Cinta Tuan Arogan

Cinta Tuan Arogan
Timbul Curiga 2


Pagi harinya saat dikantor Aku menghubungi Sean untuk mencari tahu tentang kedatangan Brianna. Sean segera melakukan tugas yang kuberikan padanya. Tak butuh berapa lama akhirnya informasi itu pun sudah dikantongi Sean.


Informasi yang kuterima dari Sean mengatakan apa yang dikatakan Briana itu benar adanya. Bahwa perusahan itu sudah lama bangkrut dan Briana menjadi tulang punggung keluarga saat ini.


Meski informasi yang didapat Sean sudah seratus persen akurat, namun hatiku berkata lain. Masih ada sesuatu yang janggal menurutku. Pagi itu Aku berharap Briana datang ke kantorku, mengingat semalam Aku memberikannya kartu nama. Aku terus saja terpikir dengan Briana.


Pucuk dicinta ulam pun tiba, itulah peribahasa yang pas dengan keadaan saat ini. Briana datang ke kantorku.


"Akhirnya kau datang juga Bri...." Kataku sembari menyalam tangannya.


Wanita berkulit sawo matang itu tersenyum sembari duduk dikursi yang berhadapan denganku.


"Berapa yang kau inginkan? Tulislah nominalnya di sini."Kataku sembari memberi lembaran cek padanya.


Briana nampaknya antusias dengan cek yang kutawarkan padanya. Entah karena Mamanya atau ada hal yang lain. Setelah memberikan lembaran itu padaku, ia hendak berpamitan pulang.


Aku tak mengizinkannya pulang begitu saja. Aku menawarkan makan siang padanya. Ia pun menurut. Kami pun segera berlalu dari kantorku menuju restoran


Setelah makan siang selesai Aku berniat mengantar Briana kerumahnya, namun dia menolak dengan berbagai alasan. Aku pun tak memaksa kehendakku padanya.


Saat Briana pulang, Aku tak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Aku mengikuti perjalanan Briana dari belakang. Aku ingin cari tau ke mana wanita itu pergi.


Sejak mengikutinya dari awal Aku sudah bisa menebak Briana akan ke mana. Ya... Dia menuju kediaman Justin. Dari kejauhan Aku melihat Justin sudah menunggu di depan gerbang miliknya.


Wanita yang kusangka baik itu pun bercerita dengan antusias pada Justin. Entah apa yang mereka rencanakan terhadapku. Aku tersenyum tipis melihat sepasang makhluk itu. Tak mau berlama-lama Aku berlalu dari sana dan pulang ke rumah.


***


Setibanya Aku di rumah, Aku langsung menuju kamarku. Saat hendak berjalan ke kamarku Aku melewati kamar Naina. Lain dari biasanya Aku melihat wanita itu tengah berdandan di depan cermin, ia juga memakai lipstik tipis di bibirnya. Menambah kesan cantik pada wajahnya. Aku memperhatikan sembari tersenyum. Tak sabar hanya melihat wanita itu berdandan, Aku pun masuk dan berdiri tepat dibelakangnya.


Naina terkejut dan menghentikan aktifitasnya sejenak. Aku memegang pucuk kepalanya dan mensejajarkan kepalaku di telinganya.


"Kau... Sudah sangat cantik Nona." Bisikku di telinga wanita yang akan menjadi istriku itu.


Wajahnya merona seketika dan ia tersenyum dan menatapku dari cermin miliknya. Usai menggoda Naina Aku beralih ke kamarku.


Aku duduk di tepi ranjangku dan mulai mengganti bajuku. Tiba-tiba Naina datang menghampiriku. Aku tahu dia akan meminta sesuatu dari gelagatnya.


"Apakah kau menginginkan sesuatu Naina?" Tanyaku menyelidik dengan rasa penasaran.


Wanita itu masih saja terdiam di hadapanku. Aku berdiri berhadapan dengan Naina tanpa menggunakan baju. Naina terlihat gagap saat itu.


"Tuan... Aku menginginkan sesuatu...."


"Apa itu... Katakanlah."


Ia ragu untuk melanjutkan perkataannya. Ia masih melirikku terus menerus.


"Kau tidak usah menatapku seperti itu Naina. Aku tahu aku ini tampan." Kataku dengan percaya diri.


Naina masih saja terdiam tak merespon ucapanku padanya. Melihatnya yang masih diam Aku pun mulai mendesaknya agar ia tidak berbasa-basi dariku.


"Aku ingin make up Tuan."


Lagi lagi dia terdiam. Entah apa yang menjadi maksud tujuannya padaku. Aku sudah yakin akan ada yang lebih dari make up itu. Aku berusaha tenang menghadapi fase mengidam mama muda ini. Aku memaksanya berbicara, ia pun mengutarakan maksudnya tentang make up itu. Mulutku menganga mendengar permintaan aneh itu. Bagaimana tidak, Naina bilang ia mau merias wajahku dengan make up.


"Ah... Tidak... Tidak... Permintaan apa itu?" Kataku sembari menolak permintaannya.


