
Pukul 05.00
Pagi sekali Naina beranjak dari ranjangku. Meski masih dalam keadaan tertidur, Aku masih bisa merasakan gerakan Naina yang perlahan beranjak.
Satu jam kemudian Aku pun bangun dan mulai membersihkan diri. Setelah itu Aku berlalu dari kamar dan melangkah ke kamar Mama memastikan keadaannya. Aku melihat Mama yang masih tertidur pulas. Senyuman pun terbit tatkala melihat wanita tua itu.
Aku menghampiri Naina yang sedang berkutat di dapur. Ia terlihat sibuk dengan tugasnya sampai tak menyadari keberadaanku.
"Tuan... Sudah bangun?" Tanyanya seraya menunduk.
"Belum... Masih ngorok," Sahutku jengah.
Mendengar jawabanku, sepertinya Naina kebingungan. Pikirannya terlalu polos dan tak dapat mencerna dengan baik setiap gurauan. Ia terlalu serius untuk menanggapi hal-hal sepele.
Wanita berkulit putih mulus itu, hanya diam tak berkomentar apapun. Dia melakukan tugasnya setiap pagi menyiapkan sarapan.
"Naina... Perhatikan Mama ya. Kalau Mama belum turun dari kamarnya, antarkan saja makanannya ke kamar." Ucapku seraya mengunyah makananku. Setelah selesai sarapan Aku berlalu dari rumah menuju kantor.
***
Dikantor
Aku memasuki ruanganku dan melihat Sean yang berada lebih dulu disana. Ia terlihat antusias didepan layar laptopnya.
"Se... Bagaimana tentang proyek Danau itu?"
"Semua berjalan dengan baik Pak." Jawabnya santai namun masih tetap berpandangan dengan layar yang ada dihadapannya. Melihat Sean yang masih serius, Aku kembali berkutat dengan pekerjaanku.
Awalnya Aku tak terlalu tertarik untuk mengelola Danau tersebut untuk menjadi tempat wisata dan taman keluarga. Namun ada sedikit yang membuatku lama-lama menjadi tertarik.
Suatu ketika saat Aku melewati taman yang seadanya itu, Aku tertegun melihat satu keluarga muda dengan anak yang masih kecil bermain disekitar area itu. Aku sempat memperhatikan mereka dari kejauhan melihat keromantisan keluarga tersebut. Sang Ayah dengan anak yang masih berusia sekitar lima tahun itu berlarian dan bermain bola. Sungguh beruntung bocah tersebut, dan masih banyak lagi keluarga yang lain menghabiskan waktu ditaman itu.
Sejak saat itu timbul inisiatif untuk mengkelola tempat itu menjadi Taman keluarga yang di suguhkan dengan keindahan Danau disekitarnya.
***
Waktu makan siang pun tiba, Aku dan Sean berlalu dari kantor menuju Restoran disekitar Perusahaanku.
"Ndre... Mama kamu udah tau mengenai Papa kamu?" Tanya Sean sembari mengunyah makanannya.
"Belum Se... Keadaan Mama belum stabil, Aku takut untuk mengungkapkannya sekarang." Jawabku serius.
Sean hanya manggut-manggut menanggapi jawabanku.
"Apakah kau sudah mampir ke markas?" Tanyanya lagi.
"Belum... Setelah pekerjaan kantor kita akan mampir disana melihat kedua manusia lakhnat itu." Kataku seraya tersenyum tipis.
***
Sesuai dengan perkataan Aku dan Sean saat ini kami memutuskan untuk mampir ke markas. Seperti biasa Sean mengambil alih kemudi sedangkan Aku duduk disamping Sean sembari memainkan ponselku.
Tak butuh berapa lama kami sampai ditempat tujuan, Aku dan Sean melangkah dengan santai.
"Bos." Sapa orang suruhanku saat melihat kedatangan kami.
"Bagaimana keadaan si tua bangka itu?" Tanyaku penasaran sembari mengisap sebatang rokok.
"Dia sudah semakin lemas akibat serangan yang bertubi-tubi dari kami Bos." Jawabnya enteng.
Mendengar kabar si tua itu Aku penasaran dan beranjak ke kamar rensa si tua itu. Aku melihatnya terkapar tak berdaya dengan keadaan mata yang tertutup dengan kain dan tangannya terikat tali.
Perlahan Aku mendekatinya dan mencengkram dagunya kuat, si tua itu meringis kesakitan. Awalnya Aku ingin melakukan pukulan padanya namun melihatnya meringis Aku membatalkan niatku dan beranjak dari sana.
"Beri dia makan dan minum." Titahku pada salah satu penjaga di kamar itu. Penjaga itu mengangguk sembari memperhatikan si tua itu.
Aku pun beralih ke kamar si wanita tak tau diri itu. Aku melihatnya tidur dilantai tanpa menggunakan alas sama sekali tanpa menggunakan busana. Ia hanya memakai perlengkapan dalam wanita. Sepertinya penjaga disini sangat antusias menyerbu wanita ini. Sejenak hatiku iba namun mengingat perbuatannya bersekongkol dengan si tua itu membuatku semakin jijik. Tanpa membangunkannya Aku berlalu dari kamar itu.
Setelah usai melihat kedua manusia itu Aku dan Sean meninggalkan tempat itu untuk pulang ke rumah. Aku memaksa Sean kali ini menginap di kediamanku. Sean pun menurut dengan permintaanku.
