
Sejak diperjalanan pulang, Aku dan Sean hanya diam. Aku memikirkan apa yang harus kukatakan pada Mama perihal Papa. Tak berapa lama akhirnya kami sampai dirumah.
Kami mendapati Mama dan Naina sedang menonton televisi. Aku mendekati kedua wanita yang sedang asyik bercerita itu. Entah apa yang mereka bahas sampai mereka tak menyadari kedatangan Aku dan Sean diantara mereka.
"Ma... Andre ada kabar buruk mengenai suami Mama."
Mama menoleh ke arahku sambil memasang wajah raut heran.
"Ada apa dengannya?" Kata Mama penasaran.
Aku mulai menjelaskan pada Mama kejadian dan kondisi yang dialami Papa. Tentang penyakitnya yang kambuh saat di markas. Mama hanya diam namun pandangan masih kearahku. Wanita paruh baya itu sama sekali tak memiliki pertanyaan apapun mengenai kondisi Papa. Melihat Mama yang tak memiliki respon, Aku menjelaskan lebih detail lagi tentang penyakitnya.
Aku juga meminta Mama untuk mengunjungi pria itu dan mengurusnya. Namun Mama menolak permintaanku. Aku mengerti kenapa Mama menolak. Aku yakin Mama pasti bingung dengan kondisi ini. Wanita paruh baya itu tak memiliki hati yang lepas tangan jika terjadi sesuatu pada Papa. Kami berempat terdiam sesaat dan sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Naina terlihat memperhatikanku sejak Aku berbicara pada Mama. Terlihat dari gerakannya ia ingin mengatakan sesuatu.
Setelah menatap Naina sesaat Aku mengingat permintaan Naina tadi pagi saat Aku berangkat ke kantor. Ternyata Aku lupa membawakan pesanannya. Keadaan di ruang tamu itu masih hening, Aku pun mulai beranjak dari mereka. Saat melangkah tiba-tiba Naina membuka suara dan mengalihkan keheningan.
"Tuan... Apa Tuan tidak membawa pesananku?" Tanya Naina penasaran.
Aku kembali membalikkan badan dan memandangnya sambil tersenyum kikuk. Mama dan Sean saling berpandangan tak mengerti dengan perkataan Aku dan Naina.
Aku duduk disamping Naina dan menjelaskan bahwa Aku lupa dan sama sekali tak memikirkan itu terkait peristiwa yang dialami Papa. Mendengar penuturanku Naina hanya diam tak merespon. Sean akhirnya bertanya tentang permintaan Naina. Aku menjelaskan pada mereka. Mereka berdua terkekeh sembari memandang Aku dan Naina bergantian. Sean menawarkan bantuannya pada Naina untuk membeli pisang goreng kaki lima itu namun Naina menggeleng menolak tawaran Sean.
"Aku ingin Tuan Andre yang membelikannya," Ujar Naina sembari menunduk.
Aku menganga mendengar perkataan Naina barusan. Mama dan Sean lagi-lagi terkekeh geli saat namaku disebut Naina. Aku terpaku menatap wajah oval milik Naina.
"Kenapa harus Aku?" Tanyaku heran.
Mama membuka suara menjelaskan bahwasanya keinginan Naina bukanlah keinginannya, melainkan keinginan anak didalam kandungan Naina. Aku mendengar dengan antusias setiap penjelasan Mama. Setelah siap mendengar Mama berbicara panjang lebar akhirnya Aku memutuskan untuk membawa Naina dan membelikannya makanan yang ia minta.
***
Sudah hampir satu jam lebih mobil yang kami kendarai mondar-mandir disekitar jalan raya ini, namun selama itu pula Naina tak menemukan yang ia cari. Aku mulai bersungut-sungut pada Naina.
Naina tak perduli dengan setiap gerutuku. Ia masih saja dengan santai celingak-celinguk dipinggir jalan itu.
"Kamu nyari apa sih?" Kataku kesal.
"A-nu Tuan...."
"Anu apaan!"
"Mmm.... Gak jadi beli pisang gorengnya, udah gak suka."
Tanpa menunggu lama, Aku memutar kemudi mobil dan segera pulang. Diperjalanan Aku hanya mendumel pada Naina. Ia sama sekali tak membalas setiap ucapanku. Wanita itu hanya menatap lurus jalanan yang ada didepan.