Naina terus saja mendesakku untuk mengabulkan permintaannya. Aku jengah dengan permintaanya kali ini. Karena tak ingin membuatnya menangis. Aku pun memikirkan seribu cara untuk mengantisipasi masalah ini. Akhirnya ide briliantku pun muncul.


Aku memerintahkan Naina untuk mengambil perlengkapan make up nya dan diam dikamarku, sampai aku tiba. Naina bingung namun ia menurut saja. Aku berlalu dari sana dan menuju garasi kemudian melajukan kendaraanku dengan kecepatan tinggi. Tak berapa lama Aku tiba di kantor, Aku langsung menuju ruanganku mencari keberadaan Sean. Ya... Sean akan menjadi korban berikutnya.


"Se...." Sapaku padanya yang tengah sibuk membaca koran.


Melihatku datang ia pun berdiri dan memberi salam padaku. Aku terkekeh sendiri membayangkan Sean di rias oleh ibu hamil itu.


Melihatku yang tertawa Sean heran dan mendekatiku sembari meletakkan punggung tangannya dikeningku.


"Woiiii... Sehat kan lu? Udah minum obat rabies?" Tanya Sean bertubi-tubi. Aku menepis tangannya dari keningku.


"Se... Kau akan kerja di rumahku hari ini, Aku akan membayarmu tiga kali lipat dari gajimu biasa."


Mendengar jumlah nominal yang kutawarkan padanya ia mengangguk setuju. Aku dan Sean pun beranjak dari kantor menuju rumah. Sean sama sekali tidak curiga dengan pekerjaan yang kutawarkan padanya.


***


Tak berapa lama kami sampai di rumah mewah bertingkat itu. Aku dan Sean langsung menuju kamarku. Sean terkejut melihat Naina yang sudah lebih dulu berada di kamar.


Diatas ranjangku sudah tersedia alat rias dan make up milik wanita. Aku pun membawa Sean ke hadapan ibu hamil itu. Naina tampak mengerti, ia tak banyak tanya. Namun Sean masih terdiam, lelaki yang sebaya denganku itu masih bingung.


"Se... Naina kan lagi ngidam. Nah dia pengen merias laki-laki. Nah lu udah tau kan tugas lu disini?" Kataku sembari menahan tawa.


Sama halnya denganku saat pertama mendengar permintaan Naina, Sean terpelongo dan melirik ke arahku dan Naina secara bergantian. Sedangkan Naina masih setia dengan wajah datarnya, seolah-olah tak melakukan kesalahan apa pun.


Akhirnya dengan wajah ditekuk Sean pasrah dengan keadaan kali ini. Sean duduk di depan cermin dan Naina mulai heboh dengan peralatan makeupnya. Melihat Sean yang berada di depan cermin, Aku tertawa terbahak-bahak. Wajah datar dan pasrah Sean tergambar jelas di depan cermin itu.


Naina mulai melukis wajah Sean dengan make-up miliknya, ia tampak bahagia dengan pekerjaannya kali ini. Aku tepat berdiri di samping Naina. Jangan tanyakan bagaimana keadaan Sean saat ini. Pria bertubuh atletis itu terlihat pasrah dan tak sanggup untuk berkomentar banyak.


"Burung lu yang berulah, gue yang kena getahnya." Protes Sean jengah.


"Anak lu belum lahir aja udah jahilnya gak ketolongan gini, apalagi kalau udah lahir." Celotehnya lagi.


Tawaku menggema di ruangan kamarku, semakin membuat Sean jengkel. Aku tak ingin menyiakan pemandangan langka ini. Aku mengambil ponselku dan mulai mengabadikannya lewat video.


Naina sangat antusias dengan barang percobaannya kali ini. Ia tak banyak bicara. Ia sibuk menata wajah Sean dari kata tampan menjadi Cantik. Lipstik berwarna merah mencolok itu berhasil menempel dibibir Sean. Lagi-lagi Aku terkekeh geli. Aku tak bisa membayangkan jika Aku dalam posisi Sean.


Setelah Selesai bagian wajah, Naina beralih ke bagian rambut. Ia mengikat rambut Sean dengan karet warna warni. Bukan hanya satu tapi ada beberapa ikatan yang menjulang tinggi di bagian kepala Sean.


Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala sembari tertawa. Sesekali Aku menahan tawa. Sean kelihatan cantik dengan make-up yang di lukis Naina di wajahnya. Setelah beberapa menit akhirnya Naina menghentikan aksinya. Ia tersenyum melihat hasil riasan yang menempel rapi di wajah Sean.


"Tuan... Tolong foto kami berdua." Pinta Naina dengan rasa tak bersalah sama sekali.


Tampilan Sean sangat menggelitik bagiku, bagaimana tidak seorang pria berdandan ala wanita dengan balutan Jas. Aku mengabadikan beberapa foto kami bertiga. Naina terlihat puas dengan aksinya kali ini. Melihat wanita itu santai santai saja, Aku mulai bertanya dalam hati apakah anakku yang dikandung Naina perempuan? Tapi sudahlah... Perempuan atau laki-laki sama saja bagiku.