Cinta Tuan Arogan

Cinta Tuan Arogan
Timbul curiga 3


Malam itu Aku kedatangan tamu, siapa lagi kalau bukan Sean dan Marco. Mereka diundang oleh Mama untuk makan malam bersama. Kedua manusia itu kegirangan dengan jamuan makan malam yang disediakan Mama. Kami beralih ke ruangan makan dan bercengkrama ringan sembari menunggu penghuni rumah berkumpul.


Acara makan malam itu berjalan dengan baik. Setelah selesai makan malam kami bertiga memutuskan menghabiskan malam di club lagi.


Tak berapa lama kami sampai di tempat itu dan seperti pada umumnya kami mulai memesan minuman. Aku meminta untuk ditemani Briana malam ini. Aku ingin menggali lebih dalam lagi apa yang dia rencanakan dengan Justin. Briana tampak cantik dan seksi dengan gayanya malam ini dengan belahan dadanya sangat menantang.


Berbeda dari malam sebelumnya saat pertama kali kami bertemu. Kini ia tak segan-segan duduk dipangkuanku dan tangannya mulai menjalar dibagian dada bidangku. Sekuat mungkin Aku menahan dari godaan tangan jahilnya.


Sean dan Marco sama sekali tidak berkomentar dengan perbuatan Briana. Aku, Sean dan Marco sebelumnya sudah mengatur rencana untuk menangkap basah kedua musuh dalam selimut tersebut.


Briana berkali-kali menuang minuman ke gelas mungil yang ada dihadapan kami dan memaksa kami bertiga untuk meminumnya. Aku, Sean dan Marco mengikuti permainan wanita itu dengan santai, agar tidak terlalu mencurigakan olehnya.


Setelah meneguk minuman itu beberapa gelas, Aku berpura-pura muntah akibat pengaruh dari minuman tersebut. Bukannya melarang, Briana malah semakin menjadi-jadi memaksaku menghabiskan minuman itu. Terlihat jelas senyum menyeringai dari bibir gadis itu.


"kau pikir semudah itu melumpuhkanku." Kataku didalam hati.


Perlahan Briana membuka jaket kulit berwarna hitam dari tubuhku. Aku masih membiarkan gadis itu berbuat sesuka hatinya, kemudian ia meminta izin untuk memakai jaketku dengan alasan kedinginan.


Mataku tak luput dari setiap gerak-gerik Briana. Tangannya mulai masuk ke dalam kantong jaketku. Sepertinya ia telah menaruh sesuatu didalamnya. Setelah beberapa menit memakai jaketku ia pun mengembalikan padaku dan meminta izin untuk keluar sebentar hendak ke toilet. Aku hanya mengangguk sembari tersenyum.


Briana salah memilih lawan jika ingin melumpuhkanku. Namun Aku tidak tahu apa motif dari perbuatannya. Perbuatannya kali ini jauh berbeda dari sifatnya yang kukenal dulu. Aku mendapat laporan dari peracik minuman beralkohol club ini, bahwa Briana menaruh sesuatu diminuman tersebut. Setelah beberapa menit menunggunya, ia tak kunjung datang. Bukannya wanita itu yang muncul, malah segerombolan Polisi datang keruangan kami.


Aku, Sean dan Marco sesaat terkejut dengan kedatangan beberapa polisi tersebut. Salah satu dari mereka menjelaskan, ada yang memberi laporan bahwa Aku membawa bubuk terlarang diclub ini. Sean dan Marco saling menatap mendengar laporan Polisi tersebut.


Aku teringat dengan saku jaketku. Apa mungkin bubuk terlarang itu yang dimasukan Briana disaku jaketku tadi. Polisi itu menggeledah satu persatu dari kami. Tiba giliranku digeledah oleh mereka. Mereka menemukan bubuk terlarang itu disaku jaketku.


Saat polisi hendak membawa kami, tiba tiba pemilik club itu datang dengan beberapa anggotanya dan mengatakan bahwa ini hanyalah jebakan dari sang pelapor. Tak ingin menciptakan keributan, kami tetap dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.


Beruntung pada saat itu Aku sudah bekerjasama dengan pemilik club yang juga temanku. Ternyata kabar itu sudah menyeruak kepermukaan, sehingga saat tiba di kantor polisi beberapa wartawan dan awak media sudah lebih dulu berada disana.


