Cinta Tuan Arogan

Cinta Tuan Arogan
buatanku


rifqi pun mengangguk dan berjalan keluar kamar. sampai ambang pintu nita berkata


" tuhan memberi manusia nyawa dan ia bisa saja mengambilnya kapan pun dan dimanapun. percayalah bahwa ara adalah orang baik. tuhan sudah memberimu garis takdir. jika kau berusaha lepas dari takdir tuhan, aku jamin kau akan menyesal suatu hari nanti"


rifqi menghentikan langkahnya dan mendengarkan tuturan nita tanpa memandangnya.


" dan aku adalah orang yang tidak akan pernah menyesal dengan keputusanku" jawab rifqi lalu ia melangkah kan kakinya pergi menuju kamarnya sendiri.


setelah rifqi pergi, dokter nita memberikan suntikan di infus ara karna ia tau ada andil penyakit ara atas pingsannya ara.


pagi hari tiba.


ara mengerjapkan matanya. ia melihat ke sekelilingnya. ia tau bahwa dia ada di kamar tamu. lalu dimana rifqi?


disisi lain, rifqi sedang di dapur membuatkan segelas susu hamil untuk ara. ia membawanya ke kamar ara.


ceklekk ( suara pintu dibuka) yang pertama kali ia lihat adalah wajah damai ara yang sedang tidur ( padahal sebenarnya ara sudah bangun, hanya saja ia berpura pura belum bangun).


rifqi meletakkan gelas berisi susu di atas nakas. ia memandang lekat wajah ara. senyuman tipis terukir di bibirnya. ia menyingkap anak rambut ara ke belakang telinga ara. ia membangunkan ara dengan menggoyangkan pundaknya.


" ar, bangun" ucap rifqi lembut.


ara mengerjapkan mata nya bangun. rifqi dengan sigap membantu ara duduk bersandar ranjang.


"shhh" desis ara yang merasa sedikit sakit pada tangannya yang di infus.


rifqi dengan cepat menyodorkan susu yang dibuatnya tadi ke depan ara.


"minumlah"


ara pun meminum segelas susu itu. dengan sekejap langsung tandas tak bersisa.


" kenapa rasanya tidak seperti biasanya? kelihatannya kandungan susunya sangat banyak " gumam ara dalam hatinya. ia tak berani mengungkapkan nya.


"ada apa? apa tidak enak? aku yang membuatnya"


"enak kok mas" ucap ara sambil tersenyum manis.


" ini jam berapa mas?" tanya ara mengalihkan topik pembicaraan.


"jam setengah sembilan pagi" jawab rifqi enteng.


" hah apa?!" ara membelalakan matanya. ia dengan buru buru berusaha turun dari ranjang dengan membawa cairan infusnya walaupun badannya masih lemah.


" hei kau mau apa?" tanya rifqi menghentikan ara.


" aku belum membuatkan sarapan, aku belum menyiapkan pakaian kerja mas dan juga aku belum membantu para pelayan bersih bersih rumah"


rifqi menggeleng gelengkan kepalanya lalu menyentil dahi ara.


tukk


"aduhh"


" kau ini sedang sakit tapi masih saja memikirkan tugasmu"


" bu bukannya mas rifqi akan marah?"


rifqi hanya memandang ara dingin. ara yang merasa ditatap tajam pun belingsatan ketakutan.


" lhohh mas rifqi nggak kerja yha?" ucap ara mengalihkan pembicaraan lagi. rifqi hanya menjawab dengan deheman.


rifqi mengambil piring yang sudah berisi makanan di atas nakas lalu ia menyuapi ara. rifqi menyodorkan sendoknya ke mulut ara. sedangkan ara masih bingung dan masih menutup mulutnya.


" bukalah mulutmu" ucap rifqi yang mengagetkan ara dengan reflek ara membuka mulutnya. ia mengunyah apa yang masuk dalam mulutnya walaupun dalam lidahnya tidak ada rasanya karna efek sakit.


rifqi dengan telaten menyuapi ara. sesekali ara berbicara namun langsung dibungkam rifqi dengan sesendok nasi. tak lama kemudian, sepiring sarapan telah tandas tak bersisa.


" uhhh kenyanggg" ucap ara sambil mengelus elus perut buncitnya. rifqi pun ikut tersenyum melihat ara sudah kenyang dan dengan inisiatifnya, ia memegang perut ara dan mengelus elusnya. ia menempelkan pipinya pada perut ara.


tiba tiba terdengar pintu kamar terbuka


ceklekk