
Pernikahan.
Hari hari berlalu, tak terasa hari ini adalah hari dimana Aku melepas masa lajangku dan memulai hidup yang baru bersama Naina. Ucapan janji sehidup semati itu pun sudah menggema di ruangan yang sudah dipadati tamu undangan dan wali.
Penampilan Naina hari ini sangat menyita perhatian khalayak ramai. Bagaimana tidak, wanita itu sangat anggun dengan tampilan gaun berwarna putih tulang ditambah dengan riasan natural yang menempel di wajahnya.
Pandanganku pun ikut terhipnotis dengan kecantikan wanita yang sudah sah menjadi istriku. Istriku tampak canggung dengan keadaan disekelilingnya.
Aku dan Naina berjalan menghampiri para tamu undangan. Diantara para tamu undangan itu ada yang senang dan ada pula yang berbisik-bisik. Aku menggenggam tangan Naina erat sembari tetap tersenyum. Aku tahu Naina sudah mendengar rumor tentang dirinya diperbincangkan di gedung bintang lima ini.
Setelah menghampiri beberapa rekan penting, Aku dan Naina kembali duduk di tempat yang telah disediakan untuk kami. Naina masih terlihat tegang dan gugup, seolah-olah ia kehilangan rasa percaya dirinya. Aku berusaha meyakinkan Naina bahwa semua baik baik saja. Ia hanya mengangguk sembari memandangku.
"Tersenyumlah Naina, sudah saatnya kau bahagia," Kataku kemudian mencium keningnya.
Istriku tersenyum pasrah, meski begitu ia masih saja terlihat sangat mempesona dimataku.
***
Para tamu undangan sudah mulai sepi hanya tersisa keluarga dekat saja yang tinggal di dalam gedung ini. Baru saja Aku ingin mencari keberadaan kedua kurcaci itu, tiba-tiba saja mereka sudah muncul dihadapanku dan memberi ucapan selamat.
Mereka berdua tampak senang dengan adanya pernikahan ini. Aku memeluk mereka bergantian, kemudian mereka juga memberi ucapan selamat pada Naina.
"Kau sangat cantik Naina, aku hampir saja lupa bahwa kau istri Andre." Kata Sean sembari menoleh padaku.
Aku menatapnya dengan tatapan tajam. Sean dan Marco terkekeh melihat responku. Entah kenapa, Aku mulai cemburu ketika ada yang mengatakan Naina cantik selain Aku meskipun itu ucapan dari Sean dan Marco.
Marco mengeluarkan kotak kecil dari saku jasnya dan memberikan kado kecil itu padaku. Aku mengamati kotak itu dan kembali menatap Marco.
"Apa ini?"
"Hadiah dari gue, cemong." Sergah Marco cepat.
Aku memberikannya pada Naina, kemudian Sean menyusul dengan kotak kecil miliknya.
"Hadiah kalian kecil amat," Ujarku jengah.
Marco dan Sean hanya tersenyum mendengar perkataanku. Entah apa yang bersembunyi dibalik kotak kecil dari kedua kurcaci itu.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 wib. Aku memutuskan untuk ke bandara dan menaiki pesawat pribadi milik keluargaku. Perjalanan ini sudah kuatur satu hari sebelum pernikahan. Aku memutuskan untuk membawa Naina ke Bali. Bali merupakan tempat pertama kali yang ingin dikunjungi Naina sejak dulu.
Aku menuntun Naina masuk ke dalam pesawat dan duduk disampingnya. Wanita yang sudah sah menjadi istiriku itu hanya diam tak berkutik.
"Kita mau kemana Tuan?"
"Jangan panggil Aku Tuan, Naina."
Aku dan Naina saling bertatap muka dan kembali Aku mencium keningnya.
"Apa aku harus memanggilmu dengan sebutan cemong, Tuan?"
"Kenapa kau harus mengatakanku Cemong Naina!" Kataku jengah pada Naina.
Dalam hatiku ingin rasanya mencampakkannya sekarang juga. Namun Aku berpikir keras bisa saja dia tidak tahu apa yang dia ucapkan.
"Jangan katakan itu lagi padaku, Naina."
Naina mengangguk mengerti dengan titahku. Tak berapa lama kami sampai di bandara Ngurah Rai Bali. Aku membawa Naina turun dan bergegas menuju hotel nomor satu di Bali itu.
Penginapan itu sangat menarik menurutku. Rancangannya yang dikelilingi oleh pedesaan kecil, pura, dan sawah hijau di Lembah Keliki.
Di sana terdapat sebuah jembatan gantung yang membawa tamu ke kamar suite. Interior yang ditawarkan memiliki aura penjelajah, namun tetap mewah dengan kayu jati dan barang-barang antiknya.
