Cinta Tuan Arogan

Cinta Tuan Arogan
Berita dari Markas 1


Beberapa hari kemudian....


Setelah minta maaf pada Naina hubungan kami perlahan membaik, meski belum adanya ikatan pernikahan. Mama masih saja terus mendesak status untuk Naina. Aku diam tak menyahut setiap pertanyaan yang sama berulang kali. Bahkan Aku tahu Naina pun ingin kejelasan dari hubungan ini.


Pagi itu Aku lebih awal berangkat ke kantor karena adanya hal yang penting mengenai berkas kerja sama yang harus kukerjakan.


Ditengah perjalanan Aku masih saja terngiang dengan desakan Mama.


Sesampainya di kantor Aku melihat Sean yang sibuk bertelepon ria entah dengan siapa, sampai-sampai pria yang sebaya denganku itu tak menyadari keberadaanku.


"Eh... Udah datang Pak." Katanya sembari tersenyum kikuk dan memasukkan ponsel ke saku celananya.


Aku hanya mengangguk seraya tersenyum manis dihadapan Sean.


"Se... Coba kau selidiki kelemahan perusahaan keluarga Pradipta."


"Pradipta??" Jawabnya heran.


Tak butuh waktu lama mencari informasi mengenai perusahaan itu, Sean menjelaskan Perusahaan itu sedang dalam masa paceklik. Dengan cepat Aku menjelaskan maksud dan tujuanku mengenai perusahaan Pradipta itu. Sean manggut-manggut tanda mengerti. Aku dan Sean mulai merancang kerja sama. Perlahan tapi pasti Aku akan membalas semua perbuatan keluarga Pradipta itu untuk Naina. Sean terlihat antusias dengan rencanaku kali ini.


***


Dirumah.


Saat tiba dirumah Aku melihat Mama dan Naina sedang berbincang. Aku yakin Mama sudah mulai membahas mengenai gizi-gizian pada Naina. Mereka melihatku datang dan Mama menyuruhku duduk disamping Naina. Aku mengikuti arahan wanita paruh baya itu.


Benar saja, Mama mulai berceloteh tentang suami siaga dan makanan yang baik untuk janin dan sebagainya. Perbincangan kali ini diluar kendaliku, terpaksa Aku mendengar dengan hikmat setiap masukan dari Mama. Berbeda dengan Naina, tampaknya wanita yang tengah hamil muda itu antusias dengan masukan dari Mama.


"Andre... Kapan kamu menikahi Naina. Ini tidak baik berlama-lama!" Tukas Mama serius.


Aku menatap kedua wanita itu bergantian. Aku tak tahu jawaban apa yang harus kuberikan pada Mereka.


"Kamu mau sampai brojol dulu baru disahkan! Setidaknya hanya akad saja dulu!" Desak Mama bertubi-tubi.


Mendengar Mama yang mengomel Aku langsung beranjak dari sana tanpa sepatah kata. Kedua wanita itu terdiam melihatku yang berlalu begitu saja. Tidak terima dengan caraku, Mama mengekor dari belakang disusul dengan omelannya yang membuatku telingaku panas.


Saat berada dikamar, Aku langsung mengunci pintu itu dari dalam. Mama masih saja menggetuk-ngetuk pintu itu berkali-kali memanggil namaku. Mendengar Mama yang masih berada di depan kamarku, Aku beranjak dan membuka kembali pintu itu.


"Andre... Kamu pikir ini Main-main? Kamu jangan seperti anak-anak!" Hardik Mama marah-marah.


"Ma... Andre belum bisa sepenuhnya menerima Naina, beri Aku waktu." Kataku sedikit emosi.


Saat Mama hendak membuka suara, tiba-tiba Naina masuk menyusul kami. Ia terlihat ketakutan.


"Nyonya... Tidak usah dipaksa, biarkan saja begini." Desisnya lirih sembari meneteskan air mata kemudian berlalu dari hadapan kami.


Melihat Naina yang berlalu, Aku segera menyusul ke kamarnya. Benar saja Naina menangis terisak. Aku membawanya kepelukanku dan menenangkannya.


"Aku masih butuh waktu Naina...." Kataku sembari mencium keningnya.


Aku memberanikan diri mengatakan hal itu pada Naina agar ia tidak berpikir yang macam-macam. Aku menjelaskan dengan panjang lebar agar statusnya dimasa lalu itu tak menjadi boomerang suatu saat nanti, karena itu lebih menyakitkan dari pada ini. Sepertinya Naina mulai mengerti dan ia mengusap sisa airmatanya. Setelah menjelaskan padanya Aku membaringkannya dan mulai memasang selimut untuknya sembari mencium kening Naina. Ia memperhatikan setiap gerak-gerikku dan tersenyum.


