Cinta Tuan Arogan

Cinta Tuan Arogan
POV Naina.


Menikah dengan pria yang dicintainya dan diperlakukan bak Putri merupakan impian setiap wanita di dunia ini. Tak pernah kubayangkan sebelumnya, bahwa aku akan menjadi istri dari seorang Tuan Muda. Dia merupakan sosok penolong bagiku. Saat cincin itu tersemat di jemariku, saat itu pulalah aku berjanji untuk mengabdi sepenuhnya pada pria yang sudah sah menjadi suamiku.


Pernikahanku dengan Tuan Muda berjalan dengan baik. Meski sejujurnya aku kurang percaya diri melihat para tamu undangan yang menatap sinis padaku. Penampilannya kala itu membuatku terhipnotis karena ketampanannya. Badannya yang kekar dibalik jas berwarna hitam itu menambah kesan untuk suamiku. Tidak lupa senyum yang semringah terpampang jelas di wajahnya.


Tampaknya suamiku menyadari kegugupanku kala itu.


Dia menggenggam jemariku sembari menguatkanku dengan sepatah kata.


Aku mengangguk perlahan tanpa bersuara. Lagi-lagi wajah itu tersenyum hangat padaku. Ingin rasanya berteriak sekeras-kerasnya agar dunia tahu bahwa dia milikku. Sesekali air mataku menetes membasahi wajahku, rasa haru itu tak mampu terbendung.


Tamu undangan mulai meninggalkan gedung. Begitu juga dengan relasi-relasi dari perusahaan Tuan Muda.


Ruangan gedung sudah mulai lengang. Tuan muda menarik tanganku dan membawaku ke suatu tempat.


Bandara, Aku tersenyum bahagia. Dia pasti akan membawaku ke Bali. Bali merupakan destinasi impianku sejak dulu. Tak sabar ingin sampai di sana secepatnya. Benar saja, tak berapa lama kami tiba di sana. Aku dan suamiku menuju tempat penginapan nomor satu di Bali. Sekeliling Penginapan itu membuatku terkesima.


“Kau tahu istriku, Aku sangat bosan dengan destinasi ini, tapi berhubung ini adalah impianmu, kita akan bersenang-senang sepuasnya sampai kau bosan.” Ujarnya sembari berbaring di ranjang.


Setelah hasratnya terpuaskan, ia menghentikan kegiatannya di atas sana dan berbaring di sampingku.


Perlahan kulingkarkan lenganku di pinggangnya. Malam itu malam terindah yang kurasakan. Kutatap wajahnya dan perlahan mengusap pipinya dengan jemariku. Sesekali aku mencium punggung tangannya.


Setiap hari yang sudah berlalu membuatku tak ingin beranjak dari tempat ini. Suasana pantai itu mampu memikat hatiku. Setiap deburan ombak yang bersahutan membuatku merasakan kedamaian. Tidak seperti saat sebelum menikah, kini aku tidak lagi malu-malu untuk menggenggam tangannya dihadapan khalayak ramai. Jika teringat dulu, untuk menatap sepasang bola mata itu, aku tak mampu. Banyak harapan dan impian yang kutaruh padanya disaat awal pertemuanku dengannya.


Tak terasa sudah, tibalah saatnya kami untuk kembali pulang. Mama mertuaku sudah tidak sabar ingin bertemu denganku. Selama di Bali ia sering menghubungiku dan menanyakan keadaan kami. Wanita paruh baya itu sangat menyayangiku, ia memperlakukan seperti darah dagingnya sendiri.


Setibanya kami di bandara mataku membulat sempurna sembari aku mangatupkan mulut dengan kedua tanganku. Bunga yang bertebaran disana. Serasa berasa di taman bunga. Tapi jangan tanya, bagaimana keadaan suamiku. Ia mulai mendengus kesal melihat perbuatan dari asistennya itu. Sejak dulu, suamiku tidak terlalu menyukai bunga. Entah apa sebabnya.


Disepanjang perjalanan ke rumah suamiku masih saja terlihat jutek. Sungguh sambutannya itu membuatnya tidak bergairah. Sedangkan Sean dan Marco sesekali melirik dari kaca mobil dan terkekeh pelan. Mobil sport itu membelah jalanan dengan kecepatan sedang. Aku tak sabar ingin memberikan bingkisan yang kubawa untuk mertuaku dan juga untuk pelayan yang sudah berpuluh-puluh tahun mengabdi di kediaman Sultan itu.


Akhirnya tak berapa lama mobil kami berhenti dirumah kebesaran Tuan muda. Sambutan dari keluarga dan juga pelayan itu membuatku tersanjung.


Ini adalah awal hidup baru bersama suamiku. Kepiluan dan kesakitan akan masa lalu akan kutinggalkan saat aku memasuki rumah ini dengan posisi sebagai Nyonya muda.