Aku mengambil ponsel dari saku jas ku dan melakukan panggilan ke salah satu orang kepercayaanku di markas.
"Sudah cukup bagi kalian meniduri wanita itu! " Kataku dengan seseorang diseberang sana.
Setelah usai berbicara panjang lebar dengan orang suruhanku lewat telpon Aku mengakhiri panggilan itu.
"Luluh juga hati lu, Ndre." Ucap Sean sembari menoleh ke arahku.
Aku hanya diam tak menggubris perkataan Sean. Jujur saja, apa yang dikatakan Sean itu benar adanya. Namun egoku tak bisa mengalah.
***
"Auhhh... Sakit bego!" Katanya sembari mengusap kepalanya.
"Lu tu kalau mau masuk ketuk pintu dulu, etika lu kemana! entar ada pelayan yang bukain." Ucapku jengah sembari masuk ke dalam rumah.
Saat hendak duduk di ruang tamu kami melihat Naina berjalan ke arah kami.
"Tuan sudah pulang?" Tanyanya dengan suara lembut.
"Belum, masih di jalan." Sahutku jengah.
Mendengar itu Sean tertawa sedangkan Naina hanya menunduk. Aku memberikan jas ku pada Naina, kemudian Naina beralih dari hadapan kami.
"Jutek amat lu, kalah emak-emak." Sungut Sean sedangkan Aku hanya tertawa.
"Pertanyaan apa coba? Aku kan udah di rumah berarti udah pulang." imbuhku lagi.
"Lu mah... Dia itu perhatian ke elu. Oh ya hubungan lu udah sampai di mana sama Naina."
"Sebatas ranjang." Jawabku cepat.
"Waowww... Gercep amat."
"Hmmmm...." Balasku cuek.
Tanpa kami sadari Naina sudah ada di hadapan kami. Entah dia mendengar pembicaraan kami atau tidak.
"Apa Tuan butuh sesuatu?" Katanya dengan nada pelan.
"Tidak."
Sedari tadi Sean hanya memperhatikan Aku dan Naina berbicara. Mendengar jawabku Naina melangkah perlahan.
"Eh... Naina, buatin nasi goreng dong." Teriak Sean pada Naina yang sudah jauh dari hadapan kami. Naina menoleh ke belakang dan mengangguk, kemudian ia menuju dapur.
Aku pun beranjak dari tempat duduk dan meninggalkan Sean disana. Aku berjalan menuju kamar Mama. Aku membuka kenop pintu itu perlahan dan melihat Mama sedang merias diri didepan cermin.
Mama menyadari kehadiranku dan tersenyum. Melihatnya tersenyum Aku pun ikut tersenyum sembari mendekat ke arahnya. Aku memeluk wanita bijaksana itu dari belakang sedangkan Mama memperhatikanku dari cermin.
"Bagaimana keadaan Mama?" Tanyaku sembari melihat wajahnya di cermin.
"Mama sudah membaik sayang," Balas Mama sembari mengusap tanganku yang melingkar disekitar bahunya. Aku tersenyum dan mencium pipi Mama.
"Tapi..."
"Tapi apa Ma?" Tanyaku heran.
Kenapa si Arletta bersekongkol dengan Papa kamu Ndre? Tolong jawab pertanyaan Mama dengan jujur." Kata wanita tua itu memohon.
Melihat Mama yang mulai penasaran Aku pun melepaskan pelukanku dari bahu Mama dan duduk di ranjang Mama, sedangkan Mama masih duduk diam ditempatnya.
"Ma... Mama tau kan karena apa Aku memutuskan hubungan dengan Arletta?"
Wanita paruh baya itu mengangguk dan menatapku serius.
"Kamu bilang saat itu Arletta selingkuh kan?" Tanya Mama lagi.
"Iya... Arletta selingkuh." Jawabku membenarkan perkataan Mama.
"Mama tau siapa yang tidur bersamanya saat Aku mengunjunginya beberapa tahun silam?"
Mama masih terdiam mendengar setiap perkataanku.
"Arletta seranjang dengan suami Mama. Saat melihat kedua manusia itu bercumbu hatiku hancur. Jika saja dengan laki-laki lain mungkin luka ini tak terlalu sakit. Namun, melihat orang yang menjadi orangtuaku disana...."
Belum sempat Aku menjelaskan, Mama mendekatiku dan memelukku sembari menangis.
"Kenapa selama ini kamu diam Nak?" Ucap Mama lirih.
"Saat itu Mama sangat mempercayai Papa. Aku tak ingin mengusik hati Mama." Sahutku sembari perlahan melepaskan pelukan Mama dariku.
Aku pun berdiri dan memeluk Mama erat. Wanita paruh baya itu masih saja menangis. Melihatnya menangis Aku semakin dendam dengan si tua itu.
"Itu hanya masa lalu Ma. Mama tak perlu memikirkan itu." Kataku sembari meregangkan pelukan Mama. Aku menghapus air mata dari wajahnya.
"Mulai hari ini kita berdua akan bangkit bersama-sama. Tidak ada lagi tangisan pilu diantara kita berdua Ma. Masih banyak harapan baru yang akan kita raih kedepannya. Kita berdua sangat berharga." Kataku sembari tersenyum.
Mendengar perkataanku Mama pun tersenyum dan kembali memelukku. Aku tau Mama masih terpukul dengan kejadian yang lalu ditambah lagi dengan kebenaran yang selama ini kusimpan. Mungkin ini sudah saatnya untuk mengutarakan kebenarannya.