
"shhh" ara mendesis seolah kesakitan.
ara memegangi perutnya.
rifqi yang melihat ara mendesis pun langsung memegang pundak ara.
" are you okay?" rifqi melontarkan pertanyaan. rasa khawatir tampak dari nada bicaranya.
mata ara berbinar mendengar pertanyaan dari mulut rifqi. ara melihat ke arah rifqi dengan senyum manisnya.
" yes, i'm okay.. "
" lalu kenapa kamu kelihatan meringis?"
" anak kita yang ada disini sudah mulai menendang mas. dan tadi dia menandang dengan kuat"
ucap ara sambil mengelus perutnya.
" benarkah" tanya rifqi dengan dari mengkerut yang dijawab anggukan oleh ara.
tangan ara ter ulur untuk memegang tangan rifqi lalu mengarahkannya pada perutnya.
" bukankah kau merasakan pergerakannya?" tanya ara.
tiba tiba mata rifqi ikut berbinar. senyuman manis tercetak jelas di wajahnya.
" dia benar benar menendang" ucap rifqi antusias
" apa kau tidak merasakan sakit?" sambungnya
ara menggeleng
" umurnya sudah masuk lima bulan. ini belum apa apa. nanti kalau sudah 8 bulan mungkin tendangannya akan lebih keras" ucap ara
" lalu bagaimana saat usianya sudah 9 bulan? apakah lebih aktif dari ini?" tanya rifqi
deg
deg
jantung ara berdegub
' karna mungkin sebelum sembilan bulan aku sudah tidak berada di dunia ini mas, mungkin tuhan akan lebih dulu menjemputku" ucap batin ara.
ara hanya menjawab pertanyaan rifqi dengan seulas senyuman. rifqi pun menyuruh ara mendekat dan ikut duduk di atas brankar rifqi.
"kenapa tidak ada suara detak jantung nya?" tanya rifqi polos yang dijawab gelakan tawa dari ara.
" mana bisa lah mas, harus pake alat" ucap ara sambil terkekeh.
rifqi kembali menempelkan kupingnya. bahkan kali ini ia sambil berbicara.
" hallo anak papi, sehat sehat yha disana, jangan nakal. kasian momynya nanti" ucap rifqi tulus dan lalu mendapat tendangan dari si jabang bayi di perut ara.
" wahh dia menendang lagi" ucap rifqi berbinar.
" memang seperti itu mas, bahkan harus lebih sering di ajak ngobrol agar dia jadi aktif"
" oh yha?"
mereka pun tertawa berdua seolah melupakan peristiwa peristiwa menyakitkan diantara keduanya terutama penyiksaan rifqi kepada ara.
mereka terlalu larut dalam obrolan nya sampai tak sadar bahwa ada sepasang manusia yang melihat interaksi keduanya dari depan pintu. yhap betul.. mereka adalah tuan dan nyonya yulandres.
mereka tersenyum bahagia melihat interaksi anak dan menantunya itu.
ehem ehem
deheman dady bayu membuyarkan segalanya. ara dan rifqi langsung menoleh ke arah suara itu.
" dad, mom?"
" apa kita menggangu kemesraan kalian?" goda momy rina.
percayalah, wajah ara kini sudah semerah tomat. bagaimana ia tidak malu, ia kepergok sedang bermesraan di rumah sakit dan mereka berdua sedang duduk diranjang yang sama lagi.
" aishh momy mu ini suka sekali menggoda anak dan menantu nya."
" kami tidak sedang bermesraan mom, kita hanya bercanda saja. karna tadi anak ku sudah mulai menendang nendang di perut ara" sanggah rifqi.
" woww benarkan?" momy rina pun mendekati brankar tempat ara dan rifqi duduk. ia menjulurkan tangannya menyentuh perut ara.
momy rina pun juga merasakan tendangan dari calon cucu nya itu.
" wahh kau benar sekali. ia sudah mulai menendang, memangnya berapa usia kandungan mu sekarang ar?" tanya momy rina antusias
" sudah lima bulan mom,"