Di kantor polisi kami dimintai keterangan satu persatu. Dengan bukti yang kuat dari berbagai pihak, akhirnya Aku, Sean dan Marco dibebaskan dari tuduhan bubuk terlarang itu. Aku memutuskan mengadukan perbuatan ini kembali sebagai korban dan polisi pun akan menindak lanjuti kasus tersebut.


Setelah selesai dengan urusan itu Aku melakukan konferensi pers untuk kasus ini di depan awak media. Untuk memulihkan kembali nama baikku dan Perusahaan. Namun saat konferensi pers itu ada satu pertanyaan yang membuat dadaku sesak.


Aku terdiam sejenak dan keadaan itu tak lagi hening. Lautan manusia itu mulai berbisik satu sama lain, membuat telingaku sakit. Akhirnya hal ini terkuak tanpa diminta. Aku tak tahu untuk berkomentar apa, namun sebisa mungkin Aku masih dalam keadaan tenang.


Dengan percaya diri, Aku memberi klarifikasi tentang hal ini. Aku membenarkan apa yang dikatakan oleh salah satu awak media itu terkait tentang Naina. Saat itu juga Aku menjelaskan asal usul Naina dan kenapa wanita itu menjadi seperti itu. Aku menyebut keluarga Pradipta menjadi salah satu penyebab dari semua penderitaan Naina. Usai menyelesaikan klarifikasi Aku berlalu dari tempat itu dan pulang ke rumah.


***


Setibanya di kediamanku Mama dan Papa menyambutku sembari bertanya tentang kejadian itu, Aku menjeleskan bahwa semua sudah baik baik saja. Namun Aku tak melihat Naina, kemudian Aku bertanya pada Mama. Ternyata Naina sudah tahu tentang kejadian ini dan pengakuanku tentang dirinya lewat berita di televisi.


Aku merasa kasihan dengan dirinya terkait masalah ini. Aku mencari Naina dikamarnya. Benar saja Naina duduk ditepi ranjang itu seraya menangis. Aku menghampirinya dan memeluknya. Tangisan itu semakin kuat saat aku memeluknya. Aku mengusap cairan bening itu dari wajah sembabnya.


"Aku ada bersamamu Naina, tenanglah. Kau akan menjadi istriku. Takkan kubiarkan siapapun menyakitimu."


Tangisan itu perlahan mereda. Aku tahu Naina merasa minder dan tertekan dengan statusnya dimasa lalu. Usai menenangkan Naina, Aku menyuruhnya untuk istirahat.


***


Pagi itu Aku mendapat laporan bahwa Briana sudah ditahan oleh pihak kepolisian atas kasus penipuan dan pencemaran nama baik. Sebenarnya Aku tidak tega dengan keadaan ini, namun Aku ingin melihat Justin keluar dari sarangnya.


Aku juga mendengar dari beberapa rekan bisnisku yang memutuskan kerja sama dengan perusahaan milik Pradipta terkait Naina. Keluarga Pradipta itu sedang gencar saat ini karena ulah Justin yang berkerja sama dengan Briana.


Mendengar kabar baik itu dengan semangat Aku berangkat ke kantorku. Aku menuju garasi dan melajukan kendaraanku dengan kecepatan sedang. Tak berapa lama Aku tiba di kantor.


Saat melewati beberapa karyawanku, tak sengaja indra pendengaranku menangkap cerita tentang masa lalu Naina. Aku berhenti dan berhadapan dengan mereka. Mereka tertunduk melihatku yang menatap dalam pada mereka.


"Kau! Silakan angkat kaki dari perusahaanku sekarang juga! Titahku sembari menunjuk orang yang menggosip tentangku tadi.


Dengan kepala yang ditekuk ia mengumpulkan barang-barangnya dan kemudian berlalu dari hadapanku. Beberapa diantara karyawan itu terdiam dan menunduk. Aku berlalu dari hadapan mereka menuju ruanganku.


Sean sudah lebih dulu tiba di ruangan. Melihatku datang ia menjelaskan tentang kabar yang kudengar tentang penangkapan Briana dan perusahaan Pradipta. Aku merasa puas dengan kemenangan yang tak terduga ini. Setelah berbincang beberapa saat, akhirnya Aku dan Sean melanjutkan aktifitas kami seperti biasa.