Cinta Tuan Arogan

Cinta Tuan Arogan
Timbul Curiga 1


Tak terasa hari pernikahanku dan Naina tinggal menghitung hari. Semua persiapan sudah rampung hampir selesai. Keluargaku tampak sangat antusias menyambut anggota baru penghuni rumah ini. Sesuai dengan permintaan Naina, kami hanya mengundang beberapa keluarga terdekat saja. Termasuk dua bandit yang selalu menguntitku kemana aku pergi, siapa lagi kalau bukan Sean dan Marco. Sibuk dengan segala persiapan membuatku jarang ke kantor.


Pagi ini Aku melihat Naina dan Mama sedang berbincang di ruang keluarga. Melihat kedekatan mereka berdua Aku merasa bahagia. Aku menyusul mereka dan duduk berhadapan dengan mereka.


"Kamu gak ngantor?" Tanya Mama sembari meneguk teh hangat miliiknya.


"Gak Ma... " Jawabku santai.


"Andre... Mama mau bicara berdua dengan kamu." Titah Mama sembari berlalu dari ruangan itu menuju kamarnya, kemudian Aku menyusul Mama ke kamarnya.


Setelah bicara panjang lebar dengan Mama dikamarnya, Aku mencari Naina dan membawanya ke kamarku untuk meminta penjelasan lebih real darinya seperti yang Mama katakan padaku. Mama mengatakan Naina ingin kedua orangtuanya hadir di acara pernikahan sederhana miliknya. Alasannya ia sudah lama tak bertemu dengan orangtuanya.


Permintaan Naina bukanlah hal yang sulit untuk kupenuhi. Namun... Aku tak terlalu suka dengan Justin, dengan berat hati Aku harus berdiskusi dengannya untuk membawa orangtua mereka di acara pernikahanku dan Naina.


***


Siang itu Aku memutuskan bertemu dengan Justin dirumahnya. Justin tampak terkejut dengan kehadiranku. Lelaki yang akan menjadi iparku itu menyambutku dengan baik.


Tak ingin berlama-lama berhadapan dengan calon iparku, Aku langsung memulai topik pembicaraan. Justin menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Sesuai dengan permintaan Naina akhirnya Justin mau membujuk orangtuanya untuk pulang ke Indonesia dan hadir di pesta pernikahan kami. Kali ini Justin tidak banyak permintaan seperti biasanya jika Aku membutuhkan sesuatu untuk kepentingan Naina. Melihatnya yang hening tanpa permintaan membuatku sedikit curiga.


Usai membahas hal itu Aku pamit undur diri dari kediaman Justin. Di perjalanan pulang Aku masih saja terpikir dengan aksi Justin tadi. Aku yakin dia memiliki rencana jahat kali ini. Aku berusaha tenang dan tak ingin terpengaruh dengan dugaanku sendiri.


Aku memutuskan untuk berkunjung ke kantor Marco. Tak berapa lama Aku tiba di gedung bertingkat itu dan segera naik menyusul Marco di ruangannya.


Aku melihat Marco yang tengah berkutat dengan berkas berkas di mejanya. Marco menyadari kehadiranku dan mempersilakan ku duduk di sofa yang berhadapan dengan meja kerjanya.


Perusahan Marco menjalin kerja sama dengan perusahaan milik keluarga Justin Pradipta. Perusahaan Marco adalah investor nomor satu di perusahaan milik pradipta itu. Aku menjelaskan maksud dan tujuanku untuk menemuinya. Marco setuju dengan ancang ancang yang kubuat untuk mencegah perbuatan keluarga Pradipta di hari pernikahanku nanti.


Usai membahas masalah itu, Aku berlalu dari kantor Marco dan pulang ke rumah. Tak berapa lama aku sampai di rumah. Aku mencari keberadaan Naina. Aku mendapati Naina di kamarnya sedang tidur pulas tidak seperti biasanya, entah karena lelah atau bawaan bayi. Aku pun mendekatinya dan mencium keningnya.


***


Malam ini Aku buru-buru menyusul Sean dan Marco di club yang biasa kami singgahi sebagai pelepas lelah. Tak berapa lama Akhirnya Aku sampai di club. Sean dan Marco sudah lebih dulu berada di club. Mereka sumringah melihat kedatanganku.


"Lama benget lu...." Kata Sean sembari menuang minuman beralkohol itu ke gelas yang ada dihadapanku.


