Cinta Tuan Arogan

Cinta Tuan Arogan
Membuat ulah lagi.


Pagi hari cuaca cerah berhasil menerobos melalui celah jendela dengan sinarnya yang menyilaukan mata. Aku mengucek-ucek mataku dan mulai beranjak dari ranjang big sizeku.


Kakiku mulai menapaki anak tangga satu per satu. Aku melihat piring juga sudah terisi dengan makanan sarapan pagi, perlahan menikmati. Tak berapa lama, Aku berlalu dari sana.


***


Dikantor.


Usai kejadian hari yang lalu Aku dan Sean tetap bersahabat dan Aku tak terlalu memusingkan hal tersebut. Meski sebenarnya Aku sangat jengkel. Aku melihat Sean kembali berkutat dengan pekerjaannya.


Sean merupakan sosok pribadi yang memiliki jiwa yang lemah lembut diantara Aku dan Marco. Ia tumbuh dengan keluarga yang harmonis dan menjadi tulang punggung keluarganya. Sejak memulai pertemanan ia tak pernah mengeluh dengan keadaan dirinya. Sepertinya ia orang yang tahu bersyukur. Keluarganya merupakan keluarga yang taat dalam agama.


Semenjak Ayahnya meninggalkan mereka, Sean menjadi kepala keluarga dirumah, ia tak berani berbuat hal yang aneh-aneh karena mengingat keluarganya. Ibunya yang mulai sakit-sakitan membuatnya harus bekerja keras. Namun siapa sangka ia selama ini mencintai gadis yang bernama Cecil. Dari ekonomi mereka jauh berbeda. Meski mereka bersahabat dekat, namun Aku kurang setuju dengan pernyataan Sean.


"Se... Bagaimana dana dari situa bangka itu?" Kataku Seraya mata masih menatap laptop yang ada dihadapanku.


"Tampaknya Om memang sudah tak memiliki apa-apa lagi, jadi kemungkinan dia tidak akan mengembalikan dana perusahaan Bos." Jawab Sean dengan singkat.


Pantas saja situa bangka itu datang pada Mama ingin mengambil aset Mama. Aku bisa menebak aset itu akan digunakan untuk apa oleh manusia setengah abad itu.


***


Dirumah.


Sepulangnya Aku dari kantor Aku melihat rumah dalam keadaan sepi tak seperti biasanya. Jam segini pasti Mama sudah menonton diruang Tv. Aku mengedarkan pandanganku ke segala arah, namun hasilnya nihil.


Aku berlalu dari ruangan itu mencari Naina. Aku melihat Naina sedang menyiram bunga ditaman belakang. Dari kejauhan pun senyum ini terbit begitu saja untuk gadis yang sudah beberapa kali kutiduri itu.


"Naina... Mama kemana?" Tanyaku padanya ia sempat terlonjak kaget. Kemudian ia menatapku dengan tatapan tak suka. Meski dengan begitu matanya masih berbinar cantik di pandanganku.


"Bunuh saja saya Tuan...." ucapnya lirih dengan wajah tertunduk.


Mataku terbelalak mendengar perkataan gadis yang ada dihadapanku. Aku menelan salivaku sembari mengambil nafas panjang. Apa salahku hingga dia mengatakan itu, Aku hanya bertanya padanya tentang Mama pikirku.


"Kau kenapa? Tanyaku sembari meletakkan punggung tanganku di dahinya. Ia hanya memperhatikan saja tak berkutik.


Ia menghembuskan nafas kasar dan menoleh kearahku. Lagi-lagi mata indahnya berhasil membuatku geram.


"Bisa tidak Tuan mencoba, kalau baru datang kerumah itu ucapkan salam terlebih dahulu. Jangan tiba-tiba datang langsung bertanya dengan nada yang seperti itu. Jantung saya lemah Tuan." Desisnya pelan sembari menaruh peralatan siram menyiram kembali ditempatnya.