Selama menginap di sana, tamu akan benar-benar merasa seperti sedang berada di tengah hutan dan dikelilingi oleh pepohonan rimbun dari berbagai sisi. Ada juga Sungai Wos yang mengalir di bawah. Aku yakin Naina juga sangat menyukai itu.
Setelah sampai di kamar Aku mulai membersihkan diri. Tak berapa lama Aku sudah selesai dengan aktifitasku. Aku melihat Naina tampak kesulitan membuka gaunnya. Perlahan Aku menghampiri istriku. Entah kenapa kali ini degup jantungku seolah tak bisa bekerja sama dengan diriku. Tubuh polos itu perlahan terlihat dengan jelas, padahal ini bukanlah yang pertama kali Aku melihatnya.
Tangan Naina menyilang melindungi sepasang benda kenyal miliknya. Bukan hanya Aku saja, Naina pun tampak kaku dengan ritual pelepasan gaun itu.
"Kau tidak usah menutupnya lagi Naina." Kataku sembari menelan salivaku.
Perlahan istriku menurunkan tangannya. Wanita itu berdiri dihadapanku tanpa sehelai benang. Kulit putih mulus itu terlihat sangat bening dipandanganku.
Aku menyusuri jemariku perlahan di lengan Naina. Baru saja tanganku ingin mendarat di benda kenyal itu, tiba-tiba ponselku berdering. Naina duduk dengan tubuh polos itu ditepi ranjang.
Aku melihat nama Sean tertera disana. Aku menekan icon hijau dan berbincang dengannya. Dia hanya mengingatkan agar Aku membuka kotak kecil dari mereka berdua.
Setelah mengakhiri panggilan tersebut Aku memulai aksiku. Aku membaringkan Naina di ranjang. Ciumanku bermain disekitar wajah dan lehernya sedangkan tanganku mulai meraba benda kenyal itu. Desahan lembut mulai menggema ditelingaku, membuat hasratku semakin memburu.
Tak ingin berlama-lama Aku mulai memasukkan benda keras milikku pada benda elastis milik Naina. Pertempuran itu berjalan dengan teratur. Aku menahan setiap hentakan didalam pertempuran keringat itu, mengingat Naina yang sedang hamil muda. Tak berapa lama Aku merasakan cairan milikku memasuki rahim Naina.
Pertempuran keringat itu pun berakhir dengan indah. Tidak lagi seperti saat-saat dulu seperti maling yang tertangkap basah dihadapan satu penduduk.
***
Mentari pagi berhasil menembus dinding kaca kamar penginapan kami. Aku melihat Naina yang masih memelukku, membuatku enggan untuk bangkit. Aku tersenyum melihat tangan Naina untuk pertama kali melingkar di pinggangku. Tak berapa lama menunggu Naina sudah terbangun. Senyuman hangat dari Naina membuatku bahagia.
Aku menggendong Naina dan membawanya ke kamar mandi dan menurunkan Naina di bath-up. Aku menyusul masuk dan berada tepat dibelakang Naina. Tanpa aba-aba sesuatu dibawah sana mulai mengeras. Naina menyadari hal itu namun ia tak berkomentar sama sekali. Lagi-lagi bath-up itu menjadi pertumpahan keringat. Setelah usai ritual benda keras dan benda elastis itu, Aku dan Naina mandi seperti biasa.
Setelah selesai membersihka diri, Aku teringat dengan kotak kecil dari Sean dan Marco. Dengan cepat Aku membuka kotak itu. Setelah membukanya, bak terhipnotis Aku terdiam dengan keadaan mulut setengah terbuka. Aku mmenggeleng-gelengkan kepala melihat hadiah itu. Kotak kecil itu berisi obat kuat untuk pria dewasa.
Masih diselimuti rasa penasaran, Aku membuka satu kotak yang lebih besar dibandingkan yang pertama. Lagi Aku tercengang dengan hadiah itu. Hadiah itu tetap saja berhubungan dengan hadiah yang pertama. Namun kali ini meruapakan sebuah alat.
Dildo alat yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan seksual manusia baik pria maupun wanita. Kebutuhan untuk dewasa ini muncul pada manusia, ketika mereka mulai dewasa seiring dengan perkembangan organ reproduksi mereka.
Aku mengumpat dan mengutuk kedua manusia itu dalam hati atas hadiah tak berfaedah ini. Aku mengambil ponsel dan mengetik sebuah pesan untuk mereka berdua.
"Tunggu pembalasan gue."
Meski begitu Aku tak terlalu ambil pusing dengan ide gila mereka berdua. Aku sudah terbiasa hidup dengan aksi gila mereka. Aku hanya tercengang dan sesekali terkekeh geli.