali padanya.
"Mang! Buang dia ke luar! Jangan biarkan dia membuat keributan lagi!"
Perkelahian malam itu membuatku puas, meski aku tahu Naina tersinggung dengan ucapanku. Aku menyusul Naina ke kamar, Naina menangis ditepi ranjang, aku mendekatinya dan memeluknya. Naina memelukku erat.
"Sayang, semuanya kulakukan untukmu. Maaf jika perkataanku tadi, membuatmu tersinggung." Aku mengusap cairan bening di pipinya.
"Terima kasih sudah menerimaku," lirih Naina sembari menatapku. Aku tersenyum mendengar ucapan Naina.
Melihat Naina yang mulai tersenyum, aku pun mulai tenang. Aku berharap ia tidak lagi memikirkan masa lalunya. Dia yang seharusnya menikmati kebahagiaan, namun karena ketamakan orangtuanya akan harta, membuatnya menjadi korban di keluarganya. Sudah saatnya Naina bahagia denganku. Pertemuanku pertama kali dengannya membuatku terpesona. Bukan hanya cantik, ia juga lemah lembut.
Meski awalnya sulit untuk menerimanya, namun aku sadar dia lebih hebat dariku. Bertahan dengannya hingga saat ini, anugerah terindah dalam hidupku.
"Aku mencintaimu, Naina."