Aku hanya tersenyum kikuk mendengar perkataan Naina. Aku menggaruk tengkuk leherku yang tak gatal. Jika dipikir-pikir Aku memang sering begitu padanya.


"Maaf." Balasku padanya seraya menampilkan deret gigiku yang rapi padanya. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tadi Nyonya keluar dijemput sama Papa Tuan, tapi saya tidak tahu kemana Tuan."


"Sudah lama?" Tanyaku lagi dengan raut wajah yang menggeram.


"Sudah ada tiga jam yang lalu Tuan." Paparnya singkat.


Pikiranku mulai berkecamuk tak beraturan. Entah apa lagi rencana si Manusia lakhnat itu. Aku beranjak dari taman belakang menuju kamarku. Aku berganti pakaian dan kemudian menelepon Mama namun kontak itu tidak aktif. Aku semakin gusar.


Aku mengambil kunci mobil segera berlalu dan mencari Mama. Aku hanya ingat satu tempat biasa Papa membawa Mama. Mobilku melaju menuju tempat itu. Restoran, Restoran itu adalah langganan Mama dari dulu. Makanannya membuat Mama tak bisa berpaling dari tempat ini.


Ternyata dugaanku salah, setelah Aku bertanya pada pelayan tentang keberadaan mereka, mereka sama sekali tidak datang ke tempat ini. pelayan dan pemilik Restoran ini sangat dengat dengan keluargaku. Aku mulai tidak tenang, tiba-tiba saja ponselku bergetar, Aku melihat nama situa bangka tertera dilayar ponselku. Situa bangka itu mengatakan Mama disekap olehnya disuatu tempat.


Aku menggeram dan memaki-maki situa bangka itu melalui ponsel, Aku mengancamya agar ia tak berbuat macam-macam pada Mama. Segera kutelpon Sean dan Marco untuk melacak dimana keberadaan Markas itu. Situa bangka itu lupa bahwa untuk mendeteksi keberadaannya itu hal yang gampang untukku.


***


Di gubuk tua.


Kami bertiga mulai mengendap-endap memasuki gubuk tua itu, Aku mengintip dibalik celah dinding kayu gubuk itu. Aku melihat Mama disekap oleh laki-laki lakhnat itu. Aku mengedarkan pandangan dibalik celah itu, Aku melihat seorang wanita disana selain Mama.


Mataku terbelalak melihat wanita itu, setelah melihat situasi itu. Aku menyuruh Sean memanggil anak buah kami untuk membawa komplotan situa bangka itu. Jelas saja, tak ada ampunan untuknya.


Tak berapa lama menunggu anak buahku datang dan Sean mulai mengerahkan mereka untuk menangkap situa bangka dan wanita sialan itu dan membawa ke Markas. Beberapa anak buahku mengepung tempat itu dan beberapa diantara mereka masuk menerobos pintu reok itu.


Mereka berdua terlonjak kaget melihat kedatanganku. Aku bertepuk tangan sembari tertawa kencang, sedangkan mereka berdua sudah diamankan oleh anak buahku. Sean dan Marco membuka ikatan Mama dan memapahnya langsung keluar dari tempat itu.


Tanpa aba-aba tanganku melakukan pukulan sekeras-kerasnya pada situa bangka itu, sampai ia tergeletak lemah tak berdaya dilantai tanah. Setelah puas bermain dengan situa bangka, Aku beralih ke wanita yang bekerja sama dengannya. Aku mulai menarik rambut panjang lurus itu sekeras-kerasnya sampai yang empunya mengerang kesakitan. Aku mencengkram dagunya dan meludahi wajahnya.


"Berani sekali kau bermain denganku!!! Apa kau ingin Aku berbuat lebih Nona!!! Jeritku geram.


"Sudah cukup kau bermain denganku wanita bedebah!!!"


"Bawa dia ke Markas dan habisi nyawanya!!!" Hardikku geram.


Wanita itu sudah mulai tak berdaya, kalau bukan wanita Aku sendiri yang akan mengakhiri nyawanya.


