
Malam hari
Suasana hangat di meja makan tiba tiba terhenti saat Aldy menerima telepon dari asisten nya.
"Halo"
"Halo pak, selamat malam. Maaf mengganggu waktunya. Saham kita tiba tiba anjlok tanpa sebab pak, para investor menarik saham mereka" lapor sang asisten.
"Bagaimana bisa?! Tadi siang masih baik baik saja" ucap Aldy dengan emosi.
"Sepertinya ada yang menekan perusahaan kita pak"
"Cepat selesaikan masalah ini, besok aku akan datang ke perusahaan. Adakan meeting dadakan kepada kolega bisnis kita" titah Aldy.
"Baik pak"
Tutt
Panggilan diakhiri
"Ada apa Al?" Tanya papa Reza.
"Saham perusahaan tiba tiba anjlok pa, para investor mencabut saham nya, sepertinya ada yang menyabotase data perusahaan kita"
"Tenanglah Al, besok selesaikan dengan baik, papa percaya padamu" ucap papa Reza bijak.
Pagi hari
Aldy segera ke perusahaan. Ia langsung keruang meeting.
Ia membahas permasalahan ini dengan para rekan bisnis nya yang masih tersisa.
Dilla tau betapa besarnya permasalahan yang dihadapi suaminya karna ia juga kuliah dijurusan bisnis.
Dilla menelpon Rendy secara pribadi.
"Halo dil, ada apa? Tumben menelpon"
"Halo Ren, maaf mengganggu. Bolehkah aku meminta bantuanmu?"
"Jika aku bisa aku akan membantumu Dil"
"Kau sudah tau kan kabar yang beredar diluaran sana. Bisakah kau membantu suamiku dengan menanamkan saham disana?"
"Akan ku usahakan Dil"
Dan masih banyak obrolan lain nya.
Dilla bernapas lega, sudah ada Alex, Rendy dan Rifqi yang siap membantu suaminya.
Sore hari, Aldy pulang dengan keadaan wajah yang kusut. Hari ini adalah hari paling melelahkan baginya.
"Mas" panggil Dilla.
Aldy mendongak
"Apakah ada yang bisa aku bantu? " tanya Dilla.
"Fokuslah pada kehamilan mu dulu, aku yakin bisa mengatasi nya" ucap Aldy.
Dilla mengangguk
"Maaf, sehabis magrib aku harus kembali lagi ke perusahaan untuk menyelesaikan masalah ini"
Dilla mengangguk
"Aku mengerti mas"
Aldy langsung membersihkan tubuhnya. Ia mengganti pakaian nya dengan sebuah celana pendek dengan sebuah kemeja. Ia tetap berpakaian semi formal.
"Mas" panggil Dilla lagi saat Aldy akan melangkahkan kaki nya keluar kamar.
"Anak kita ingin di elus elus oleh ayah nya" ucap Dilla.
Aldy pun mendekat ke Dilla lalu mengelus elus perut buncit istrinya. Tak lupa ia mencium dahi istrinya sebelum ia benar benar pergi meninggalkan kamar.
Entah kenapa perasaan Aldy dari tadi merasa tak ingin meninggalkan kamar itu.
Setelah suaminya pergi, entah mengapa Dilla merasa batin nya gelisah. Perasaan nya tiba tiba saja tidak enak.
Dilla memutuskan untuk ke ruang keluarga tempat mama Mela dan Papa Reza sedang menonton tv bersama.
"Ma, kok dari mas Aldy pergi tadi perasaan Dilla nggak enak ya?" Curhat Dilla pada sang mertua.
"Semoga aja cuma perasaan kamu nak" jawab mama Mela yang sebenarnya perasaan nya sendiri juga tak enak tapi tak mau membuat menantunya khawatir.
Jam sudah menunjukan pukul 10 malam. Aldy masih juga belum kembali ke rumah.
Dilla, mama Mela dan papa Reza masih berada diruang keluarga.
Tingggggg (bunyi ponsel papa Reza)
Papa Reza pun mengangkat telpon dari nomor yang tak dikenal nya.
"Hallo"
"...."
"Apa?!! Dimana?!"
"..."
" Baik terimakasih"
Tutt
"Siapa pa yang telpon?" Tanya mama Mela.
"Polisi ma, Aldy kecelakaan"
"Apa??!!!" Teriak mama Mela dan Dilla bersama.
Dilla langsung limbung ke lantai saat mendengar suami nya kecelakaan.