Cinta Tuan Arogan

Cinta Tuan Arogan
belanja perlengkapan bayi (DillAldy)


Mata Aldy melirik ke kotak makan yang ada di meja. Ia segera membuka kotak makan itu.


"Kau sudah makan?"


"Aku sudah makan tadi dirumah"


Aldy mengangguk, ia menghabiskan makanan yang dibawa oleh istrinya.


"Mas, boleh aku bertanya"


"Sejak kapan aku melarangmu untuk bertanya"


"Bisakah kau mengantarkan ku untuk membeli perlengkapan bayi? Jika ditunda tunda, nanti kandunganku akan semakin besar dan aku bisa kesulitan untuk berjalan"


"kau Kan bisa nyuruh maid, kenapa kau harus susah susah membelinya sendiri"


"Aku ingin memilihkan sendiri untuk anak kita"


"Baiklah, tunggulah sebentar, aku akan mengganti bajuku dulu" ucap Aldy lalu mengganti baju nya.


"Ayho" ajak Aldy ketika ia sudah rapi dengan gaya kasual nya.


"Eitss mas, nanti kalau ada karyawan mu yang liat kita gimana?"


"Emang nya kenapa?"tanya Aldy bingung.


"Aku kan dulu kesini pakai baju kantor, sedangkan hari ini enggak. Nanti kalau orang kantor tau aku istrimu, memangnya kau tidak malu?"


Aldy menggeleng gelengkan kepala nya atas dugaan buruk istrinya padanya.


"Ayho cepat" ucap Aldy lalu menarik pergelangan tangan Dilla.


Dilla dan Aldy melewati lobi kantor dengan Dilla yang menggandeng tangan Aldy. Kini Dilla tak lagi mengenakan masker nya.


Para karyawan menatap kaget sekaligus kagum dengan apa yang mereka lihat.


Bagaimana tidak kaget? CEO argadinata menggenggam tangan Dilla yang sedang mengandung.


"Itukan Dilla, kenapa dia bisa bergandengan dengan pak Aldy"


"Apakah dia adalah istri nya pak Aldy?"


"Apakah Dilla hamil diluar nikah?"


Bisik bisik pertanyaan para karyawan Argadinata grup.


Dilla sudah gemetar tubuhnya saat mendengar bisik bisik teman teman nya.


Dilla juga maklum kalau para karyawan kaget melihat dirinya yang sudah tak bekerja di Argadinata namun tiba tiba datang dengan perut buncit nya. Terakhir ia datang kandungan nya belum terlalu besar, itupun ia memakai pakaian kerja.


Aldy semakin mengeratkan genggaman nya.


Aldy dan Dilla segera masuk ke mobil. Aldy mengendarai mobil itu menuju toko perlengkapan bayi terbesar di kota itu.


Setelah sampai, Aldy dan Dilla masuk ke sebuah gedung 5 lantai itu yang juga masih dibawah naungan Argadinta grup.


Semua karyawan toko itu membungkuk hormat ke Aldy karna tau pemilik utama toko itu.


Dilla sempat terkesiap dengan isi gedung itu. Memang benar jika kata orang ini adalah toko perlengkapan bayi paling besar di kota ini.


Semua brand bayi mulai dari yang harga ratusan ribu sampai ratusan juta pun ada di dalam toko ini.


Aldy menggenggam tangan Dilla dan menariknya ke bagian perlengkapan baju baju anak.


Aldy mengambil sebuah troly. Ia juga membantu istrinya memilihkan baju baju yang cocok untuk anak nya.


Dilla juga memilih perlengkapan bayi yang lain. Seperti gendongan, celemek tidur.


Aldy berdiri di belakang Dilla yang sedang memilih beberapa gendongan dan juga ayunan bayi.


Aldy mengusap usap pinggang Dilla sesuai perintah istrinya karna merasa pegal.


"Kamu lelah, pulang aja yuk" ajak Aldy.


" Nanggung mas, dikit lagi"


Akhirnya Aldy menuruti kata istrinya. Troly yang didorong Aldy pun sudah di dorong oleh salah satu pelayan toko karna Aldy terus saja mengusap pinggang istrinya.


Saat ini Dilla dan Aldy berada di lantai 5 gedung itu. Dilla hanya berdiri disana. Tanpa diminta, Aldy sudah memilihkan ranjang tidur untuk anaknya dan juga stroler dengan harga fantastis.