
Pagi itu Aku sudah tak melihat Naina diranjangku. Aku pun bergegas berbenah untuk berangkat ke kantor. Saat aku membuka knop pintu Naina sudah berdiri didepan pintu dengan membawa beberapa pakaianku untuk ditaruh dilemari.
"Pagi Tuan ...."
"Pagi Naina," sahutku sembari memakai jam tangan kesukaanku dipergelangan tangan.
Aku menuruni anak tangga dengan sigap menuju ruang makan. Aku melihat situa bangka itu duduk disamping Mama. Tak lama kemudian Naina menyusul dengan membawakan Nasi goreng kesukaanku.
Tidak seperti biasanya, kali ini Mama tak memberi ucapan apapun padaku. Aku memperhatikan Mama kemudian beralih ke situa bangka itu. Entah laporan apa yang dia berikan sampai Mama berdiam diri padaku. Aku tak terlalu memperdulikan itu.
Selesai menikmati sarapan yang disajikan Naina, aku pun bergegas ke kantor. Saat aku berdiri tiba-tiba Mama mengucapkan sesuatu.
"Ndre, sekarang juga kamu pecat Naina." kata Mama tegas tanpa menghiraukan perasaan Naina yang berdiri disebelahnya.
"Dengan alasan apa?" tanyaku sembari duduk kembali.
"Pokoknya pecat saja, ternyata dia bukan dari keluarga yang baik-baik. Bahkan dia semalam mencoba menggoda Papamu. Kurang ajar bukan?" Grutu Mama sembari menoleh kearah Naina.
Aku tertawa dan tawaku pun menggema diruangan itu. Kemudian aku menolehkan pandanganku ke arah Naina. Aku melihat Naina tertunduk.
"Tidak ada satupun yang bisa mengeluarkan Naina dari rumah ini. Mama seharusnya tahu bagaimana sifat suami Mama itu, jangan gampang termakan oleh perkataan si manusia lakhnat ini." jelasku sambil memandangi situa bangka.
"Plaaaaaaaaakkkkkk" tamparan keras dari Mama berhasil mendarat dipipiku.
Aku hanya tercengang melihat aksi Mama kali ini. Sampai seumur ini, ini pertama kali Mama berlaku kasar padaku. Namun aku hanya membalas dengan senyuman pada Mama. Aku melihat Mama mulai merasa bersalah dengan perbuatannya.
"Terima kasih Ma...."
Aku pun berlalu meninggalkan mereka. Mobilku mulai membelah jalanan yang dipadati kendaraan yang lain. Aku menatap pipiku di kaca yang ada didalam mobil sembari menyeringai. Aku semakin dendam melihat situa bangka itu.
***
Dikantor aku langsung memanggil Sean keruanganku. Tanpa menunggu lama Sean pun muncul diruanganku.
"Se ... Tolong kau suruh beberapa orang untuk membawa situa bangka itu ke markas." Perintahku sambil menggeram.
Sean pun mengikuti arahanku. Aku mendengar Sean menelepon seseorang diseberang sana.
"Jika situa bangka itu sudah di markas, beritahukan segera Se." ucapku lugas.
"Baik Boss...." jawab Sean singkat.
Aku kembali berkutat dengan laptopku dan memeriksa keuangan dari perusahaan yang dijalankan situa bangka di negeri paman sam itu. Mataku terbelalak melihat nominal yang digelapkan situa bangka itu tanpa sepengetahuanku.
"Se ... Tolong kau selidiki kembali pelarian dana dari perusahaan itu sebelumnya."
"Baik pak," jawab Sean.
Tiba-tiba ponsel Sean berdering dan Sean menjawab panggilan itu seraya menoleh kearahku.
"Boss, Papa anda sudah dibawa ke markas."
"Mari kita bermain." ucapku dengan keadaan tangan mengepal sembari tersenyum simpul.
Tanpa menunggu lama Aku dan Sean menuju markas kami. Diperjalanan aku terus mendesak Sean supaya menaikkan kecepatan mobil sport kuning milikku. Tanganku tak sabar ingin mendaratkan pukulan pada situa bangka itu.
Dengan kecepatan tinggi, kami pun sampai ditujuan. Aku bergegas turun dari mobil kesayanganku. Kami memasuki markas itu, markas itu adalah bangunan tua yang sudah tak ada yang empunya. Disinilah tempat kami melakukan serangan terhadap orang-orang yang membuat ulah, dan jasadnya dibuang tanpa jejak.
Aku melihat situa bangka dengan tangan terikat dan mata tertutup, tanpa bersuara aku langsung melakukan serangan membabi buta padanya. Aku mendengar suaranya yang mengerang kesakitan.
"Buggggghhhhhhh," Satu pukulan ke wajahnya.
"Ahhhhh," Dia meringis kesakitan.
"Jelaskan padaku, kemana saja kau larikan dana itu manusia lakhnat?" ucapku dengan suara yang menggema di bangunan tua itu.
"Ya ini Aku Andre, anak yang tak pernah kau anggap. Anak yang selalu kau abaikan." jawabku dengan suara yang lembut ketelinganya.
Aku pun melakukan pukulan dan tendangan yang keras ke tubuhnya yang sudah mulai meringsut lemah tak berdaya karena pukulan beberapa orang suruhanku sebelum kami datang.