Beberapa menit kami pun sampai dirumah. Aku keluar dari mobil sementara Naina masih tetap disana. Aku mengetuk jendela mobil disusul dengan perintahku agar ia keluar dari dalam mobil. Melihatku yang mulai geram Naina pun menurut dan menyusul masuk kedalam.
Mama melihat kedatangan kami. Mama menghampiri Naina.
"Loh... Kok gak bawa apa-apa?" Tanya Mama heran.
Karena tak ingin mendengar Mama berjamaah berlama-lama Aku langsung menjelaskan padanya agar ia tak salah paham. Mama hanya manggut-manggut tanda mengerti. Syukurlah ucapku dalam hati.
***
Malam itu, Aku dan Sean makan malam bersama disusul dengan Mama. Naina sibuk mengurus perlengkapan makan malam itu. Bak ingin berperang, Naina mondar mandiri dari depan ke belakang.
"Bibi mana? Kenapa hanya kau yang kulihat mondar-mandir diruangan ini Naina?" Sungutku sedikit jengkel.
Sean dan Mama terkekeh mendengar perkataan yang kuucapkan pada Naina.
"Bibi dan yang lain sedang istirahat Tuan, maaf jika saya mengganggu ketenangan Tuan." Ujarnya sembari berlalu dari kami.
Aksi Naina yang tiba-tiba berlalu dari hadapan kami membuatku jadi tidak tenang. Aku takut jika wanita itu menangis lagi.
Semenjak kehamilannya Naina agak sedikit susah dimengerti, membuatku harus berhati-hati saat menyampaikan sesuatu. Kata Mama kalau ibunya tertekan batin saat hamil maka anak yang lahir itu akan membenci ayahnya. Ucapannya Mama membuatku ngeri bila kejadiannya akan seperti itu. Entah itu benar atau tidak hanya Mama yang tahu.
Tak ingin berburuk sangka, Aku kembali menyantap makanan yang ada di hadapanku. Tiba-tiba saja ponselku berdering. Aku berbicara dengan seseorang dari seberang sana. Usai menutup panggilan masuk itu, Mama bertanya siapa yang menelepon malam-malam begini.
Aku mulai bicara panjang lebar pada Mama bahwasannya yang menelepon tadi adalah Papa. Ia ingin bertemu dengan Mama. Saat Aku mengatakan hal itu Mama memberhentikan acara makannya, wanita paruh baya itu mengambil segelas air dan meminumnya. Kemudian ia menjelaskan bahwa ia masih sakit hati dengan perbuatan Papa.
Wanita tua itu takut ketika ia mulai kasihan padanya, laki-laki itu malah semakin menjadi. Mama tak ingin menjadi tameng baginya. Mama menceritakan semuanya tingkah laki-laki tua itu. Mama juga mengatakan sudah waktunya untuk pria yang hampir setengah abad itu merasakan ini semua.
Aku berusaha membujuk Mama agar mau menemuinya sekali ini saja. Aku prihatin melihat keadaan Papa saat ini. Jujur saja Aku merasa bersalah padanya. Namun apa yang dikatakan Mama ada benarnya juga. Aku tetap saja harus memantau setiap gerak-gerik Papa.
Setelah sekian lama membujuk, akhirnya hati Mama tergerak juga. Aku, Sean dan Mama langsung menuju tempat Papa dirawat. Tak berapa lama kami sampai disana. Mama langsung masuk dan melihat suaminya yang terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit itu.
Papa yang menyadari kedatangan kami perlahan membuka matanya. Ia tersenyum melihat Mama yang berdiri dihadapannya saat ini. Papa meraih tangan Mama dan mulai meminta maaf atas semua tingkahnya pada Mama dimasa lampau. Mama masih diam tak membalas setiap ucapan suaminya itu.
Entah angin apa yang mendorong Papa sehingga ia mengucapkan kata maaf pada Aku dan Mama. Sejujurnya bila mengingat semua tingkahnya tidak segampang itu untuk memaafkannya. Namun dihati kecilku tetap berharap semoga ucapannya tulus agar semuanya dapat diperbaiki.
Keluarga yang harmonis adalah impian setiap orang dan setiap anak didunia ini. Sama halnya denganku. Meski ini sudah terlambat namun tak ada salahnya jika dimulai kembali untuk menata hati. Aku juga tak ingin perang dingin ini berjalan terus menerus.