Cinta Tuan Arogan

Cinta Tuan Arogan
Naina 3


Tepat pukul 05.00 subuh itu Aku terbangun dari ranjang milik Naina, Aku tak melihat Naina disebelahku. Aku pun memakai baju yang sudah tersedia diatas ranjang itu. Sepertinya Naina menyediakan itu disana. Kemudian Aku beranjak dari sana menuju kamarku.


Aku bukan menuju kamarku melainkan ingin mencari keberadaan Naina. Jelas saja Naina berada di dapur saat ini, Aku pun bergegas kesana, Aku melihatnya sedang memasak. Gadis ini, sungguh membuatku terkesima. Aku mendekat dan memeluknya dari belakang.


Naina terkejut dengan pelukanku. Ia pun menoleh kearahku. Membuat wajahnya bersentuhan dengan wajahku. Ia sempat beberapa kali melepaskan pelukanku. Tetap saja tenagaku lebih besar dibandingkan dengannya.


"Selamat pagi Naina...." Sapaku dengan suara yang masih serak khas bangun tidur.


"Pa-gi Tu-an." Ia selalu saja mengucap dengan terbata saat terkejut.


Setelah memeluk tubuh yang menjadi canduku, Aku berlalu ke kamarku. Disana Aku mulai membersihkan diri, kemudian memakai jas kebanggaanku sebagai penerus sah Perusahaan bonafit itu.


Dengan langkah semangat, Aku menuju meja makan. Disana sudah berjejer beraneka makanan untuk disantap pagi ini. Tak lupa Naina selalu cekatan dalam mengurus makananku.


Usai sarapan, Aku menuju Perusahaan bonafit itu. Dengan kecepatan tinggi Aku pun sampai disitu. Ku langkahkan kakiku memasuki ruanganku. Aku melewati resepsionis yang berdebat dengan seorang wanita. Aku berjalan mendekat kearah mereka, entah apa yang ingin mereka perdebatkan pagi ini.


"Maaf... Ada apa ini? Kenapa pagi sekali kalian berdebat disini?" sapaku sembari menatap resepsionis itu.


"Mmm... Anu Pak.... "


"Anu apa Gita? Kamu kalau bicara itu yang jelas!" sahutku jengkel pada Gita resepsionis yang bertugas pagi ini.


"Andre...."


Aku menoleh ke sumber suara itu, yaitu wanita yang berdebat dengan Gita.


"Cecil...." Kataku dengan heran. Aku mulai bertanya, kenapa wanita ini ada disini.


Setelah penjelasan panjang lebar dengan Gita, Aku membawa Cecil ke ruanganku. Gadis itu sepertinya senang sekali. Tapi jujur saja Aku merasa biasa saja. Hatiku masih sama seperti beberapa tahun silam saat kuliah dulu. Aku sedikitpun tak menyukainya.


Dengan gaya centilnya, tanpa Aku menyuruhnya duduk. Ia langsung duduk disofa hitam itu dengan gaya sensual. Tak lupa ditambah lagi dengan pakaian seksinya. Sepertinya dia cukup tau kelemahanku. Aku berusaha netral dihadapannya.


"Apa kau ingin minum kopi atau semacamnya Cecil?"


"Hmmm.... Kopi saja Andre sayang."


Aku sudah terbiasa dengan sebutan sayang darinya. Jadi, itu tak terlalu beban untukku. Jika Aku mau, detik ini juga Aku bisa meniduri wanita yang bertubuh molek itu. Namun Aku masih menjaga hasratku.


Tidak ada obrolan penting antara Aku dan Cecil diruangan itu. Aku mendengar suara ketukan dibalik pintu. Aku melihat Sean datang dengan wajah tersenyum. Ia pun mengerutkan kening setelah menyadari ada Cecil dikantor.


Mereka berdua pun mulai bercengkrama bak tak jumpa seabad. Ya, Cecil dan Sean memang akrab saat kuliah dulu. Adik perempuan Justin ini sebenarnya sangat cantik dan sesuai dengan idaman para lelaki. Wajah yang cantik dan body yang seksi menambah kesan indah padanya.


Waktu istirahat siang pun tiba, kami bertiga memutuskan makan siang bersama. Di kantin seberang Perusahaan ini. Setelah berbicara panjang lebar Cecil menjelaskan maksud kedatangannya, Ia ingin mengajak kami berpesta dihotel ruangan VIP yang di sewanya khusus untuk malam ini. Dengan cepat Sean menyetujuinya membuatku ingin menggetok kepalanya saat ini juga.


Sean menyadari Aku tak suka dengan keputusannya. Ia hanya tertawa dan menampilkan deret giginya yang putih. Aku memandang kearahnya dengan tatapan tak suka.


Malam ini sesuai dengan perkataan tadi siang, Aku, Sean dan Marco menepati janji pada Cecil. Kami bertiga berjalan menuju ruangan VIP yang disewa Cecil. Setelah kami memasuki ruangan VIP itu, kami bertiga tercengang. Pasalnya kami hanya melihat Cecil duduk manis diruangan VIP itu dengan menggunakan gaun mini bertali satu berwarna peach dan dengan dandanan modis saat ini.


