Cinta Tuan Arogan

Cinta Tuan Arogan
menanyakan keputusan


"yhaa aku sangat mencintainya. entah kenapa semua perlakuannya padaku selama ini tak bisa membuatku membencinnya. justru aku semakin jatuh dalam pesonanya hingga aku memberikan semua cintaku padanya sampai akhirnya nanti tuhan menjemputku membawaku ke sisi nya"


"tenanglah aku akan berusaha semampuku untuk mu"


ucap aldy sambil mengelus pucuk kepala ara.


tak dirasa perjalanan, aldy telah sampai di mansion rifqi. ara segera masuk ke mansion itu.


tak terasa hari sudah sore.


terlihat ara masih menonton tv di ruang tengah.


tak lama kemudian, rifqi sudah sampai. ia segera menghampiri ara yang sedang duduk di sofa itu. ara yang melihat rifqi pun beranjak berdiri. ia terlihat kesulitan berdiri karna perut buncit dan juga berat badannya yang bertambah.


rifqi membantu ara berdiri. ara mencium punggung tangan rifqi.


"mas aku pengen ngomong hal penting"


rifqi mengernyitkan dahinya.


"hal apa?"


"ayho kita ke kamar dulu" ajak ara.


merekapun masuk ke kamar. sesampainya dikamar, ara berkata.


"mau ngomong apa ?" tanya rifqi.


"mandi sono gih mas.. nanti ajha ngomongnya. kamu bau asem" ucap ara sambil mendorong punggung rifqi ke kamar mandi.


" iyha iyha aku mandi" jawabnya lalu menutup pintu kamar mandi.


semenjak kehamilan ara, rifqi memang jauh berbeda. sifatnya tak sekejam dulu. meskipun ara masih dibeban i pekerjaan rumah, tetapi menurutnya itu semua memang sudah kewajibannya sebagai istri yang baik. dan juga rifqi sekarang lebih banyak bicara. walaupun tidak pernah membuka suara terlebih dahulu, tetapi setidaknya rifqi menjawab hal yang seharusnya dijawab dengan jelas. bukan hanya sekedar 'hem, hmm"


tak lama kemudian, rifqi keluar dengan badan yang segar dan wangi. terlihat ara telah duduk bersila di atas ranjang. ara menepuk nepuk ranjang kamarnya.


pukpukpuk


"duduk sini mas" ucapnya pada rifqi.


tanpa ba bi bu, rifqi segera duduk di dekat ara.


"peluk dulu.. yang lamaaa" rengek ara.


"baiklah"


dengan malas rifqi merengkuh tubuh ara dalam pelukannya. ara menikmati pelukan itu dan juga menghirup dalam dalam aroma tubuh suaminya. karna ia yakin setelah ia mengatakan hal 'itu' nanti pasti sikap rifqi akan berubah padanya.


10 menit berlalu..


ara melepas pelukannya. ia mendongakkan kepalanya menatap rifqi.


"tapi janji kamu akan menjawabnya sekarang juga?" ucap ara sambil menyodorkan jari kelingkingnya pada rifqi.


rifqi pun menyambut jari kelingking ara dengan kelingkingnya.


"iyha janji"


"apa keputusanmu setelah anak ini lahir?" tanya ara to the point


" seperti perjanjian awal, tapi aku akan memberi keringanan sedikit. kita akan tetap bersama sampai anak ini berusia satu bulan, lalu setelah itu kau harus pergi bersamanya jauh dari sini tanpa membawa barang sedikitpun dan juga tidak boleh menuntut apapun padaku di suatu hari nanti"


"baiklah, lalu bagaimana jika aku lebih dulu pergi bersama anak ini, sebelum anak ini lahir?" tanyanya lagi.


" tidak boleh, bagaimanapun juga dia juga anakku. dia butuh azan dariku dan juga butuh status di akta kelahirannya"


"bagaimana jika aku pergi jauh meninggalkan kalian?"


"bukan masalah untukku, yang penting kita sudah berpisah secara hukum"


" apa kau bahagia jika aku pergi mas?"


"bukankah kau sudah tau jawabannya?"


"jika aku pergi, apa kau akan menyayangi anak ini?"


" ya, aku akan menyayanginya jika kau tak berada disisinya"


"apa kau akan menemaniku saat aku melahirkan nanti?"


jangan lupa likeeeee