
Awalnya Aku menduga bahwa kerjasama ini akan batal. Meski itu yang terjadi, Aku tak terlalu memusingkan hal itu.
Setelah tiba dirumah, Aku langsung mencari Naina. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling ruangan, tak juga kujumpai Naina. Aku menaiki anak tangga dan menuju ke kamarnya. Wanita itu tengah asik menyisir rambutnya di meja riasnya. Ia menyadari keberadaanku dan tersenyum menyambutku.
Aku perlahan mendekatinya dan berdiri tepat dibelakangnya. Aku tersenyum hangat dan sesekali mengelus rambutnya. Tak lama kemudian ia berdiri dan duduk di tepi ranjangnya.
"Apa ada sesuatu yang penting Tuan?" Tanyanya seraya menoleh padaku.
"Apa kau mengenal Erka?"
Sama dengan Erka saat pertama kali melihat nama Naina. Mimik wajah Naina berubah seketika. Wajah itu tiba-tiba berubah pucat dan takut. Melihat perubahan wajahnya Aku langsung memeluk Naina. Dipelukanku Naina terisak. Aku mengelus rambutnya sembari menenangkannya.
Tak ingin memaksa Naina menceritakan kisahnya dengan Erka. Aku tiba-tiba teringat pesan Dokter agar tak mengingatkan Naina dengan masa lalunya, agar mentalnya tidak terganggu. Tangisan pilu itu perlahan mereda, Aku mulai beranjak. Saat hendak menuju pintu kamar, Naina tiba-tiba memerintahkanku agar duduk kembali. Ia menceritakan tentang Erka padaku. Aku mendengar setiap cerita Naina.
Ibu hamil itu menceritakan perkenalannya dengan Erka. Sesuai dengan dugaanku, ia hanya diperalat. Namun kali ini berbeda, ia diperalat oleh Cecil adik perempuan Justin. Mendengar nama Cecil disebut Aku semakin geram dengan ulah perempuan centil itu.
Erka sangat mencintai Cecil, namun berbeda dengan Cecil. Ia sama sekali tidak menyukai Erka. Cecil memanfaatkan Naina, agar Naina terus menggoda Erka. Bukan hanya menjadi pihak ketiga dalam hubungan Erka, suatu hari Cecil menaruh obat perangsang pada minuman Erka. Saat Erka sudah mulai tak bisa menguasai diri, Cecil dan Justin memaksa Naina untuk memuaskan hasrat Erka yang dibuat-buat itu. Hingga pagi hari, Cecil datang seolah-olah Erka dan Naina tertangkap basah diatas ranjang itu.
Saat melihat itu Cecil berpura-pura seperti kecewa. Ia menangis dan mengatakan agar Erka tak lagi mengganggunya. Naina juga mengatakan bahwa Erka sudah berkorban banyak untuk perusahaan keluarga Justin.
Erka terlihat tak berkutik saat ia satu ranjang bersama Naina. Seketika wajah itu berubah menjadi dingin, ia melakukan kekerasan pada Naina. Naina hanya pasrah dengang kejadian yang dialaminya.
Mendengar penjelasan Naina, Aku tak banyak berbicara. Meski demikian tetap saja Aku kembali merasakan keraguan. Entah sudah berapa lelaki yang tidur dengan Naina sebelum bertemu denganku. Aku memberanikan diri menanyakan hal yang sudah lama ingin kukatakan pada Naina.
"Sudah berapa orang pria yang tidur denganmu Naina?" Tanyaku menyelidik.
Naina menoleh padaku. Tatapan mata itu sudah menjelaskan berapa beratnya pertanyaan yang kutanyakan padanya. Melihatnya yang enggan bercerita, Aku memilih berlalu dari kamar Naina.
***
Pagi itu matahari berhasil menunjukkan pesonanya dengan sempurna. Cuaca itu tidak panas dan tidak pula mendung. Tak ingin menghilangkan kesempatan, Aku memutuskan untuk berlari pagi disekitar Perumahanku. Aku berencana tidak bekerja hari ini.
Aku berjalan santai memandang sekelilingku hingga langkahku terhenti di sebuah taman. Taman itu tampak asri. Aku duduk untuk menghilangkan lelah.
Sampai saat ini Aku selalu saja terpikir tentang derita Naina yang diciptakan oleh Justin. Aku tak habis pikir kejutan apalagi yang kudapat setelah ini.
