
Sejak kedatangan Naina dirumah, Mama tak lagi merasakan kesepian. Bagaimana tidak, si tua bangka datang dan pergi sesuka hati. Ditambah denganku yang sibuk dengan aktifitasku diluar kantor.
Semenjak pertikaian terjadi dirumah, aku jarang sekali untuk berdiam diri dirumah. Sejak saat itulah aku mulai urak-urakan dan menghabiskan waktu di diskotik. Tidak sah rasanya jika tidak bermain diranjang bersama wanita pilihanku. Setelah puas diranjang aku tak pernah lupa memberi sejumlah uang.
Pagi ini Mama memberitahu bahwa situa bangka akan sampai di Indonesia setelah beberapa bulan menyelesaikan urusan perusahaan di Negeri Paman sam itu, Aku pun hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Mama.
"Kamu jangan cuek sama Papa mu ya Ndre," ujar Mama sembari menatap ke arahku.
Aku tak menggubris perkataan Mama, entah kenapa permintaan Mama agak sulit kuterima, namun harus kuturuti. Aku hanya fokus dengan makanan yang ada dihadapanku saat ini.
"Ini masakan Mama?" Tanyaku heran.
"Gak, ini Naina yang masak. Kenapa? Enak kan?" jawab Mama sembari mengunyah makanannya.
Aku kembali manggut-manggut sembari mencari kebereradaan Naina.
"Naina kemana Ma? Kenapa tidak sarapan dengan kita?"
"Tadi katanya udah sarapan duluan Ndre,"
Seusai Sarapan pagi aku pun bergegas ke Kantor, Aku melihat Naina sedang menyiram tanaman. Dia menoleh kerahku sembari tersenyum, Aku membalas senyumannya sembari memberi ucapan selamat pagi untuknya.
***
Di kantor Aku sudah disambut dengan isu isu mengenai keuangan yang anjlok. Dengan sigap Aku bertanya langsung pada Sean agar bisa mengantisipasi sebelum berakhir parah.
"Se, apa yang terjadi dengan keuangan perusahaan? Bukankah selama ini aman-aman saja?" Tanyaku penasaran.
"Begini Pak, sepertinya ada yang mengambil alih uang perusahaan Pak. Maksud saya mungkin bisa jadi Papa anda Pak." jawab Sean Hati-hati.
"Lalu kenapa bagian keuangan tak membuat laporan?" Sergahku kembali.
"Nah ini yang harus kita bahas Pak."
"Panggil bagian keuangan keruangan saya." Tukasku tegas.
***
Aku mulai geram melihat ulah situa bangka yang tak tahu diri itu, seenaknya dia mengambil dana Perusahaan untuk investasi pribadinya. Dan tak kalah luarbiasa, dia mengancam bagian keuangan.
Aku menyuruh orang suruhanku untuk menantinya di bandara agar aku bisa membawanya jauh dari rumah dan melakukan aksiku. Sembari menunggu info dari orang suruhanku aku tetap menyuruh Sean untuk memantau dan mencari tahu aliran dana yang ditelan situa bangka itu.
Secepat kilat Sean sudah mendapatkan informasi mengenai dana tersebut. Informasi yang di dapat Sean membuatku sedikit terkejut, pasalnya dana yang ditelan itu untuk menutupi kerugian perusahaan yang dia jalankan di negeri paman sam itu.
"Bukankah selama ini dana Perusahaan itu baik-baik saja? Kenapa bisa terjadi seperti ini." tanyaku serius.
"Kita dengar saja penjelasan dari orangtua anda Pak." sahut Sean seraya menelepon seseorang.
"Pak, Tuan besar sudah tiba di Bandara," kata Sean memberi informasi.
"Bawa ke Markas,"
Belum sempat aku berlalu dari kantor Mama menelpon, aku menjawab panggilannya. Mendengar penjelasan Mama diseberang sana aku pun menggagalkan niatku membawa situa bangka itu ke markas. Aku tak mau ini menjadi beban buat Mama.
Sean pun menelepon orang suruhan kami untuk tidak membawa situa bangka itu ke markas.
"Hari ini kau menang Pa, tapi tidak untuk kedepan hari" ucapku dalam hati seraya menyeringai.
***
Sore itu dengan langkah semangat aku tiba di Rumah kebesaranku, Aku melihat mobil sport situa bangka itu sudah terparkir dihalaman nan luas.
Entah bagaimana Aku harus menahan kegeramanku padanya. Namun Aku harus menahan ini semua karena wanita yang melahirkanku. Aku tak ingin merubah suasana. Aku tahu Mama sangat merindukan Situa bangka ini. Cinta Mama padanya tak pernah pudar meski Ia terus tersakiti oleh Papa.
Kedatanganku disambut oleh Naina, Aku kembali melihat senyum dibibirnya. Bak kedatangan Suami disambut oleh istrinya.