"Apa maumu? Bunuh saja aku."
Aku tertawa sekencang-kencangnya dan tawaku menggema di markas itu.
"Kau pikir aku bodoh Tuan. setelah kau berulah dana di perusahaan dan membuat onar, kau pikir aku akan membunuhmu? Itu terlalu baik Tuan." Protesku geram tak terima usul situa bangka itu.
"Aku sudah mengumpulkan bukti penggelapan dana yang kau ambil dari perusahaan. Dan aku tak akan mendiamkan ini. Kau tahu kan, aku tidak suka dengan orang-orang yang bermain denganku." ucapku sembari menarik rambutnya yang sudah dipenuhi rambut putih.
"Arrrrggghhhhhh," Dia mengerang kesakitan, aku hanya tertawa.
"Siksa dia sesuka hati kalian," ucapku kepada orang suruhanku.
"Oh iya, sekali lagi jangan pernah kau meracuni pikiran Mama dengan ide busukmu itu. Jika itu terjadi lagi aku tak segan-segan mematahkan tulang-tulangmu." ucapku tegas.
"Aku memberimu waktu seminggu untuk mengembalikan dana perusahaan, Tua bangka. Jika lewat dari waktu seminggu, jangan salahkan aku." hardikku dengan suara lantang yang menggema dimarkas itu.
Selesai dengan aksiku, kami pun berlalu dari tempat itu. Sebenarnya aku tak tega, namun kebencian dihatiku sudah memuncak. Meski aku melakukan itu dengan bringas, namun dihatiku menangis. Kenapa ini harus terjadi padaku. Ini adalah kelemahanku, aku tak kuasa memendam perasaan ini. Tidak ada sedikitpun perbuatannya padaku yang dapat kuingat antara orangtua dan anak. Sungguh hatiku terluka mengingat masa kecilku tanpa kehadirannya disisiku. Sekalipun dia ada, tapi seperti tak ada.
***
Sesampainya Aku dikantor, aku pamit pulang pada Sean. Dengan kondisi seperti ini Aku tak memiliki konsentrasi dalam memulai pekerjaan. Dengan kecepatan sedang, mobil sportku melaju membelah jalanan yang ramai.
Tak berapa lama aku sampai di istana megahku. Aku masuk tanpa memberi salam. Aku mencari keberadaan Naina. Aku mendapati Naina di bagian dapur sedang berkutat dengan alat dapur beserta jajarannya.
"Naina ... Bawakan teh hangat ke kamarku." Sontak Naina terkejut dengan suaraku.
"Tu-an, anda sudah pulang? tanyanya heran.
"Ya kepalaku sakit, jadi aku tak konsentrasi bekerja." ucapku serius menatap ke arahnya.
Aku melihat Naina sibuk dengan pekerjaannya aku pun segera berlalu ke kamarku. Sembari berjalan ke kamarku aku mencari keberadaan Mama. Namun sama sekali aku tak menemukannya.
***
Dengan kebiasaanku sehabis pulang dari kantor, aku mulai membersihkan diri. Dengan memakai handuk dipinggang aku keluar dan aku melihat Naina berdiri disamping nakas sembari meletakkan teh hangat untukku. Entah angin apa yang membuatku ingin memeluk Naina.
Dengan memberanikan diri aku memeluk Naina dari belakang, sontak Naina terkejut dengan pelukanku. Ia pun mulai menepis tanganku yang mendarat dipinggangnya yang ramping.
"Biarkan begini saja Naina," bisikku lembut ditelinganya.
"Layani aku," bisikku sembari menelan salivaku.
Naina seolah mengerti dengan permintaanku. Aku mulai mencium tengkuk lehernya, dan aku membalikkan tubuhnya agar berhadapan denganku, sekali lagi tidak ada penolakan.
Dengan hasrat dan napas yang memburu aku mulai ******* bibirnya yang ranum, aku melakukannya dengan lembut. Aku melihat manik matanya yang indah, lagi aku memainkan bibirnya tanpa jeda membuatnya menahan napas. Aksi itu membuat sesuatu dibawah sana mulai mengeras di balik handuk yang ku kenakan.
Tanganku mulai bergerilya menelusuri bukit kembar yang sintal dibalik kaus yang dikenakan Naina. Aku melihat Naina menelan salivanya. Aku mulai melancarkan seranganku dengan meremasnya lembut, tiba-tiba ponsel sialan ini berdering tak karuan dan Naina mendorong tubuhku dari hadapannya.
"Tu...an ponsel anda berdering." ucapnya malu-malu seraya megusap bekas bibirku di bibir miliknya sembari berlalu dari hadapanku.
"Ahhh... Sial!" ucapku jengkel sembari menggeser ikon hijau dilayar ponselku.
"Apaan sih lu! hardikku pada Suara di seberang sana."
"Lu yang apaan! Gue nelpon baik-baik lu jawab teriak-teriak!" sahut Marco.
Tanpa berkomentar lebih lama, aku memutuskan panggilan dengan sepihak dengan kejengkalan yang luar biasa. Karena tugas yang belum tertuntaskan itu membuatku geram. Aku malu untuk memanggil Naina ke kamarku, dengan keputusan yang berat aku memutuskan untuk bersolo karir di kamar mandi.