
3 bulan kemudian
...
rifqi bangun dengan lesu. setiap hari ia tak bisa fokus bekerja. pikirannya selalu tertuju pada istri dan anaknya yang sekarang entah dimana.
ia terus saja menelpon orang kepercayaannya. namun hasilnya nihil, ara belum ditemukan.
setiap hari ia selalu menghancurkan barang dirumahnya. ia menjadi seorang rifqi yang sangat arogan. bahkan lebih arogan dari sifatnya yang dulu.
kepergian anak dan istrinya membuatnya menjadi stres. apalagi dalam surat yang ditulis ara, ia mengatakan bahwa akan kembali dengan surat cerai.
ia sangat bingung dengan hatinya sendiri. di satu sisi, ia tak ingin berpisah dengan qian, anaknya. tapi dengan ara? ia sungguh bingung.
"apa ini yang di namakan rindu?"
"atau ini hanya sekedar rasa khawatir?"
" apa aku telah jatuh dalam pesonanya?"
"cinta? apa aku telah mencintainya?"
" mengapa sangat sulit untuk melupakannya sejenak saja?"
pertanyaan pertanyaan itu berputar pada kepala rifqi.
di sisi lain..
aldy yang telah menemukan keberadaan ara pun langsung menuju landasan terbang pribadinya. ia menuju pulau bali untuk menyusul ara menggunakan jet pribadinya.
ia sengaja tak memberi tahu rifqi tentang keberadaan ara.
beberapa jam kemudian, aldy telah sampai di sana. ia melajukan mobilnya menuju hotel tempat ara menginap.
ia sudah tau kamar tempat ara tinggal. ia mengetuk pintu itu.
tok tok
ara yang mendengar ketukan pun berjalan mendekati pintu. ia mengira sang pengetuk adalah pelayan hotel.
"kak aldy?!!" dugaan ara salah. ternyata yang datang adalah kakaknya.
aldy langsung memeluk ara erat.
"kenapa kau pergi ar? kenapa tidak cerita dulu masalahmu ke kakak?" tanya aldy sendu.
aldy pun masuk ke kamar ara. ia melihat baby qian sedang mengoceh ria sambil tengkurap di atas ranjang.
"apa dia rewel selama kalian disini?" tanya aldy menunjuk qian.
"alhamdulillah enggak kak."
aldy mendekati qian. ia meraih keponakan nya itu. ia menggendongnya.
"qian udah bisa tengkurap yha.. udah bisa ngomong juga" ucap aldy pada ponakannya itu.
"mo mo mo" celoteh qian.
" qian kangen nggak sama uncle?"
"nenenen" jawab qian.. aldy langsung menghujami qian dengan ciuman ciuman sayang nya.
aldy mulai berbicara serius dengan ara sambil tetap menggendong qian.
" coba cerita ke kakak kenapa kamu pergi dari rumah?"
"aku hanya tak ingin menjadi beban pikiran buat kakak" jawab ara jujur.
aldy memegang pundak ara
" hei, aku ini kakak mu. seharusnya kau menceritakan dulu masalahnya padaku. jangan langsung pergi seperti ini. kau membuat kita semua khawatir"
"maaf kak" sesal ara sambil menunduk.
"mari pulang, semua sudah menunggumu.. apa kau tau? bahkan kondisi rifqi terlihat sangat buruk sejak kau pergi. dia sering mengamuk di rumah bahkan tak fokus bekerja saat di kantor. bahkan dia menyewa banyak orang untuk mencarimu"
" benarkah? tapi kenapa dia tak menemukanku?"
" sebenarnya kakak telah tau keberadaanmu 1 hari setelah kau pergi. dan saat itu juga aku langsung menutup akses kepadamu agar rifqi tak bisa menemukanmu. aku juga menyewa orang untuk mengawasi gerak gerikmu setiap hari"
" benarkah? kenapa saat itu kakak tak langsung datang kepadaku?"
"jika saat itu aku langsung datang, aku tak akan bisa melihat reaksi rifqi setelah kepergianmu"
ara langsung memeluk aldy.
"aku sanyang kakakk"
"kita akan disini dulu.. aku ingin menikmati liburanku"