***


Di mobil.


Marco mengemudikan mobilku sedangkan Aku duduk disebelahnya. Aku memijit keningku dengan pelan.


"Aku tak menyangka wanita sialan itu bekerja sama dengan situa itu." Kata Marco geram.


Wanita yang bekerja sama dengan situa bangka adalah Arletta mantan kekasihku dulu. Entah apa yang ia inginkan sampai ia bersekongkol dengan situa itu. Harta? Mungkin saja.


"Aku sudah menyuruh anak buah untuk menghabisinya, bersama dengan situa itu."


Marco manggut-manggut, mengerti dengan yang kumaksud.


"Mama dengan siapa?" Tanyaku sembari menoleh pada Marco.


Marco menjelaskan bahwa Sean telah membawa Mama pulang terlebih dahulu. Untunglah, pikirku. Aku jadi bisa bebas bermain dengan situa dan wanita sialan itu. Aku memerintahkan Marco untuk ke Markas.


***


Di Markas.


Aku mendapati situa dan wanita sialan itu sudah diikat dengan mata yang ditutup memakai kain.


"Mari bermain tua bangka," Kataku sembari mencengkram dagunya kuat. Ia tak memiliki tenaga lagi walau hanya untuk memalingkan wajahnya dari cengkramanku.


"Buat dia patah tulang! Jangan buat dia mati! Aku tak mau jadi anak durhaka! Pintaku pada anak buahku.


Aku beralih ke wanita mantan kekasihku. Aku menepuk-nepuk pipinya pelan. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Dari balik kain pembungkus matanya, Aku melihat air matanya menetes. Namun, kali ini tak akan kumaafkan.


"Wanita ini cantik bukan, bodynya aduhai." kataku sembari tertawa kencang.


"Kalian boleh menidurinya sesuka hati kalian! Bawa dia ke kamar kosong kalian!"


Tak butuh waktu lama beberapa anak buahku membawa wanita sialan ini kekamar dan mulai melakukan aksi mereka bergiliran. Sedangkan situa bangka itu sudah pingsan akibat pukulan bertubi-tubi.


Aku dan Marco masih menunggu mereka menggilir si wanita sialan itu. Aku dan Marco tertawa mendengar desahan-desahan dari anak buahku.


Setelah beberapa jam satu persatu anak buahku keluar dari kamar.


"Barang bagus Tuan." Kata salah seorang anak buahku.


"Hahahahahha..." Tawaku menggema di Markas itu.


"Pakai dia untuk pemuas nafsu kalian selama seminggu ini. Jangan kasih kendor Bro, kapan lagi coba. Seminggu lagi aku datang." Kataku sembari beranjak dari sana.


***


Dirumah.


Aku menemui Mama dikamarnya, Aku melihat Naina sedang memberikan obat. Aku menghampiri mereka. Naina terlihat cekatan dalam mengurus Mama. Mama menurut dengan aksi Naina.


"Ma... Sudah membaikkah?" Tanyaku dengan hati-hati.


Dengan cepat Mama memelukku dan menangis sejadi-jadinya. Tangisan itu membuatku pilu. Perlahan Aku melonggarkan pelukan itu dan mengusap air mata diwajah Mama dan mencium keningnya.


"Mama gak nyangka, Papamu tega melakukan ini ke Mama. Dan bukankah si Arletta itu mantan kekasihmu? Kenapa mereka bisa bersama melakukan perbuatan ini?" Imbuhnya lagi dan masih sesenggukan.


Naina masih berdiri dan hanya memperhatikan Aku dan Mama.


Aku hanya tersenyum tenang dengan pertanyaan Mama yang tanpa jeda. Aku tau Mama terpukul dengan kejadian ini, Aku memutuskan mencari hari lain untuk memperbincangkan hal ini lagi pada Mama.


Aku membaringkan Mama dan memasang selimut untuknya, kemudian Aku dan Naina beranjak dari sana.