"Ada yang bisa saya bantu Tuan?"
"Kau bawakan secangkir kopi kekamarku segera Naina," jawabku sembari tersenyum kearahnya.
"Baik Tuan." sahutnya.
Aku pun berlalu menuju kamarku, Aku memutuskan untuk membersihkan diri. Beberapa menit setelah Aku selesai Naina datang membawa kopi kesukaanku.
Melihatnya mundur teratur Aku langsung memegang pergelangan tangannya. Aku pun berbisik ditelinganya.
"Terima kasih, kau tak usah takut. Aku tak akan memakanmu." bisikku dengan suara halus.
Naina hanya menunduk tak menanggapi bisikanku. Namun terlihat diwajahnya dia tersipu malu. Aku hanya tersenyum melihat Naina berlalu dari kamarku.
***
Malam Ini kami makan bersama diruang makan, Aku memperhatikan gerak-gerik situa bangka itu dengan serius. Sesekali dia memandang ke arahku ku balas dengan senyuman maut.
Naina menghapiri kami dengan membawa beberapa makanan yang ia masak ditangannya. Aku menangkap pandangan situa bangka yang menyelidik pada Naina.
"Siapa dia?" Tanyanya.
"Oh namanya Naina Pa, Dia pekerja baru dirumah Kita Pa." sahut Mama seraya tersenyum pada Naina.
Situa bangka hanya manggut-manggut sambil memandang ke arah Naina. Entah apa yang ada dipikirannya saat melihat Naina.
***
Makan malam pun usai orangtuaku berlalu kekamar mereka, sedangkan Aku masih berada di ruangan ini sambil melihat Naina membereskan meja makan yang dipenuhi piring kotor.
"Naina habis ini datanglah ke kamarku, ada yang ingin ku bicarakan dengan mu."
"Baik Tuan." jawabnya.
Aku langsung menuju ke kamarku, dan duduk di ranjang big sizeku. Aku menunggu Naina sembari memainkan ponsel digenggamanku. Tanpa menunggu lama Naina datang dan membawakanku secangkir kopi tanpa kuperintahkan.
"Ini Tuan,"
"Kenapa kau membawa kopi? Aku tak memintanya," ujarku datar.
"Maaf, karena Tuan bilang ingin berbicara tak ada salahnya jika aku membawa kan ini,"
"Baiklah ... Terima kasih Naina." Sahutku
"Oh ya Naina, kau harus berhati-hati dengan Papaku, jangan terlalu banyak berbincang padanya."
"Baik Tuan." jawabnya singkat kemudian berlalu dari kamarku
***
Jam sudah menujukan pukul dini hari, namun mataku enggan untuk terpejam. Aku memutuskan untuk keruang kerjaku yang bersebelahan dengan kamar Naina.
Saat aku menuju ke arah kamar Naina, Aku melihat pintunya terbuka dan aku mendengar suara tangisan disana.
"Jangan sentuh aku Tuan," ucap Naina memohon.
Aku langsung memasuki kamar Naina, dan benar saja Aku melihat situa bangka itu menindih tubuh Naina. Sedangkan tangan Naina dikunci oleh tangannya.
Dengan sigap Aku menarik situa bangka itu dari tubuh mungil Naina. Aku mendaratkan beberapa pukulan pada situa bangka itu. Aku melihat darah segar mengalir disudut bibirnya.
"Jangan kau coba-coba mendekati wanita ini!" hardikku.
Tanpa menjawab, situa bangka berlalu dari kamar Naina. Aku mendekati Naina yang menangis. Dengan refleks Aku memeluk Naina sembari menghapus air mata dipipinya yang mulus.
" A-ku takut," ucapnya terbata-bata.
"Tenang Naina, Aku disini." Sahutku menenangkannya sembari menangkup wajahnya dengan kedua tanganku.
Aku melihat Naina gemetaran aku tak tega meninggalkannya sendiri di kamar ini. Aku memutuskan membawa Naina ke kamarku dan ia pun menuruti perkataanku. Aku berjalan disamping Naina. Naina terus saja meremas tangannya sendiri. Aku meliriknya dengan rasa kasihan.
Setibanya di kamarku Naina langsung menuju sofa yang terletak didepan ranjangku dan mulai merebahkan tubuhnya disana. Kemudian aku menghampirinya dan menyuruhnya untuk tidur diranjangku. Naina hanya menggelengkan kepalanya tampa bersuara.
Aku berjongkok dihadapan Naina yang sudah dalam kondisi duduk sembari memegang kedua tangannya yang masih basah karena keringatnya.
"Kau tak usah takut Naina, Aku tak akan mengganggumu." desisku lirih.
"Aku akan tidur di sofa." imbuhku sembari tersenyum.
Naina menatapku dengan wajahnya yang sembab, aku melihat matanya yang teduh sembari mengusap kepalanya dengan lembut.