
"Lohh kamu kok nggak makan nak?" Tanya mama Mela.
"Iya nanti aja ma, biar Qian duluan" jawab Dilla lalu melanjutkan kegiatan nya yaitu menyuapi Qian.
Tak lama kemudian, Ara dan Rifqi datang ke meja makan bersama.
"Maaf terlambat" ucap Rifqi yang dibalas papa Reza dengan senyuman mengejek.
Rifqi yang paham dengan tatapan mertua nya itu hanya mampu menggaruk tengkuk nya yang tak gatal.
"Sini Dil, biar aku aja yang nyuapi Qian" ucap Ara pada Dilla.
"Ngga usah Ar, biar aku aja. Kamu makan gih" jawab Dilla.
Ara pun menyiapkan makan untuk suami nya lalu untuk diri nya sendiri.
Mereka semua pun kecuali Dilla makan dengan tenang.
Makanan Qian sudah habis tak bersisa.
"Wahh ponakan aunty pinter banget sihh" Dilla mencium gemas pipi keponakan nya itu.
"Buruan makan nak" mama Mela mengingatkan Dilla.
"Iya ma" Dilla segera mengambil makanan lalu memakan nya hingga tandas.
Mereka semua kembali ke kamar nya masing masing.
Aldy melemparkan sesuatu pada Dilla.
Dengan sigap Dilla menangkap barang yang di lemparkan Aldy itu.
"Apa ini mas?" Tanya Dilla ketika melihat tablet pil di tangan nya.
"Itu adalah pil penunda kehamilan. Aku tak mau sampai kau hamil anak ku" ucap Aldy.
Deg
Deg
"Apa semenjijikan itu diriku ini? Bahkan aku sudah memberikan mahkota ku padanya, tapi ternyata tidak membuat sikap nya berubah padaku" batin hati Dilla kecewa dengan ucapan Aldy.
Dilla terus berusaha menahan air mata nya hingga mata nya terasa pedih.
Aldy keluar dari kamar nya menuju ke ruang kerja nya.
Dilla mulai menangis terisak. Dia memandangi wajah nya di hadapan cermin kamar nya.
"Bagaimana cara ku agar bisa mendapatkan cinta nya" batin Dilla.
"Ara, aku akan bertanya Ara saja" gumam nya semangat.
Dilla segera menghapus air mata nya lalu keluar kamar.
Dilla menuju ke taman, tempat Ara berada.
Saat melihat Ara, ia juga melihat Rifqi dan juga Qian sedang bersama Ara.
Dilla memutar badan ingin kembali ke dalam mansion.
"Dilla!" Suara panggilan dari belakang tubuh Dilla yang tak lain adalah Ara.
"Sini" ajak Ara.
Dilla langsung menganggukan kepala nya lalu berjalan mendekati Ara dan juga Rifqi.
"Kamu ngapain tadi, kok jalan sendiri an aja?" Tanya Ara.
"Nggak papa kok, cuma pengen jalan jalan aja" jawab Dilla.
Ara melihat ada kebohongan di mata Dilla.
"Mas, kamu bisa ke kamar duluan nggak sama Qian? Aku mau ngomong berdua sama Dilla"
Ucap ara kepada Rifqi.
Rifqi menggendong Qian dan mengajak nya kamar.
"Katakan padaku Dil, bahwa kamu sedang tak baik baik saja"
Dilla hanya tersenyum kepada Ara.
"Bolehkah aku bertanya?" Tanya Dilla
Ara mengangguk
"Bagaimana dulu Rifqi bisa mulai menerimamu Ar?" Tanya Dilla.
"Sikap mas Rifqi mulai baik padaku saat ia tau bahwa aku sedang hamil anak nya" ucap Ara.
"Apakah berarti aku juga harus mengandung anak mas Aldy dulu?"
"Setiap manusia punya prinsip yang berbeda Dil, hanya ada 2 kemungkinan saat kau mengandung anak kak aldy. Pertama, dia akan menyayangimu atau kedua, dia akan semakin jauh dari jangkauan mu" jawab Ara.
"Tapi aku yakin, kak Aldy akan lebih menyayangimu saat nanti aku hamil. Karna menurutku mas Rifqi dan kak Aldy adalah 2 orang yang tak jauh beda sikap nya, jadi aku yakin dia akan menerima mu dan anak mu suatu hari nanti" sambung Ara.