Cinta Tuan Arogan

Cinta Tuan Arogan
Terjadi lagi.


Setelah berlalu dari kamar Mama, Aku dan Naina beranjak kekamar kami masing-masing. Aku duduk dipinggir ranjang, dan mengepalkan tanganku mengingat perbuatan situa bangka dan Arletta.


Dendam ini semakin memburu, ingin rasanya membuatnya berlalu dari dunia ini. Namun melihat Mama tiba-tiba nyali itu menciut. Apalagi dengan kejadian ini Aku sangat kasihan pada Mama. Wanita itu terlalu baik untuk lelaki sebejat itu.


Mama pernah mengatakan diawal pernikahan mereka, Papa tidak pernah berperan sebagai suami yang baik. Yang ia tahu hanya mencukupi materi selebihnya ia tak mau tau, termasuk perasaan Mama.


Pernikahan ini terjadi karena perjodohan. Papa sama sekali tak menyukai Mama. Hanya saja, keluarga Mama mampu menyelamatkan Perusahaan keluarga Papa yang diambang kehancuran. Mau tak mau Ia menerima perjodohan dan melangsungkan pernikahan.


Mama juga menceritakan bagaimana saat Ia ditinggal saat malam pertama. Situa bangka itu lebih memilih menginap dirumah mantan kekasihnya, dan membiarkan Mama sendiri. Dan itu terjadi berulangkali.


Satu tahun berlalu, Mama memberitahu Papa tentang kehamilannya. Papa hanya cuek dan tak terlalu serius menanggapi. Awalnya Mama mengira ini akan jadi kebahagiaan buat Papa. Nihil, Papa sama sekali tak berekspresi selayaknya seorang Ayah yang menantikan kelahiran anaknya.


Hari hari berlalu sifat Papa makin tak karuan. Ia sering bergonta-ganti wanita. Bahkan pernah suatu kali saat peresmian Perusahaan teman Papa, situa bangka itu menggandeng wanita lain. Namun Mama masih tetap sabar akan ulahnya.


Mama sering mendapatkan perlakuan kasar darinya. Tak perduli dengan keadaan Mama yang tengah mengandung, ia sering melakukan pukulan pada Mama. Pernah suatu saat Mama mengalami pendarahan akibat tendangannya.


Mama tak pernah sama sekali mengeluh dengan perbuatan bejat situa bangka itu pada keluarga maupun orang terdekatnya. Hingga pada saat persalinan, situa bangka itu lebih memilih pergi ke luar negeri bersama wanita simpanannya dan membiarkan Mama menghadapi persalinan tanpa suami.


Mama sangat senang ketika ia tahu bahwa anak yang dilahirkannya itu Laki-laki. Ia berharap situa bangka itu senang. Setelah kepulangan situa bangka itu ke Indonesia, Mama dengan senang hati memberikan bayi kecil itu ditimang oleh situa bangka itu. Tiba-tiba saja situa bangka itu menepiskan tangannya dari tangan Mama. Ia menolak untuk menimang bayi kecil itu. Melihat perbuatannya Mama hanya bisa mengelus dadanya sembari menangis.


Situa bangka itu berkata pada Mama, bahwa ia tak menginginkan bayi mungil ini. Seketika itu juga Mama menangis dan memeluk bayi kecil itu erat sembari membanjiri bayi itu ciuman tulus dari wanita itu.


Ya, bayi itu adalah Aku. Mama menceritakan kejadian itu saat usiaku remaja. Mama berkata Aku sudah cukup dewasa untuk mengetahui apa yang terjadi didalam pernikahan mereka. Aku tumbuh tanpa kasih sayang seorang Ayah. Aku sering sekali dibentak dan dicaci maki tanpa alasan olehnya. Aku iri melihat teman-temanku yang bebas bercengkrama dengan Papa mereka. Berbanding terbalik denganku yang jarang sekali bertegur sapa dengan situa bangka itu. Hatiku hancur berkeping-keping saat ia melakukan penolakan untuk bersamaku.


Seperti itulah hari-hari yang kulalui tanpa kasih sayangnya. Hingga Aku sedewasa ini Aku sering mendengar keributan diantara sepasang manusia itu. Sering kali Aku tak sabar dengan ulahnya. Dendam ini sudah berurat dihatiku. Melihat Mama yang selalu banjir air mata akibat tingkahnya.


Otakku lelah mengingat perbuatan situa itu. Aku mulai membaringkan diri diranjangku dan berharap mimpi buruk ini berlalu.


