Cinta Tuan Arogan

Cinta Tuan Arogan
bolehkah aku ikut? (DillAldy)


"Dad, apa dady akan kembali ke indonesia dalam waktu dekat?" Tanya Zayn.


"Entahlah dady tidak tahu, kalau momy mau ke indonesia bersama dady, maka dady akan disini dulu mengurus semua berkas kepindahan kalian. Tapi jika momy tidak mau, dady akan segera pulang"


Seketika wajah Zayn berubah muram


"Apa dady sudah tak merindukanku?"


"Dady sangat merindukanmu Zayn, 5 tahun sudah dady mencari kalian" jawab Aldy sambil memeluk tubuh anak nya.


"Apa aku boleh ikut dady ke indonesia kalau momy tidak mau ikut?"


Aldy menggeleng


"Tidak boleh Zayn, kau harus tetap bersama momy. Sebagai anak laki laki satu satunya kau harus bisa menjaga momy tanpa ada dady"


Zayn mengangguk mengerti. Zayn pun segera memejamkan mata nya.


Aldy mengusap kepala anak nya.


Hari ini adalah hari yang patut ia syukuri, 5 tahun menanti akhirnya ia bertemu dengan anak nya.


Aldy mengamati wajah anaknya. Memang sama persis seperti wajahnya saat ia kecil.


"Memang dia seperti duplikatku" batin Aldy.


Pagi hari, Zayn sengaja bangun pagi. Ia membangunkan sang dady.


"Dad" Zayn berbisik.


Entah kenapa bocah kecil itu malah berbisik. Kenapa ia tak memanggil nama dadynya dengan teriak.


Sungguh sangat baik Dilla menanamkan sopan santun pada anaknya itu.


Aldy mengerjapkan matanya bangun saat mendengar bisikan dari sang anak.


Aldy malah beralih memeluk Zayn dan membenamkannya dalam pelukan nya.


Zayn berusaha memberontak


"Dad, lepasin, dadddd. Zayn nggak bisa nafas" rengek Zayn.


Aldy pun terkekeh dan melepaskan pelukan pada anak nya itu.


"Dad, Zayn ingin jalan jalan pagi"


Aldy mengangguk


"Dady mandi dulu"


Zayn mengangguk, Aldy langsung menuju kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.


Bocah sekecil Zayn tau bahwa sang dady belum membawa baju ganti. Zayn berjalan menuju kamar sang uncle.


(Paman bolehkah aku masuk?)


"Yes, come in"


(Ya, masuklah)


"Uncle, bolehkah aku meminjam baju for my dad?"


Bryan mengangguk lalu mengambilkan baju untuk Aldy.


Yang jelas Bryan memberikan baju dan celana yang masih baru bahkan masih ada labelnya.


"Thank you uncle"


Bryan mengangguk.


Zayn pun menyerahkan baju itu pada Aldy.


Aldy kaget menerima baju itu karna ia tak menyuruh anak nya untuk membawakan baju.


"Thanks Zayn"


Zayn mengangguk


Aldy tau baju itu masih baru.


Aldy pun menemani anaknya untuk jalan jalan pagi.


Setelah selesai, mereka sarapan bersama.


"Ehemm" Bryan berdehem di meja makan itu.


Semua melihat pada arah Bryan.


"Ehem, baju itu masih baru dan kau pasti tau bahwa baju itu dari brand ternama" sindir Bryan.


Para penghuni meja makan masing masing menahan tawa nya.


Aldy tau bahwa Bryan seperti ini karna ia hanya ingin membuat suasana meja makan menjadi tidak canggung lagi.


Kehilangan Uang 10 juta tidak akan membuat Bryan miskin.


Dilla juga memahami kakaknya hanya berusaha memotong kecanggungan diantara mereka dengan cara mengajak Aldy berdebat.


"Tenanglah, aku akan membayarnya 2 kali lipat" jawab Aldy santai.


"Cih, seorang Aldy Argadinata hanya berani membayar 2x lipat" cibir Bryan.


"Aku tau kau hanya memancingku. Kau pintar sekali dalam memeras uang orang tuan Bryan hendrawan" cibir Aldy balik.


"Ya sudah, lihat saja, jika kau menikahi Dilla kembali aku tak akan merestui mu" ancam Bryan pada Aldy.