***


Pagi hari


Sarapan sudah terhidang dimeja yang berukuran besar itu, Naina dan Mama sudah lebih dulu berada di meja tersebut. Aku menampilkan senyum terbaik pagi ini untuk kedua wanita itu. Mama sepertinya masih marah dengan caraku tadi malam terlihat dari caranya memandangku. Aku tak menghiraukan tatapan itu, Aku sibuk mengunyah makanan yang ada dihadapanku. Usai sarapan Aku menuju garasi yang diikuti Naina dari belakang.


"Ada apa Naina? Ada yang ingin kau katakan?"


"Tuan... Bisakah kau membawakanku pisang goreng yang dijual ditepi jalan itu setelah pulang bekerja?" Katanya memohon.


Aku terbelalak mendengar permintaan ibu hamil ini dan diam sesaat. Namun tak ingin mengecewakannya. Aku mengangguk tanpa bersuara. Aku akan menyuruh Sean yang membeli itu ditepi jalan pikirku.


***


Di Kantor


Sean melihatku masuk ke ruangan dan ia menyusulku sembari memberi informasi mengenai perusahaan Pradipta. Aku menyetujui semua masukan Sean untuk kerja sama dengan perusahaan itu dalam waktu dekat ini. Aku mempercayakan urusan ini pada Sean. Setelah selesai membahas hal itu, Aku mengambil pekerjaanku begitu juga dengan Sean. Tak berapa lama, ponselku berdering. Aku melihat nama orang suruhanku tertera dilayar ponselku.


Aku bertanya dalam hati, ada apa mereka menghubungiku. Aku mengklik ikon hijau itu dan berbicara dengan orang diseberang sana. Aku terdiam sesaat karena informasi yang diberikan orang diseberang sana. Kemudian Aku membuka suara memberi arahan pada mereka. Aku menutup panggilan dan membawa Sean berlalu dari kantor menuju Markas.


Sean buru-buru menyetir sedangkan Aku masih terdiam disamping kemudi. Orang suruhanku memberi informasi bahwa Papa dalam keadaan kritis, penyakit Jantungnya kambuh. Aku hampir lupa si tua itu memiliki riwayat lemah jantung. Sebelum kami ke Markas Aku terlebih dahulu menghubungi Dokter kepercayaan keluargaku untuk ikut serta ke Markas.


Saat kami tiba disana si tua itu sudah diperiksa oleh Dokter Bram. Bram mengatakan pria paruh baya itu harus dirujuk ke Rumah sakit. Aku menyetujui perkataan Dokter Bram.


***


Di Rumah sakit.


Pria paruh baya itu sudah diperiksa oleh Dokter spesialis. Ia masih saja terlihat lemas tak berdaya. Membuat hatiku sedikit terenyuh. Setelah memeriksa keadaan Papa, Dokter spesialis itu mengajakku keluar untuk mengobrol perihal penyakit Papa. Dokter memberi tahu kondisi Papa yang sudah menurun drastis dan harus dirawat. Biasanya Papa sering melakukan kontrol ulang rutin tiap bulannya kata Dokter spesialis itu.


Mendengar pernyataan Dokter itu Aku merasa bersalah dengan perbuatanku padanya. Aku memasuki ruangan VIP itu dan menatap dalam ke arah pria tua itu. Melihatnya yang sulit bernapas Aku merasa iba.


Pria tua itu perlahan-lahan membuka matanya, ia melihat keberadaanku disana. Ia menggerakkan jari tangannya agar aku mendekatinya. Aku mengikuti arahannya, ia berkata terbata-bata sembari menangis. Sedikitpun Aku tak mengerti apa yang diucapkan oleh Papa. Aku mengusap airmata diwajahnya yang mulai terlihat keriput. Aku tak tahu apakah pria ini tulus ataukah hanya sandiwara. Aku harus tetap waspada dengan pria ini.


"Istirahatlah. Jangan banyak bicara." Kataku singkat.


Pria tua itu tersenyum, ini pertama kalinya senyuman tulus itu terbit untukku. Aku membalas senyumannya sembari membenarkan selimutnya hingga ke bagian dadanya.


Setelah sekian jam berjaga-jaga disana, Aku memutuskan untuk pulang dan pamit padanya terlebih dahulu. Papa hanya mengangguk mengiyakan. Aku mengerahkan anggotaku untuk menjaga disana, agar Papa tidak merasa sendiri.


Diperjalanan pulang Aku masih terbayang senyuman Papa. Senyum yang kuimpikan dari dulu. Ada rasa bahagia saat senyuman itu datang padaku. Namun kusesali kenapa harus dengan cara ini, meski Aku sedikit ragu. Aku dan Papa bukanlah tim yang baik antara Ayah dan Anak. Sean hanya melirik sekilas kepadaku tanpa bersuara dan kemudian fokus pada jalanan yang dihadapan kami.


Bantu vote, like dan komentar ya😇