Cinta Tuan Arogan

Cinta Tuan Arogan
Naina 2


Aku masih terpatung melihat Naina berlalu dari hadapanku, sedangkan Mama hanya menoleh sesaat kearah Naina. Seiring Naina berlalu, Mama pun ikut berlalu.


Aku merasa bersalah dengan ucapan yang kulontarkan pada Mama perihal Naina. Dengan kecepatan sedang mobil sportku melaju membelah jalanan yang padat. Aku masih memikirkan Naina, bagaimana perasaannya saat Aku mengatakan hal demikian.


Jelang tiga puluh menit, Aku sampai dikantor dan langsung menuju ruanganku. Aku melihat Sean yang lebih dulu sampai. Sean melihatku datang, dan memberikan salam padaku. Sembari tersenyum Aku membalas sapaan Sean. Kami pun sibuk dengan tugas kami masing-masing.


"Se... Bagaimana mengenai kabar pelarian dana itu?"


Aku bertanya perihal dana yang tempo lalu ditelan situa bangka itu. Sean menjelaskan pelarian dana tersebut. Aku manggut-manggut mendengar penjelasan Sean.


"Bekukan seluruh aset situa bangka itu sekarang!"


Sean langsung menurut dengan perkataanku. Ia melaksanakan seperti yang kuperintahkan. Sean mengacungkan jempolnya padaku dengan wajah tersenyum menandakan tugasnya selesai.


Beberapa jam berlalu, jam istirahat pun tiba. Aku memutuskan untuk pulang kerumah. Sejak pagi tadi pikiranku hanya pada Naina. Aku mulai membereskan perlengkapanku dan menuju parkiran. Sembari merapikan tasku, Aku melihat Sean dan pamit padanya. Ia hanya terdiam tanpa menjawab.


\*\*\*


Sesampainya dibangunan mewah itu, Aku memarkirkan mobilku di garasi. Aku masuk kerumah, Aku mengedarkan pandanganku diseluruh ruangan itu mencari Naina. Aku tak melihat Naina diruang tamu. Aku pun berlalu dan menuju kamarku, Aku melihat pintu kamarku terbuka. Setelah Aku masuk, ternyata Naina sedang membereskan lemariku.


Tanpa sepengetahuan Naina Aku mengunci kamar, didalam hanya kami berdua. Naina menyadari keberadaanku, Ia pun mulai berkemas dan merapikan isi lemari itu. Seperti melihat hantu ia cepat-cepat beranjak dari kamar. Aku merentangkan tanganku untuk menghalanginya.


"Maaf Tu-an, saya mau kembali kedapur." katanya dengan nada suara lemah.


Aku mulai menariknya dan membuatnya duduk diranjang big sizeku, Aku menyusul duduk disamping gadis itu. Aku mulai bertanya padanya tentang kejadian tadi pagi dan sampai sejauh mana ia mendengar perkataanku dan Mama.


Aku melihatnya meremas tangannya, dan manik mata itu mulai menjatuhkan cairan bening dipelupuk mata nan indah itu, Aku tertegun dan merasa iba. Aku tau aku salah, dan Aku tak mengerti dengan perasaanku saat ini. Dengan sigap Aku menghapus cairan bening dipelupuk mata itu.


"Maaf."


Kata-kata itu yang mampu terlontar dari bibirku, semakin sulit untuk berkata padanya setelah menatap matanya. Tak berapa lama Ia berdiri dan mulai berlalu dari hadapanku. Setelah ia berlalu, Aku terdiam diranjang itu.


\*\*\*


Malam pun tiba, seperti biasanya kami menikmati makan malam bersama tanpa situa bangka. Aku terus saja curi pandang dengan gadis itu.


Saat menikmati makan malam, bibi menghampiri kami, dan memberi tahu ada yang ingin bicara pada Naina diluar. Awalnya Aku tidak ambil pusing, barangkali ada temannya pikirku. Jelang beberapa menit Naina tak juga kembali, dengan rasa penasaran Aku menemui Naina. Saat hampir sampai diluar rumah, Aku seperti mendengar suara yang tak asing bagiku. Tak ingin gegabah, Aku hanya memperhatikan mereka berbicara dibalik jendela kaca itu. Aku sayup-sayup mendengar suara bentakan itu, dan memperhatikan Naina yang tertunduk.


"Plaaakkkkkkkkkkk...." Satu tamparan mendarat dipipi mulus Naina. Ketika lelaki itu hendak mulai menarik rambut Naina, Aku keluar dan berteriak pada lelaki itu sebelum sempat menarik rambut Naina.


"Heiiiiiiiiiii, hentikan!"


Aku langsung menarik lelaki itu dari hadapan Naina dan mulai mendaratkan pukulan bertubi-tubi pada lelaki yang seumuran denganku.


Dengan beberapa pukulan keras, membuatnya mengerang kesakitan. Aku menarik kerah lehernya dan mengangkatnya. Ia tersenyum licik dan mulai mengusap darah segar yang keluar dari sudut bibirnya.


"Apa mau mu hah! Bukankah sudah perjanjian bahwa kau tak bisa berbuat sesuka hatimu padanya, saat dia bersamaku!"