Pernikahan sudah didepan mata. Tak ingin merubah suasana hati, Aku tetap pada pendirianku menikahi Naina, meski Aku tidak tahu apalagi yang terjadi kedepan hari.
Aku berharap, semua akan baik baik saja. Aku ingin memulai hidup yang baru bersama Naina. Aku belajar menerima semua kekurangannya. Aku pun menyadari banyak kesalahan di masa lalu, mungkin ini sudah pantas kudapatkan.
Setelah lama melamun di pinggir taman itu, Aku bergegas pulang. Dengan langkah santai Aku pun tiba dirumah. Aku melihat Naina yang tengah bercerita dengan Mama. Tak ingin mengganggu, Aku melewati mereka dan segera membersihkan diri.
***
Aku menuruni anak tangga sembari menatap kearah dimana kedua wanita itu berada. Aku menghampiri mereka dan duduk sederetan dengan Naina.
"Kalian bahas apa sih?" Tanyaku sembari memasang jam di pergelangan tanganku.
"Biasa...." Tampik mama cepat.
"Kamu mau ke mana? Ingat loh kamu i.... "
"Akan menikah dan punya anak kan?"
Mama mendengus kesal, mendengar jawabanku. Aku hanya tertawa geli melihat perubahan mimik wajah itu.
"Naina bersiaplah, Aku ingin membawamu juga."
"A-ku?" Tanyanya heran dan menunjuk dirinya sendiri.
Aku hanya mengangguk tanda mengiyakan pertanyaan Naina. Ia pun langsung menuju kamarnya. Tak berapa lama ia pun keluar dari kamarnya. Aku dan Naina pamit pada Mama.
***
Naina duduk manis disamping kemudi. Meski tidak bersuara, tapi wanita itu tampak bahagia saat Aku membawanya keluar rumah.
"Kau ingin kita kemana Naina?"
"Mmm... Aku tidak tahu Tuan. Bukannya Tuan sudah memiliki rencana?"
Tanpa menjawab pertanyaan Naina, Aku membawa Naina ke danau wisata yang dikelola oleh perusahaanku. Sesampainya disana, Aku dan Naina perlahan menyusuri tempat itu dan mencari tempat yang aman untuk di duduki.
"Tuan... Jika kau malu dengan identitasku kau boleh meninggalkanku."
"Kenapa kau berkata seperti itu?" Jawabku pada Naina.
Seperti biasa Naina hanya diam. Bisa saja dia sudah lelah untuk menjelaskan padaku tentang masa kelam itu. Jujur saja, ada kebanggaan tersendiri bisa mengenal Naina. Wanita ini adalah sosok yang tegar saat aku menjumpainya pertama kali. Tutur kata yang lembut selalu terlontar dari bibirnya yang merah. Tidak pernah sekalipun Aku melihatnya mengeluh dengan keadaan apa pun.
"Naina... Satu hal yang harus kau tau, Aku akan menjagamu. Kita berjuang bersama Naina." ucapku sembari memegang tangannya dan menghadap padanya.
Melihatnya yang sudah dibanjiri air mata, Aku memeluknya dan menenangkannya.
Naina bukan pribadi yang gampang terbuka dengan siapapun, termasuk denganku. Dia akan menjawab jika pertanyaan itu tak menyesakkan hatinya, sebaliknya jika pertanyaan itu sulit.
Aku mengerti dengan keadaanya seperti itu. Pengaruh tertekan batin itu sangat terasa pada Naina. Ia tidak berani mengutarakan pendapat atau pun bercerita lebih dulu. Hanya mendengar suara yang keras pun jantungnya sudah tidak tahan. Airmatanya akan meluncur jika ia sudah tak bisa berbuat apa-apa.
Aku akan membawa Naina pada duniaku, agar ia tak lagi seperti orang yang tertekan. Hatiku sakit jika melihat Naina tertunduk dan menangis dihadapanku. Sudah banyak laporan mengenai ibu hamil ini padaku, selama Aku mengenalnya.
Gadis berparas cantik dan bersahaja itu mampu membawaku untuk bisa menerima kekurangan orang lain tanpa merendahkan siapapun.
Ada yang penasaran gak sih, sama visual Naina?
Visual Nainaa
**HAIII SEMUA....
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENTAR YA.
TERIMA KASIH BAGI YANG SUDAH BERKENAN SINGGAH DIKARYAKU**.