"Dia ngelonin Naina dulu, gantiin popok sama bikin susu. Lu mah gak ngerti aja." Sindir Marco sembari tertawa dan melirikku.


"Si Naina yang minum susu atau si Andre?" celoteh Sean sembari mengkerlingkan matanya padaku.


"Emang lu kira Naina bayi, Suketi!" Tampikku sembari duduk disebelah Marco.


"Suketi... Suketi... Nama gue Marco hoiii!"


Tak berapa lama berbincang, tiga orang wanita masuk keruangan kami untuk menemani kami. Namun... Saat melihat wajah salah satu dari wanita itu aku terdiam sejenak. Pandangan kami saling bertemu.


Wanita bertubuh tinggi, putih dan berambut panjang sepinggang itu tak asing bagiku. Ia pun duduk di sampingku. Sean dan Marco bergantian melirik ke arahku dan wanita itu. Mereka berdua juga sangat mengenali wanita yang berada di sampingku saat ini.


"Apa aku perlu menuang minuman ini untukmu?" Tanya wanita itu dengan suara lembut.


Aku hanya mengangguk tanpa bersuara. Wanita itu tampak sungkan saat bertanya. Ia mulai menuang dan memberikannya padaku sembari menunduk.


Dia adalah Briana, cinta pertamaku atau cinta monyet pada jamannya. Aku memacarinya waktu sekolah menengah pertama kelas tiga. Hubungan yang kami jalani saat itu tak terlalu serius.


Brianna merupakan siswi berprestasi disekolah. Ia juga merupakan putri seorang pengusaha pada saat zaman sekolah dulu. Melihatnya berada di ruangan ini hatiku mulai bertanya, apa yang terjadi dengan hidupnya sehingga ia bekerja di club ini. Semenjak SMA kami tidak pernah lagi bertemu.


Sean dan Marco sibuk bercengkrama dengan wanita yang ada di samping mereka. Seperti biasa Marco meluncurkan gombalan gombalan yang membuat wanita itu mabuk kepayang. Marco membooking wanita itu dan mengajaknya keluar dari ruangan ini. Disusul dengan Sean bersama wanitanya.


"*Sialan... Gue ditinggal sendiri. Dasar buaya rawa*. " Umpatku dalam hati.


Aku pun mulai berpamitan pada Brianna, saat hendak melangkah Briana memelukku dari belakang.


"Andre... Jangan tinggalkan aku sendiri disini. Bawa aku bersamamu."ucapnya lirih.


Mendengar ucapannya Aku perlahan melepaskan pelukannya dari tubuhku dan duduk kembali. Aku mulai bertanya kenapa dia bekerja disini. Ia pun mulai menceritakan seraya menangis. Pemandangan wanita yang menangis bukanlah pemandangan pertama buatku. Namun... demi menghargai perasaanya Aku akan menjadi pendengar yang baik untuknya.


Ia menceritakan bahwa beberapa tahun yang lalu perusahaan Ayahnya bangkrut total. Karena stres dengan utang yang melilit Papanya bunuh diri. Sedangkan Mamanya sedang sakit parah dirawat disalah satu rumah sakit. Ia juga harus membiayai sekolah adiknya yang bungsu.


Hatiku iba mendengar kabar buruk dari wanita yang pertama kali membuatku jatuh cinta. Aku menawarkan bantuan dana berupa cek padanya. Namun ia menolak. Entah apa yang ada dipikirannya saat ini.


"Bukankah kau membutuhkan uang untuk membiayai mama mu yang sedang sakit?" Tanyaku heran.


"Aku tak mau berutang budi Ndre...."


"Aku ikhlas... Jika kau mau, kau bisa datang ke kantorku besok. Ini kartu namaku." Kataku sembari meletakkan kartu nama di meja.


Briana menatap kartu yang kuletakkan dimeja itu dan mengambilnya. Setelah berbincang lama mengenai keadaan yang menimpa keluarga Brianna. Aku pamit pulang padanya.


Diperjalanan pulang ke rumah Aku masih saja terpikir dengan kemunculan Brianna di club malamvitu. Tidak biasanya si pemilik club tak memberi tahu jika ada anggota baru, apalagi wanita untuk menemani kami diruangan VIP itu. Berhubung Aku dan si empunya club saling mengenal satu sama lain.


"Aku akan mencari tahu tentang kebenaran ini. Apakah ini kebetulan ataukah jebakan?" Ucapku dalam hati.


JANGAN LUPA KASIH LIKE DAN KOMENTAR YA😍