Cinta Tuan Arogan

Cinta Tuan Arogan
Naina 1


Malam ini Aku mampir ke diskotik langgananku, tapi kali ini berbeda. Aku tanpa dua manusia yang selalu mengikutiku. Sesampainya Aku disana, Aku memasuki ruang VIP pribadi dan disana Aku menjumpai teman lamaku sewaktu kuliah diluar negeri. Kami mengadakan reuni di diskotik itu, dengan ditemani wanita penghibur tak lupa juga minuman beralkohol. Aku mulai mabuk dengan minuman itu, beberapa diantaranya sudah ada yang tertidur.


Dengan langkah sempoyongan, Aku pamit undur diri. Aku berjalan menuju tempat mobilku diparkir. Sekuat tenaga berusaha stabil. Aku menyetir dengan keadaan mabuk. Entah berapa kali Aku berhenti untuk menetralkan pandanganku.


Sesampainya Aku dirumah, Aku memasuki ruang tamu. Aku tak sanggup lagi untuk menuju kamarku. Tiba-tiba saja Aku melihat Naina melewati ruang tamu, dengan sigap Aku memanggilnya.


"Na-ina.... "


"Tu-an... Apakah anda mabuk?"


Naina mendekatiku, dan mulai membopongku ke kamarku. Saat Naina meletakkanku diranjang big size itu, Aku menariknya kedalam pelukanku. Saat itu ada penolakan darinya. Membuatku sedikit kesal. Aku pun mendorongnya tanpa sengaja.


"Keluar!"


Tanpa menunggu lama Gadis itu keluar, Aku melihat bayangannya semakin menghilang dibalik pintu.


Malam pun semakin larut, Mataku enggan terpejam. Dengan sempoyongan Aku menuju kamar Gadis itu. Dengan langkah perlahan Aku sampai didepan pintu kamar Gadis itu. Aku membuka knop pintu itu namun pintu itu dikunci dari dalam.


"Naina, Buka pintu ini!" Aku mengetuk berkali-kali. Kelihatannya gadis itu mendengar suara ketukan itu. Naina membuka pintu itu perlahan, Aku melihat mata indah itu memandang kearahku. Seketika hatiku luluh dengan pandangannya.


Tanpa sadar Aku mendorongnya perlahan di ranjang kecil itu, seperti kehausan Aku mulai menciumnya dengan ganas, Aku merasakan perlawanan dari dirinya.


"Jangan tolak Aku kali ini Naina!" kataku dengan suara desahan yang memburu. Aku mulai mencium bibir mungil itu dengan sensual. Lagi-lagi penolakan yang kuterima. Ia mulai mendorongku. Aku mulai memainkan tanganku dan langsung menuju sasaran pada bukit kembar yang sintal itu. Dengan paksa Aku membuka pakaian itu, dengan pakaian dalam itu semakin membuatku semakin memburu.


Entah karena lelah meronta, Aku tak merasa ada penolakan darinya. Aku melanjutkan kembali aksiku. Dengan santai dan perlahan Aku mulai bermain dengan jariku menelusuri area nomor satu itu, Aku memainkan jariku didalam sana dengan lembut. Aku mendengar ia mendesah dan desahan itu semakin membuatku tak kuat menahan hasrat itu. Malam itu Aku puas dengan aksiku. Entah karena cinta atau nafsu yang memburu Aku pun tak tahu.


Usai bermandi keringat diatas tubuh mungil itu, Aku melihatnya kelelahan. Aku pun membersihkan diri di kamar mandi. Usai membersihkan diri, dengan rasa tak bersalah Aku menuju kamarku dan meninggalkannya dengan tubuh yang tertutup selimut.


Saat hendak berjalan ke kamarku, Indra pendengaranku menangkap suara tangisan. Ya, itu kamar Mama. Awalnya Aku tak menggubris. Namun berjalan tiga langkah dari kamar itu. Aku mendengar ada suara pecahan kaca didalam kamar itu. Aku kembali membalikan langkahku menuju kamar itu. Aku membuka pintu itu, ternyata pintu itu tak dikunci oleh sang pemilik kamar. Aku melihat situa bangka itu sedang memaksa Mama menandatangani sebuah berkas. Aku mendekati mereka, dan menarik situa bangka itu dari hadapan Mama. Ia terjungkal kebelakang, sedangkan Mama mulai mendekat kearahku dan memelukku dengan ketakutan.


"Jika kau ingin hidup, pergilah!" kataku dengan suara keras. Benar saja situa bangka itu lari terbirit-birit dari kamar Mama.