***


Pukul 02.00


Malam itu Aku terbangun dan melirik jam dinding. Aku duduk dipinggir ranjangku sembari memainkan ponselku, berharap mata ini bisa terpejam lagi.


Saat Aku tiba didapur Aku melihat Naina dimeja makan menikmati seporsi mie instan. Asap mie itu masih menggepul didalam mangkuk itu. Membuatku penasaran dan mendekati Naina.


"Kau sedang makan apa?" Tanyaku sembari duduk disebelahnya.


Naina terkejut melihat kedatanganku. Ia terbatuk-batuk dan mengipas lidahnya dengan tangannya. Setelah itu ia menoleh kearahku dengan tatapan tajam. Ia pun berdiri dan mulai berkata-kata.


"Kenapa Tuan selalu saja begitu! Bisa tidak jangan mengejutkan tengah malam begini! Setan aja datang pake aba-aba Tuan! Katanya bertubi-tubi dengan nada marah.


Mendengar celotehan wanita itu Aku jadi merasa bersalah dan menggaruk kepala yang sama sekali tidak gatal. Aku pun tersenyum geli sembari menampilkan deret gigi putihku.


"Tidak usah tersenyum Tuan!" Imbuhnya lagi.


Mendengar itu tawaku tak dapat kutahan. Pasalnya ini pertama kali Naina semarah itu padaku. Aku hanya memperhatikan gerak-geriknya yang berceloteh ria, hatiku tak bisa berbohong dengan gadis ini. Aku terhibur dengan omelannya.


Melihatnya yang masih jutek membuatku geram. Aku berdiri dan berhadapan dengannya. Aku mulai menyentuh bibirnya dengan jariku dan mengusap perlahan bibir mungil itu. Ia sempat mundur perlahan.


Aku menahannya dengan menaruh tanganku di pinggangnya dan menariknya kearahku. Ia mulai menutup matanya membuatku semakin gemas dengan wanita dihadapanku saat ini. Perlahan Aku mendaratkan ciumanku dibibirnya dan mulai memainkan perlahan.


Naina mulai menikmati ciuman itu, Aku melanjutkan kebagian leher yang berlipat itu. Setelah puas dibagian itu, tanganku mulai bergerilya dibagian dadanya yang sintal kemudian Aku melanjutkan kembali ciumanku dileher itu membuat wanita itu mendesah.


Desahannya terdengar manja ditelingaku, membuat sesuatu dibawah sana berdiri tegak tanpa aba-aba. Tiba-tiba Aku tersadar bahwa kami sedang berada di dapur. Aku menghentikan aksiku dan Naina mulai membereskan bajunya yang sudah tak beraturan. Naina perlahan berlalu dariku. Saat Naina melangkah beberapa langkah Aku menarik tangan Naina dan mulai menggendongnya ala bridal style dan membawanya kekamarku. Aksiku membuatnya terkejut ia sempat melakukan perlawanan namun dengan perlahan ia hanya pasrah.


Saat tiba di kamarku Aku membaringkannya dengan perlahan dan dengan cepat Aku membuka seluruh perlengkapanku. Naina hanya terdiam dan membalut dirinya dengan selimut. Aku merampas selimut itu dari tubuhnya dan mulai membuka seluruh pakaiannya. Sekarang Aku dan Naina tanpa sehelai benang, Aku menelan salivaku perlahan melihat pemandangan yang ada dihadapanku.


Aku memainkan bibirku dibagian dadanya yang sintal. Permainan itu membuat wanita itu mendesah. Lagi-lagi desahan itu membuatku semakin bergairah. Tak sampai disitu tanganku menjalar di area bawah hingga jariku mulai basah dengan cairan dari dalam goa itu.


Aku bermain lama di area bawah itu dengan tanganku. Lagi-lagi Naina mengeluarkan desahan manja. Tak sabar dengan desahan itu perlahan Aku mulai memasukkan senjataku kearea pertempuran itu dan mulai bergulat disana. Keringat mulai bercucuran akibat pertempuran indah itu.


Tak terasa satu jam sudah kami melakukan pertempuran hebat itu. Aku pun terkapar diatas tubuh Naina setelah cairan itu berhasil memasuki area itu. Hembusan nafas Naina terdengar jelas ditelingaku. Aku pun Mulai memindahkan diri tepat di sampingnya.


Perlahan Aku menutup tubuh kami kedalam satu selimut tebal. Aku memeluknya dan tak lupa mencium keningnya lama. Naina membalas pelukanku dengan meletakkan tangannya dipingganggku. Senyum pun terbit dari bibirku melihat aksi Naina. Kami pun melanjutkan tidur kami yang sempat tertunda dengan tidur yang pulas.