
Mama Mela terkejut saat tau bahwa menantunya tak sadarkan diri.
Aldy duduk di sisi ranjang, ia mengusap pucuk kepala istrinya lalu menyematkan rambut istrinya ke belakang telinga.
Ia mengambil tisu untuk mengusap dahi Dilla yang telah mengalir keringat dingin.
Tak lama kemudian, dokter datang dengan segala peralatan nya. Dokter farah selalu sedia infus karna sudah tau kondisi Dilla.
Dokter itu pun memasangkan infus di punggung tangan Dilla.
"Nyonya Dilla kelelahan yang menyebabkan tubuhnya mengalami dehidrasi. Untung saja ini cepat ditangani jika tidak bisa berbahaya untuk nyonya Dilla, sebaiknya jika sudah sadar, beri nyonya Dilla air putih yang cukup" jelas dokter itu.
Aldy mengangguk
Beberapa saat kemudian, dokter itu pulang.
Dilla mengerjapkan mata nya melihat ke sekelilingnya.
Tidak ada orang di dalam ruangan itu.
Ceklek
Suara pintu terbuka dari arah kamar mandi.
"Kau sudah sadar?" Tanya Aldy yang sudah dengan penampilan segar nya.
Aldy segera duduk di sisi ranjang. Ia mengambil segelas air putih di nakas. Ia membantu istrinya itu untuk duduk. Aldy membantu Dilla meminum segelas air putih.
"Kenapa kau tidak bilang kalau sudah lelah?"
"A aku ha hanya tak mau merepotkan mu mas"
"Lain kali jangan seperti itu, berbahaya untukmu sendiri dan anak kita"
Deggg
Pertama kali nya Aldy menyebut "anak kita" pada anak yang sedang dikandung nya.
Dilla mengangguk lalu memeluk pinggang suaminya yang sedang duduk disamping Dilla yang sedang berbaring. Aldy mengusap rambut Dilla.
Perlahan pelukan itu merenggang. Aldy segera melepaskan pelukan itu.
"Mau kemana mas?" Tanya Dilla saat suaminya beranjak berdiri.
"Diamlah disitu dulu"
Beberapa saat kemudian, Aldy kembali dengan sepiring nasi lengkap dengan lauk pauk nya.
"Makanlah" ucap Aldy saat sendok yang terisi nasi itu sudah berada di depan bibir Dilla.
Aldy mengembalikan piring itu ke dapur. Ia kembali ke kamarnya. Ia membantu istrinya untuk berbaring.
Aldy merengkuh tubuh istrinya dan membiarkan istrinya tidur di dekapan nya. Dilla pun tidur dengan wajah ia sembunyikan di dada bidang suami nya.
Beberapa minggu kemudian
Kandungan Dilla memasuki usia 32. Ia sudah sering merasakan pegal di bagian pinggang nya karna kandungan nya yang semakin membesar.
Di kamar
Dilla merasa jenuh jika harus dikamar terus. Ia memandangi ke arah luar jendela kamar nya.
Tiba tiba terbesit ide di kepala nya. Dilla segera ke lantai bawah dengan menggunakan lift.
Tujuan kakinya melangkah adalah dapur.
Yap benar, Dilla akan membuatkan makan siang untuk suami nya.
Beberapa saat kemudian, makanan yang dimasak Dilla telah selesai. Ia memasukannya ke kotak makanan.
Dilla segera ke lantai atas lagi untuk mengganti baju nya.
Baju Dilla
Setelah selesai, ia berjalan ke pintu luar.
"Loh kamu mau kemana nak?" Tanya mama Mela yang sedang duduk di teras rumah.
"Dilla mau nganter makan siang ke kantornya mas Aldy ma"
"Nggak usah nak, nanti kamu kelelahan terus pingsan" ucap mama Mela.
Walaupun HG yang dialami Dilla sudah tak ada, namun saat kelelahan Dilla selalu saja pingsan.
"Doa in aja Dilla sehat sehat ma" ucap Dilla lalu menyalami mertuanya.
Mama Mela hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya heran.
"Anak dan menantu sama sama keras kepala" batin mama Mela.
MAAF GUYS, KALO BACA NOVEL AKU TOLONG IKUTI ALUR YANG AKU BUAT. JANGAN MENGHUJAT AUTHOR KARNA ALUR NYA GAK SESUAI DENGAN KEINGINAN KALIAN. AUTHOR BERUSAHA BUAT ALUR INI GA KETEBAK.. JADI PLIS JANGAN MENGHUJAT AUTHOR APALAGI PAKE KATA KATA YANG KASAR,
AUTHOR BAKAL BERUSAHA KASIH YANG TERBAIK BUAT KALIAN❤️ MAKASI BUAT YANG UDAH DUKUNG AUTHOR