
Dilla melihat kursi roda itu di dorong Aldy menuju ke arahnya langsung menutup matanya dengan tangan.
"Masssss bawa benda itu keluar!!!" Teriak Dilla ketakutan.
Aldy malah menjadi bingung dengan istrinya itu.
"Kenapa memangnya?" Tanya Aldy.
"A aku takut" ucap Dilla Disela ketakutannya.
Mau tidak mau Aldy pun membawa kursi roda itu keluar dari ruangan Dilla.
Aldy kembali masuk ke ruangan Dilla. Ia melihat istrinya berbaring memunggungi nya. Ia memegang pundak Dilla yang membuat Dilla terjingkat kaget.
"Ja jangannnn aku takuuttt" teriak Dilla dengan tubuh gemetar.
"Hei kau kenapa? Ini aku" ucap Aldy.
Dilla langsung berbalik dan memeluk pinggang suami nya yang sedang berdiri di samping ranjangnya itu.
Aldy merasakan tubuh istrinya bergetar. Aldy segera mendudukan dirinya di brankar rumah sakit itu dan memeluk istrinya.
"Kau tenang lah"
Beberapa saat kemudian Dilla sudah tenang.
"Ayo aku akan menggendongmu ke ruangan dokter Farah untuk memeriksakan kandungan mu" ucap Aldy.
Dilla menggeleng
Aldy menghembuskan napasnya. Ia sudah terlalu muak dengan istrinya itu.
"Baiklah kalau kau tidak mau, aku juga tak akan memaksamu" ucap Aldy dengan nada bicara naik satu oktaf. Ia lalu meninggalkan ruang rawat Dilla.
Dilla merasa sedih dengan sikap suaminya yang tidak memahami kondisi nya saat ini.
Beberapa saat kemudian, mama Mela, papa Reza dan anggota keluarga lainnya datang menjenguk Dilla.
"Bagaimana keadaanmu nak?" Tanya mama Mela.
"Dilla baik baik saja ma" jawab Dilla.
"Dimana suami mu?" Tanya papa Reza.
Mereka semua pun mengobrol dengan penuh canda tawa.
Jam menunjukan pukul 20.00
Papa Reza, mama Mela dan anggota keluarga lain sudah pulang.
Sekarang inilah keadaan sesungguhnya. Ruang rawat Dilla sepi tak berpenghuni. Sejak sore tadi, Aldy tak memunculkan batang hidungnya dihadapan Dilla.
Entah apa yang dilakukan laki laki itu diluar sana Dilla tak mengetahui nya.
Akhirnya Dilla terlelap bersama sunyi nya malam dengan memendam kekecewaan yang mendalam.
Pagi hari, Dilla mengerjapkan mata nya bangun.
Ia melihat suami nya sudah rapi dengan pakaian kantor nya.
"Kau mau kemana mas?" Tanya Dilla.
"Aku mau bekerja, kantor membutuhkanku. Jika kau butuh apa apa bilang saja pada mama. Dia akan datang setiap jam makan siang untuk membawakanmu makanan"
Dilla menelan kekecewaan karna suami nya yang sama sekali tak perhatian pada nya.
"Makanlah sarapanmu dan minumlah susu hamil yang ada di atas nakas itu" ucap Aldy lalu melenggang keluar dari ruangan Dilla.
Dilla menghela napasnya. Ia segera memakan sarapan nya dan meminum susu hamil.
Entah kenapa dia tak merasakan mual parah seperti biasanya. Hanya terkadang ia merasakan pusing yang mendera kepala nya.
Dilla mulai beranjak dari tempatnya tidur. Rasanya begitu membosankan jika dia hanya tiduran diatas brankar rumah sakit.
Baru selanggkah Dilla beranjak, namun tubuhnya sudah tak kuat menahan beban. Untung saja ada perawat yang masuk ke ruangan nya untuk cek rutin.
"Nyonya Dilla, apa yang terjadi" tanya perawat itu saat melihat Dilla terduduk di lantai.
"Tolong bantu aku berdiri" pinta Dilla.
Perawat itupun membantu Dilla berdiri.
"Kumohon bantu aku untuk ke kamar mandi" pinta Dilla lagi yang diangguki perawat itu.
Dilla pun dibantu ke kamar mandi.