Cinta Tuan Arogan

Cinta Tuan Arogan
Tidak pamit (DillAldy)


Dilla berjalan ke garasi motor. Ia segera mengambil motornya lalu melajukan nya keluar mansion itu.


"Loh nyonya Dilla mau kemana?" Tanya pak satpam yang membukakan pintu.


"Saya cuma mau beli sesuatu sebentar pak" jawab Dilla.


"Biar saya saja nyonya. Anda didalam saja"


"Tapi saya ingin membelinya sendiri pak" jawab Dilla. Akhirnya pak satpam pun membukakan gerbang mansion.


"Hati hati nyonya"


Dilla melajukan motornya ditengah ramai nya jalanan kota yang sekan tak pernah tidur.


Beberapa saat kemudian, motor Dilla telah sampai di tempat tujuan nya yaitu cap cay mang Ody.


Di jam yang sudah agak malam ini, sudah tidak ada pelanggan yang mengantre.


Dilla segera duduk disalah satu kursi.


Mang Ody dibuat kaget dengan kedatangan Dilla.


"Loh neng, kok sendirian aja? Suami nya mana?"


"Dirumah mang, tadi emang Dilla ngga pamit sama suami Dilla" jawab Dilla.


"waduh neng, bahaya lo perempuan hamil keluar sendirian malam malam begini, mana pake motor lagi" kawab mang Ody yang nampak mengkhawatirkan Dilla.


"Santai aja mang, doa aja semoga Dilla baik baik- aja" jawab Dilla.


"Aamiin neng, udah berapa bulan kandungan nya neng?"


"Jalan 5 bulan mang"


"Semoga lancar sampai lahiran"


"Aamiin, pesen cap cay kuah satu ya mang"


"Siap neng"


Mang Ody pun membuatkan capcay kuah.


Dilla bermain handphone nya.


Tiba tiba ada suara memanggilnya


"Dilla?!" Suara yang sangat familiar di telinga Dilla.


" A ara? Rifqi?" Dilla terbelalak saat melihat siapa yang baru saja memanggilnya.


"Mampus aku" gumam Dilla dalam hati.


Ara duduk di kursi depan Dilla


"Kamu ngapain kesini Dil? "


"Nyari makan Ar, lagi pengen banget soal nya. Terus kamu kesini ngapain?" Tanya Dilla balik.


"Mas Rifqi pengen makan capcay katanya, jadi aku ajak kesini deh, loh kak Aldy nya mana. Kamu kesini naik apa kok aku ngga liat ada Mobil di depan?" Tanya Ara bingung saat tak melihat keberadaan kakak nya disana.


"Ehmm a anu, mas Aldy dirumah"


"Loh kok nggak nganterin kamu?


"Senenernya aku tadi ngga pamit kalo mau ke sini" jawab Dilla.


Ara melihat kebohongan dimata Dilla. Namun ia enggan menanyakan lebih jauh karna takut melampaui batas privasi.


Tak lama kemudian, pesanan Dilla dan Ara sudah jadi.


"Usia kandunganmu sudah berapa bulan Ar?" Tanya Dilla basa basi.


" Jalan 2 bulan Dil, kamu jalan 5 bulan kan?"


"Iya"


Dilla melihat kemesraan Ara dan Rifqi di depan matanya. Rifqi bahkan menyuapi Ara dan kadang mencuri cium pipi Ara. Hati Dilla mencelos melihat adegan di depan nya.


"Andai aku dan mas Aldy bisa seperti itu, menganggap anak ini pun mas Aldy enggan. Jangan berharap lebih Dilla, jangankan menganggapmu, sekedar mengantarkan membeli capcay saja dia tak mau" Batin Dilla.


Dilla segera menghabiskan makanan nya dan pamit untuk pulang duluan. Ia takut kalau nanti Ara dan Rifqi menanyai nya tentang rumah tangganya yang pastinya membuat Dilla gelagapan menjawab.


Ara dan Rifqi sudah menawari tumpangan, namun Dilla menolaknya secara halus dengan berbagai alasan.


Beberapa saat kemudian, motor Dilla sudah sampai di garasi. Dilla Berjalan hati hati layaknya maling.


"Dilla?" Suara mama Mela mengagetkan Dilla.


" E eh mama" Dilla cengengesan.


"Kamu dari mana kok pakai jaket segala?"