Cinta Tuan Arogan

Cinta Tuan Arogan
curahan hati ara


"apa alasanmu menyembunyikan penyakitmu?" tanya rifqi dengan wajah dinginnya.


"apa kau ingat mas, kau pernah mengatakan bahwa aku hanyalah sampah. hidupku adalah beban untukmu. maka dari itu aku tak ingin menambah beban untukmu" jawab ara jujur


"boleh aku cerita sedikit mas?" tanya ara.


rifqi mengangguk


"saat itu aku sudah menyerah dalam hidupku. saat pertama aku tau bahwa aku hamil, aku sangat bahagia. namun dokter mengatakan bahwa aku memiliki penyakit yang membahayakan aku jika aku tetap mengandung anak ini. saat itu, aku memutuskan untuk tetap mengandung anak ini. setiap hari aku merasakan betapa sakit nya tubuhku ini. kau ingat darah yang sering kau temui? itu adalah salah satu darah mimisanku. berkali kali aku pingsan tanpa sepengetahuanmu. sampai pada titik dimana dokter memvonis bahwa usiaku tersisa 10 hari. aku menangis, bukan menangisi sisa umurku.. aku hanya merasa kalah pada diriku sendiri. aku ingin melihat anakku lahir. melihat wajahnya dan merawatnya. apa kau ingat saat aou menanyakan tentang perjanjian itu? yang kutakutkan saat itu adalah jika anakku lahir dan jika saat itu juga aku tak sanggup bertahan, aku takut anakku akan terlantar nantinya. tapi kak aldy selalu menguatkanku. dia berjanji padaku bila aku tak kuat bertahan didunia, dia yang akan merawat anakku. bukankah dia berkata padamu untuk mengadzani anak kita?"


"itu adalah permintaan dariku. saat sebelum kau berangkat ke luar kota waktu utu, aku sudah menyiapkan diri untuk mengatakan tentang diriku dan melakukan operasi caesar saat itu juga. namun saat kau pergi ke luar kota, aku merasa kalah. aku sama sekali tak berniat memberi tahumu. berkali kali dokter menghubungiku untuk jadwal operasi caesar. aku pasrah pada hidupku saat itu. saat aku kehilangan kesadaranku, batinku masih bisa berbicara. dalam hatiku aku hanya berdo'a agar bisa melihat wajah anakku sekali saja. tuhan terlalu baik padaku hingga ia memberiku kesempatan untuk melihat wajah anakku sampai sekarang"


ucap ara sambil tersenyum getir.


rifqi hanya mematung mendengar isi hati ara.


setelah mengeluarkan unek uneknya, ara segera berjalan ke arah ranjang dan langsung tidur disana. sedangkan rifqi masih mencerna ucapan ara.


"apa sekejam itu aku sebagai seorang suami, sampai aku tak tau apa yang dirasakannya selama ini" gumam rifqi dalam hatinya.


"oh yha dan satu lagi mas, tenanglah sampahmu ini akan pergi secepatnya dari sini" ucap ara masih tidur membelakangi rifqi dengan suara bergetar menahan tangisnya.


rifqi tak menghiraukan ucapan ara. ia menganggap itu semua hanya bercanda.


ia keluar kamar.


suara pintu dibanting oleh rifqi.


rifqi masuk ke kamar sebelah. ia merebahkan tubuhnya disana. kata kata ara terus terngiang ngiang di otak nya. ia mencoba memejamkan matanya. ia mencoba menghilangkan segala yang mengganggu pikirannya..


mengapa hatinya terasa tertusuk pedang tajam saat mengdengar curahan hati ara?.. cinta? apa dia sudah cinta. atau hanya sebuah perasaan iba ketika mendengar curhatannya tadi?


ia sungguh bingung dengan perasaannya.


"apa ini sudah keputusan yang tepat?" pikirnya.


ia begitu bimbang memutuskan semuanya. di satu sisi sudah ada seorang anak tak berdosa diantara mereka.


'apakah terlalu kejam bila memutuskan untuk berpisah??'


'bertahan?? apa bisa? bukankah tujuan utamaku adalah membuat hidupnya menderita?'


'tapi mengapa sangat sulit untuk melepaskan nya?'


'cobaan apalagi ini? kenapa aku dihadapkan dalam pilihat yang meyulitkan?'


pikir rifqi berkelana.. tak terasa ia terlelap dan masuk ke alam mimpinya.