Dengan santai Justin menjelaskan maksud kedatangannya, ingin menuntut hutang Naina padanya. Aku mengerutkan kening mendengar perkataan Justin.


"Dasar manusia sampah! Aku akan membayar lunas hutang Naina padamu. Tapi ingat Justin, jika kau menyentuhnya seujung jari saja Aku tak segan-segan membawamu ke Markas dan hidupmu berakhir disana! Camkan itu!"


Aku masuk kerumah dan kembali dengan membawa cek kosong untuk Justin. Aku melihat Justin menulis nominal uang itu. Setelah menuliskan nominalnya Ia memberikan padaku.


Dengan licik juga, setelah Justin menyerahkan cek itu. Aku membuat perjanjian tertulis padanya. Jika sewaktu-waktu ia berulah pada Naina, maka tak ada alasan untuk membawanya ke Markas. Entah ketakutan atau tidak, lelaki itu berlalu pergi begitu saja tanpa membawa cek yang berisi nominal itu.


Aku mengejarnya dan mulai melayangkan pukulan padanya, dan memaksanya menandatangani kertas perjanjian itu. Dengan terpaksa ia menandatanganinya. Usai mendapatkan tanda tangan itu, Aku melemparkan cek itu kewajahnya. Tak butuh waktu lama, Ia pun berlalu dari hadapanku.


Aku masuk kedalam rumah dan menuju kamarku. Pertandingan baku hantam itu membuatku kehilangan selera makan. Namun saat dikamar, Aku teringat Naina. Aku melangkahkan kaki menuju kamar Naina.


Perlahan Aku membuka pintu itu, ternyata pintu itu dikunci dari dalam. Aku sudah menduga itu, Aku mengambil kunci cadangan yang berada didapur dan kembali kesana dan membuka kamar Naina.


Aku tak mendapatkan Naina disana, Aku mulai mencari keberadaan gadis itu. Saat Aku hendak melangkah keluar dari kamar, Aku melihat Naina keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit dibadannya yang mungil. Aku menelan saliva melihat pemandangan yang ada dihadapanku, melihat tubuh yang mulus dan Naina menyadari keberadaanku, langsung kembali masuk kekamar mandi.


"Keluarlah! Apa kau baik-baik saja? Aku hanya ingin memastikan itu, Aku tak akan menerkammu. Keluarlah!" Jeritku geram pasalnya baru saja benda dibalik celanaku mulai mengeras.


Kemudian Naina perlahan keluar dari kamar mandi, Aku melihat mata yang sembab diwajah itu. Aku tertarik melihat gadis itu malam ini, dengan rambut panjangnya yang basah membuatku semakin bergairah.


"Kenapa kau mandi malam-malam begini Naina,"


Ia pun menceritakan, bahwa sehabis menangis dia memiliki kebiasaan mandi. Entah kebiasaan apa itu, pikirku.


"Izinkan aku ganti baju Tu-an," ucapnya terbata-bata.


Aku tak menggubris permintaannya, dengan sigap Aku mendekatinya dan ia mulai mundur dan menyilangkan tanganya didaerah bagian dadanya.


Aku semakin mendekatinya, sampai ia tak dapat mundur lagi karena ada tembok yang menghalangi. Dengan langkah santai Aku mulai mendekatinya kembali, saat ini sudah tak ada jarak diantara kami. Ia hanya menatapku dengan wajah sendu dan sembab. Aku mulai mencium matanya yang sembab, kemudian turun mencium hidungnya sedangkan Naina tetap menyilangkan tangan dibagian dadanya menahan handuk itu.


Aku meneruskan aksiku dengan ******* bibirnya, sejauh ini tak ada penolakan darinya. Setelah puas dengan bibir itu, Aku mulai mencium lehernya dan meninggalkan jejak disana. Sembari bermain dibagian leher, Aku perlahan membuka tangannya yang menyilang. Desahannya terdengar merdu ditelingaku dan membuat hasratku tak sabar ingin menikmati lebih lama lagi.


Tak butuh waktu lama, handuk itu mulai jatuh dari tubuhnya, setelah itu Aku mulai bermain didaerah dadanya tanganku mulai menjalar kesana kemari membuatnya mengeluarkan desahan manja ditelingaku. Aku melanjutkan aksiku dengan kembali memainkan bagian bukit kembar sintal itu, sambil memainkan jariku pada daerah gua tersebut.


Perlahan jariku menelusuri daerah gua itu, Aku merasakan cairan kental dijariku. Aku menelan salivaku dan mendengarkan desahan itu berulang kali.


Setelah puas dengan itu Aku menidurkan Naina diranjangnya, Aku perlahan membuka perlengkapanku. Kemudian dengan perlahan memainkan senjataku keluar masuk kedalam gua miliknya. entah berapa kali sudah suara-suara manja itu berdenging ditelingaku. Setelah beberapa menit kemudian Aku memasukkan senjata tajam milikku kembali kedalam gua dan mulai menembakkan cairan putih kedalam gua tersebut.


Malam itu keringat berhamburan diranjang kecil milik Naina. Aku melihat Naina dengan napas yang memburu, Aku mencium keningnya dan memeluknya. Aku menatap matanya yang indah. Tanpa sadar Aku sudah melakukan ini untuk kesekian kali.