Aku memeluk Mama, Mama masih saja terisak. Dengan penasaran Aku bertanya padanya perihal berkas itu. Ternyata situa bangka itu meminta separuh aset dari Mama. Aku mengepalkan tanganku dengan rasa geram ke ubun-ubun.


Sembari menangis, Mama Minta maaf akan kejadian waktu itu dan sempat membenci


Naina. Aku tak terlalu memusingkan hal itu, Aku tetap saja terfokus dengan ulah situa bangka yang tak tahu diri itu. Ingin sekali membuatnya mati di tempat saat ini. Namun melihat Mama yang menangis Aku mengurungkan niat itu. Usai dari kamar Mama Aku langsung menuju kamarku. Dengan rasa lelah dan sempoyongan akibat mabuk itu, Aku mulai memejamkan mataku.


Pagi ini Aku kembali melakukan Aktivitasku, sambil memasang jam kesuakaanku di pergelangan tangan, Aku berjalan menuju ruang makan. Disana Aku melihat Naina sedang menyiapkan sarapan pagi. Dengan cekatan ia menaruh nasi putih dan sepotong ayam goreng dipiringku. Ia terus saja menunduk, Aku mulai merasa bersalah mengingat aksiku tadi malam.


Aku membuka percakapan padanya. Aku tak tahan melihatnya selalu tertunduk padaku. Aku merasa menjadi paling jahat padanya. Saat melakukan aksiku Aku merasakan kepasrahan dari gadis itu.


"Naina...."


Aku memanggilnya namun sama sekali tak digubris oleh siempunya nama. Ia mendengar namun berlalu begitu saja. Aku terus saja memandang gadis itu berlalu dihadapanku. Aku mulai tak sabar, dan menemuinya didapur sedang membersihkan peralatan dapur. Ia hanya melirik ku, Aku mulai memeluknya dari belakang, dan mengatakan sesuatu padanya, karena aku yakin ucapanku ini akan membuatnya bersuara.


"Aku ingin menidurimu Naina," kataku lembut ditelinganya.


"Tu-an," katanya dengan mengiba. Membuatku semakin merasa bersalah.


"Maafkan kejadian semalam Naina, Maaf." ucapku sembari mengarahkan tubuhnya berhadapan denganku. Aku melihat airmata dipipi gadis itu, Aku mengusap airmata itu dan memeluknya. Tangisannya kali ini membuat hatiku pilu.


"Aku minta maaf, please. jangan menangis lagi Naina."


Gadis itu seolah-olah tak mampu berkata-kata lagi, ia hanya menganggukan kepalanya. Aku mencium kening gadis itu lama. Ia seperti candu baru bagiku. sejak mengenalnya Aku ingin sekali berada didekatnya. suaranya, wajahnya dan manik matanya membuatku terkesima.


Tanpa kusadari ada sepasang mata yang melihat Aku dan Naina berbicara. sontak Aku melepaskan pelukan dari Naina. Aku langsung keluar dari dapur, namun Mama seolah tak terima dengan kejadian ini. Entah apa yang dirasakan Mama saat melihatku memeluk Naina.


"Ndre, Mama mau bicara sebentar." kata Mama sembari menyusulku yang menuju garasi mobil.


Aku menghentikan langkahku dan menoleh ke sumber suara yang memanggilku. Wanita itu mendekatiku dengan rasa penasaran yang terlihat dari gerak-geriknya.


"Ada apa Ma, Aku sudah terlambat." kataku datar agar tak kelihatan bahwa Aku ingin menghindari omelannya.


"Kamu tuh," sahut wanita itu sembari mencubit pinggangku dengan pelan sembari tersenyum.


Wanita itu memulai obrolan perihal kejadian pagi ini. Aku hanya tersenyum melihat Mama yang mengomel. Dibalik omelan Mama, ada sedikit yang membuatku mengerutkan kening. pasalnya Mama menginginkan Naina menjadi menantunya.


"Ma, Naina itu tak cocok untukku. Aku hanya iseng saja melakukan itu, bukan berarti Aku mencintainya."


Tanpa sepengetahuanku dan Mama, Naina sudah berada di dekat kami, sembari membawa tasku yang tertinggal dimeja makan tadi. Ia memberikan padaku dengan wajah sendu dan tertunduk. Sembari terdiam Aku menerima tas itu, Aku melihat Naina berlalu dari hadapan kami. Aku yakin Naina mendengar semua pembicaraanku dan Mama.