"Silakan masuk kalian, kenapa bengong sih?" ujarnya sembari berjalan kearah kami.


Kami pun duduk dikursi yang sudah disediakan. Aku mulai membuka percakapan dan menanyakan kenapa hanya kami saja disini. Dengan santai gadis itu menjawab, bahwa ia merindukan kami.


Usai bercerita panjang kali lebar malam pun semakin larut, Aku beranjak pamit dari mereka. Aku merasa muak dengan acara itu, entah acara apa itu pikirku. Bagiku itu sangat menyita waktuku.


\*\*\*


Aku tiba dirumah dan mulai membersihkan diri. Setelah selesai berkemas Aku langsung merebahkan diri diranjang big size itu. Aku merasa lelah dengan pekerjaan seharian ini. Akibat ulah situasi bangka itu kami harus mengulang kembali program Perusahaan untuk hasil yang maksimal.


Sebelum tidur Aku terlebih dahulu mengutak-atik ponselku melihat informasi terkini melalui media sosial yang tersedia di ponselku. Saat hendak tidur, Aku mendengar suara ketukan pintu. Aku beranjak dan membuka pintu. Bibi berkata ada tamu yang menungguku, Aku penasaran tamu apa sampai selarut ini pikirku.


Aku berjalan dan menemui tamu tersebut ternyata Cecil. Aku mengernyitkan dahi dan mulai menanyakan maksud tujuannya datang ke rumah. Tanpa menjawabku ia langsung berjalan dan Aku mengikuti dari belakang. Ternyata dia menuju ke kamarku, setelah kami berada dikamar ia mengunci kamar. Aku mulai tak terima dengan aksi gadis ini, Tiba-tiba saja ia mendaratkan ciumannya dibibirku. Aku menolak dengan mendorongnya jauh dariku, sepertinya ia bukan tipe yang gampang menyerah. Ia kembali mendekat, habis sudah kesabaranku. Aku mulai menariknya dan membawanya keluar dari kamarku.


Saat berada diluar kamarku Naina melihatku memegang tangan Cecil. Ia terus saja berjalan menunduk. Tiba-tiba saja Cecil memanggil Naina.


"Hei Naina gadis murahan! Gadis yang sudah dicicipi berpuluh-puluh kali oleh lelaki yang tak jelas statusnya! Nyampah aja lu disini!"


Pernyataan Cecil membuatku tercengang, apakah Cecil begitu mengenal Naina pikirku. Namun Naina tak menggubris omongan Cecil. Aku menarik Cecil keluar dari rumah dan mengantarkannya pulang kerumah Justin. Sebenarnya Aku masih penasaran dengan ucapan Cecil, Aku merasa Cecil titik terang mengenai Naina.


\*\*\*


Pagi sekali Aku terpaksa menelepon Cecil, untuk bertemu dengannya siang ini. Aku sudah lama penasaran dengan kehidupan Naina. Siapakah dia, pikirku.


Aku menikmati sarapan yang disediakan Naina untukku. Naina hanya diam tak bersuara, entah apa yang dia pikirkan saat ini mengenai Cecil. Setelah sarapan dengan langkah cepat, Aku menuju garasi dan berlalu dari rumah mewah itu.


Aku menemukan Sean sudah lebih dahulu berada diruanganku. Aku dan Sean melanjutkan pekerjaan sesuai dengan jabatan kami.


Siang itu Cecil sudah tiba dikantor, Aku dan Sean membawanya ke kantin langganan kami. Kami bertiga menikmati makan siang itu ditemani jus jeruk kesukaanku. Usai menikmati makan siang, kami berbincang perihal Naina. Cecil menjelaskan secara detail menurut pandangannya mengenai Naina. Aku hanya tercengang mendengar pernyataan Cecil. Aku sepertinya tidak menemukan kebohongan dimata Cecil. Sean hanya terdiam tak berkutik.


Mendengar pernyataan Cecil, Aku menjadi ragu dengan Naina, banyak hal buruk yang berkecamuk dipikiranku tentangnya. Sepertinya Aku sudah salah menilainya.


Usai pertemuan dengan Cecil, Aku dan Sean kembali kekantor. Dikantor Aku masih saja memikirkan ucapan Naina. Sean memperhatikanku dan mulai membuka suara.


"Jika kau ingin informasi lebih, Aku akan melakukannya." Kata Sean serius.


"Tidak perlu." Sergahku cepat, Sean hanya menganggukkan kepalanya.


"Sepertinya kau sudah jatuh cinta padanya? Sudah sejauh apa hubungan kalian? Apakah kau sudah mencicipinya?" Tanya Sean bertubi-tubi, membuatku semakin muak mengingat sudah berapa kali Aku menidurinya.


Aku tak habis pikir saat ini dengan perbuatanku yang sempat terlanjur padanya. Tapi entah kenapa tatapan matanya itu membuatku tak berdaya. Aku bingung dengan diriku sendiri, sudah sekian tahun sejak kejadian Arletta Aku tak pernah membuka hati pada wanita mana pun. Jika Aku bermain diranjang bersama wanita pilihanku, tak pernah Aku merasakan penasaran dengan wanita-wanita itu. Namun dengan Naina, sejak pertama kali bertemu ia mampu membuatku terkesima.